Bab 1

396 30 12
                                    

Sebuah foto pigura berukuran 1x1 terpajang di dinding bernuansa putih, di dalam foto nampak sebuah keluarga bahagia. Siapapun yang melihat foto itu pasti akan merasakan kehangatan di dalamnya. Foto dengan 2 orang pria mengenakan jas dan 2 wanita yang menggunakan kebaya.

"Morning, mom!" Panggil seorang gadis tak lupa dengan senyum di wajahnya.

"Morning!" Balas seorang wanita paru baya yang sedang menyiapkan sarapan pagi dibantu dengan seorang pembantu yang sudah bekerja selama 12 tahun lamanya.

Gadis itu langsung duduk dan memilih makanan yang akan dimakan nya pagi ini. Saat asik memakan sarapan di depannya. Seorang lelaki menuruni tangga dan segera menuju ruang makan yang disitu sudah terdapat sang ibu dan adik perempuannya.

"Morning," sapa lelaki itu sambil mencium pipi sang ibu. Saat melihat sang adik, lelaki ini tersenyum miring lalu menyentil pelan dahinya. Membuat adik perempuannya merasa kesal sekaligus mengelus dahinya.

"Morning too," balas sang ibu. "Jangan ganggu adikmu."

"Sorry. Dad dimana mom??"

"Diluar, sarapan dulu," ucapnya lalu memberikan piring dengan satu centong nasi diatasnya.

Andrew Arsenio dan Andrea Angela. Itulah nama kedua saudara kembar itu. Mereka lahir dalam jarak 15 menit. Wajah mereka bisa dibilang lumayan mirip dari warna mata, warna rambut, warna kulit, dan bentuk hidung. Hanya saja mata dan bibir Andrew mirip ke Letta sedangkan mata dan bibir Andrea mirip ke Alan, sang ayah.

Walaupun saudara kembar sifat mereka tak pernah akur, Andrew selalu menjahili Andrea membuat sang adik merasa kesal setiap harinya. Yang bisa memisahkan mereka hanyalah Letta, sang bunda.

     Ruang makan diselimuti keheningan hanya terdengar suara dentingan sendok dan piring. Selesai sarapan kedua saudara itu langsung keluar menuju mobil Lamborgini Veneno bewarna hitam.

"Dad," panggil keduanya.

"Udah siap?" Tanya sang ayah lalu menutup surat kabar. "Masuk mobil."

"Oke."

Setelah kedua saudara itu masuk mobil Letta keluar dan langsung menuju Alan, tak lupa dengan membawa dasi yang sudah dipilihnya.

"Nanti malam mungkin aku lembur," ucap Alan sambil memandang Letta dengan lekat. Wanita yang selalu dipandangnya setiap hari selama 19 tahun ini.

"Kenapa?" Tanya Letta bingung.

"Laporan di kantor numpuk."

"Yaudah gapapa", jawab Letta sambil memperbaiki dasi Alan.

Setelah dasi itu terpasang tapi, Letta menepuk bahu Alan untuk menyingkirkan debu.

"Aku sama si kembar pergi dulu," ucapnya sambil mengecup kening Letta.

"Iya, hati-hati."

     Segera Alan menuju mobil, memasukinya dan mengendarainya keluar rumah. Setelah mobil Alan keluar dan tidak terlihat lagi Letta masuk dan segera bersiap siap menuju cafe. Cafe tersebut tidak lain adalah milik Letta. Baru dibangun sekitar 3 tahun yang lalu, tentu Letta tak ingin hanya menjadi ibu rumah tangga yang harus selalu berada di rumah. Ia lebih memilih mengurusi sebuah cafe.

GARDENIA [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang