Part 1 Masa Depan

77 3 0
                                        

Jangan mengeluh atas apa yang kau kerjakan hari ini selagi kamu masih di berusaha.

Dor! Dor!

"Heh! Annara bangun kau!" Teriakan dan gedoran pintu yang saling bersahutan menganggu aktivitas Annara yang baru menyelesaikan ibadahnya.

"Ya Allah sabarkan selalu hati Hamba." Ucapnya dalam hati setiap kali mendengar teriakan Ayahnya.

Ceklek..

"Lama sekali kau membuka pintu saja hah!, Ayah butuh uang." pekiknya lalu mengadahkan tangan meminta uang. Annara menghela nafas sejenak.

"Uang buat apa lagi Yah, Ara belum gajian." Jawabnya.

"Kau tak usah banyak tanya, tugasmu itu balas budi sama Ayah jika Ayah butuh uang kau harus kasih, mana buruan!" bentaknya membuat Annara mengelus dada sabar batinya.

"Sebentar Ara ambilin dulu Yah."

"Ah lama, minggir kau!" lalu mendorongnya sampai membuat Ara terhuyung beruntung reflek pertahanan badanya bagus sehingga ia tak sampai terjatuh.

"Dimana kau taruh uangnya hah!" teriaknya sambil membongkar laci meja.

"naah ini dia." Ucapnya menyeringai puas mendapat apa yang diinginkan lalu berjalan keluar dari kamar Ara, saat melewati anaknya yang yang setia berdiri di depan pintu Renaldi berkata "kau kerja yang rajin ya, Ayah mau bersenang-senang dulu." Lalu melenggang pergi begitu saja.

"Ohh astaga sampai kapan Ayah akan seperti ini." Ucap Ara lirih seraya memijat pelan kepalanya yang pusing tiap kali melihat kelakuan sang Ayah yang semakin menjadi, sedari tadi Ara hanya melihat tak berusaha untuk menghentikan kelakuan ayahnya yang mulai mengacak-acak kamarnya percuma saja jika ia melarang yang ada hanya akan membuat suasana tambah runyam. Untung aku simpan uang di ATM juga. Ucapnya dalam hati. setelah itu Annara mulai membereskan kamarnya dan memasak.

"Karena masih terlalu pagi, aku bakal mampir dulu nanti ke tempat Mama." Gumamnya

Annara Maishana atau yang sering disapa Ara gadis pekerja keras, murah senyum semenjak ditinggal Alm. Mamanya saat dia duduk dibangku akhir SMP jadi dia berusaha mandiri, dengan bekerja menjadi asisten rumah tangga sejak duduk di bangku SMA, sepeninggal Alm Mamanya Renaldi yang awalnya masih bersikap baik berubah menjadi orangtua yang keras apalagi usaha restoran yang dia kelola tiba-tiba mengalami kebangkrutan, membuat sikapnya semakin hari semakin seperti orang asing yang menakutkan untuk Ara. Beruntung majikan tempat dia bekerja itu adalah sahabat Mamanya yang dengan baik hati mau memberikan pekerjaan meski paruh waktu karena Ara harus pintar membagi waktu antara belajar dan kerja.

"Oh iya hampir aja Ara lupa, kalau Bu Nella minta dibikinin sayur asem." Serunya sambil menepuk pelan jidatnya. Selanjutnya dia langsung berkutat di dapur, sebelum berangkat ke kampus dia akan mampir sebentar kerumah Bu Nella, Ara begitu semangat menjalani kegiatan sehari-harinya apalagi sekarang dia sudah hampir tingkat akhir masa kuliah, beruntungnya dia mendapat beasiswa untuk kuliah meski sempat ragu, namun berkat kegigihannya dia akhirnya lolos, meski awalnya Bu Nella sahabat mamanya sekaligus majikannya berniat akan membantu membiayai kuliah Ara, tetapi dengan penuh keyakinan dia betkata bahwa dia bisa mendapatkan beasiswa. Hmm then see setiap usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil. Itulah batinnya saat dia berhasil lolos mendapatkan beasiswa tersebut. Setelah semuanya beres Ara segera bersiap-siap untuk pergi ke rumah Ibu Nella lalu berlanjut ke kampus, mengingat dia mendapat dosen yang cukup killer. Dengan pakaian sederhana ala Ara rok & baju lengan panjang serta jilbab yang cukup lebar tak menghilangkan kesan imut dan wajah cantiknya meski hanya dengan polesan bedak bayi.

"Assalamualaikum.." ucap Ara sambil mengetuk pintu sang tuan rumah.

