PROLOG

841 35 1
                                        


10 tahun yang lalu

Menjadi kenangan terburuk yang pernah terjadi, bagi anak perempuan yang masih kecil saat itu. Yaitu, Anzara Shelvina Sanjaya yang biasanya dipanggil Zara atau Ara.

Waktu itu, umur Zara masih menginjak 9 tahun. Masih terlalu belia baginya untuk mengetahui rahasia orang dewasa.

Namun, ada suatu hari dimana kejadian buruk itu malah menjadikan Zara merubah sikap dan cara berpikir sekarang. Saat itu tepatnya, mereka sekeluarga sedang berkunjung ke rumah Kakeknya di Bandung.

Zara seperti anak pada umumnya dia ceria, dia ingin tahu apapun, dia suka bermain-main. Apalagi, dia bertemu dengan Kakek Torni. Itu, hal yang paling Zara senangi. Semua itu karena Kakek Torni sangat menyayangi cucunya, Zara.

Kakek Torni selalu memberikan apapun yang Zara inginkan. Wajar saja, Zara senang bertemu dengan Kakek Torni.

🕳️🕳️🕳️

Pada suatu malam, bisa dianggap malam itu tak seperti hari-hari biasanya. Zara sudah beberapa kali mencoba untuk memejamkan matanya agar segera tertidur. Tapi, dirinya tetap tidak bisa. Zara nampak terlihat gelisah hari itu.

Padahal, waktu itu jam sudah menunjukkan pukul 9 malam yang biasanya, Zara sudah tertidur lelap.

Zara memilih menyenderkan punggung, pada dinding yang menempel pada salah satu senderan di ujung kasur.

Dengan menyalakan televisi, jelas dengan volume agak kecil agar Zara tak diketahui kedua orangtuanya. Bahwa, dirinya belum tidur.

Pranggg...

Tatapan mata Zara langsung tertuju pada pintu kamarnya. Dia merasa terkejut, jantungnya bahkan langsung berdegup cepat bertepatan dengan bunyi suara di luar.

Zara tak bisa lagi fokus dengan layar televisi di hadapannya. Tatapan mata Zara tak sama sekali beralih dari pintu itu, yaa dirinya sangat penasaran apa yang terjadi di luar sana.

Dengan rasa penasaran tinggi, membuat Zara memberanikan diri melangkah keluar.

Perlahan tapi pasti, Zara mulai satu demi satu melangkah hingga berhasil keluar dari kamar. Walaupun tak dipungkiri, degupan jantungnya semakin cepat setiap kali melangkah.

Mata Zara membulat seketika, rasa tak percaya muncul dengan apa yang baru dilihatnya kali ini. Dia cepat-cepat bersembunyi di balik tembok sambil mengintip apa adegan yang terjadi selanjutnya.

Pertama, Zara melihat pecahan gelas disana, sudah berserakan di lantai. Tak hanya itu, Zara juga melihat Kakek Torni, Papa dan Mamanya sedang duduk di ruang keluarga sambil mengobrolkan sesuatu.

Lalu, tatapan mata Zara tertuju pada tangan Papanya yang berdarah. Zara hanya menebak saja, kalau Papanya lah yang membanting gelas itu dengan sengaja.

"Pah, apa ada alasan yang tepat untuk tak memberikan harta warisan itu kepada Ratno"

Itu Papa Zara, Ratno Sanjaya. Dia seorang pengusaha yang dalam mengeluti bisnis selalu mencapai kata berhasil. Ambisi, dan kerja keras Ratno benar-benar luar biasa dalam hal pekerjaan.

Memang hal baik seperti itu bagus untuk diapresiasi. Tapi, ada satu kesalahan besar Ratno yaitu membuat seakan-akan uang adalah hal terpenting di hidupnya.

Bagi, Ratno hanya uang yang membuat dirinya mencapai titik bahagia di hidup ini. Itulah didikan dari Mamanya sendiri, Aniartini Zulfarah.

Didikan orangtua menjadi salah satu kunci bagi kehidupan anak-anaknya di masa akan datang

Kalimat itu, sepertinya menggambarkan seorang Ratno. Ratno yang dididik dengan cara yang salah, menjadikan setiap langkah hidupnya juga ke arah yang salah.

ONE DAY (SELESAI)Stories to obsess over. Discover now