"Waalaikumsalam,, loh nak Ara kok udah sampe pagi-pagi gini?" tanya Bu Nella

"Hehe, iya Bu maaf ya kalau kepagian terus ganggu kegiatan Ibu, ini Ara bawain pesanan Ibu kemarin." Jawab Ara dengan senyum khas sambil memberikan bungkusan sayur asem kepada Bu Nella.

"Waaah terimakasih sayang, ya ampun kamu ini selalu bikin ibu terkagum.." Bu Nella tersenyum begitu antusias menerima sayur yang dibuatkan oleh Ara, apapun masakan Ara pasti dia suka.

"Ayoo sayang masuk dulu kita sarapan bareng yuk." Ajaknya

"Eh mohon maaf Bu lain kali saja, Ara harus segera ke kampus soalnya ada kelas pagi." Ucap Ara pelan dengan raut muka tak enak, "Yah ada kelas pagi ya, hmm ya udah deh nanti sehabis pulang kuliah langsung kesini kan?" tanyanya lembut

"Iyaa bu, nanti Ara langsung kesini kaya biasanya kalau ga ada tugas kelompok." Jelasnya sembari memberi senyum lembutnya khas "Ara kalau begitu Ara pamit dulu ya Bu." Lanjutnya lalu mencium tangan Bu nella untuk berpamitan layaknya seorang anak kepada Ibu, sebagai bentuk rasa hormat dan sopan kepada bu nella yang sudah berbaik hati membantunya selama ini.

"Hmm iya sayang hati-hati ya kamu." Ucap Nella seraya mengelus kepala Ara yang tertutup jilbab dengan lembut Ara mengangguk sambil tersenyum.

"Assalamualaikum bu.. "

"Waalaikumsalam.." lalu Ara berjalan menuju sepedanya yang di taruh di halaman dekat gerbang.

****

Tin! Tin! Tin! Tiba-tiba Ara dikejutkan dengar bunyi klakson mobil yang cukup keras membuatnya sedikit berjengkit kaget. Lalu satpam dirumah itu membuka gerbang lebih lebar dan dengan segera Ara sedikit menyingkir memberi jalan untuk mobil tersebut. Namun, mobil tersebut berhenti tepat disamping Ara yang membuatnya mengernyitkan dahi bingung, akhirnya Ara menolehkan pandangannya kearah sang pengemudi, yang bertepat orang tersebut membuka kaca jendela, tampan satu kata yang terucap dalam hati Ara saat melihat sang pengemudi, namun langsung membuat Ara menggelengkan kepalanya pelan mengutuk kelakuannya maafkan Ara Ya Allah sungguh ciptaan-Mu begitu sempurna untuk dilewatkan batinnya.

"Heh kau!" ucap pemuda tersebut seraya melambaikan tangan menyuruh Ara mendekat, dengan sedikit linglung dan menunjuk dirinya sendiri.

"Kau pikir siapa lagi selain dirimu yang berdiri disitu." Ucapnya datar dan dingin membuat Ara sedikit bergidik ngeri mendengarnya, lalu perlahan Ara mendekat kearah pemuda itu tanpa babibu pemuda tersebut menyodorkan uang seratus ribuan beberapa lembar kearah Ara.

"Apa maksudnya?" tanyanya bingung

"Kau disini ingin minta sumbangankan, nih terima dari saya." Ucapnya tetap datar

apa-apaan dia pikir aku orang yang suka meminta teriak Ara dalam hati dengan sedikit kesal Ara berkata

"Maaf ya pak saya kesini bukan untuk meminta sumbangan, saya kesini karena ada urusan dengan pemilik rumah disini." Jelasnya dengan sedikit memaksakan senyum meski dalam hati kesal. Ucapan itu membuatnya meneliti penampilan Ara sekilas dari atas sampai bawah, mungkin sudah meminta kepada orang dirumah pikirnya.

"Oh jadi sudah diberi dari pemilik rumah, baiklah." Lalu menyimpan kembali uang yang tadi disodorkan dan memutup kaca mobil lalu kembali menjalankan mobilnya menuju kerumah tersebut.

Hal itu membuat Ara cengo dan menatap tak percaya sebegitunya tuh orang mengira sebagai orang yang meminta sumbangan kurang jelas apa tadi, hah membuat kesal saja batinya. Tak ingin ambil pusing Ara lalu segera mengayuh sepedanya menuju kampus. Huh! Membuang waktu saja tadi, semoga tidak telat ini batinnya masih sedikit kesal atas sikap pemuda tadi.

warning typo, btw jangan lupa vote and coment ya peace luv :*

Suara Hati Stories to obsess over. Discover now