Happy reading...
***
===
Warna langit yang kian biru menenangkan, memberi isyarat waktu sore hampir sempurna, tiba.
Kanaya menutup sebuah buku diary kecil usai menuliskan sesuatu di sana; kemudian memasukkan nya ke dalam tas berbahan dasar jins warna abu tua miliknya dengan perlahan.
Jam pelajaran sedari tadi telah usai. Dan sebagian dari siswa/i telah pulang ke rumah mereka masing-masing, mengakibatkan sekolah menjadi tampak sepi--hanya tersisa beberapa murid yang masih memiliki urusan di sekolah, dan para petugas cleaning servis yang berlalu-lalang di penglihatan.
Setelah ia melaksanakan tugas membersihkan kelas dan menulis beberapa kalimat di buku kecil miliknya, segera Kanaya membereskan barang-barangnya yang tersisa berniat untuk segera pulang ke rumah.
Usai merasa semuanya sudah beres, Kanaya menggandeng tas ranselnya dan kemudian beranjak dari tempatnya, untuk keluar dari ruang kelas.
Hingga sampailah Kanaya di penghujung kelas, Kanaya ikut menyeret salah satu sisi pintu untuk di tutup rapat olehnya.
Dan usai memastikan pintu tertutup rapat, Kanaya menyautkan besi gemboknya untuk mengguncinya, dan setelah pintu kelas telah terkunci sempurna, barulah Kanaya benar-benar beranjak meninggalkan area kelasnya dengan langkah ringan melewati koridor, seraya mencuri-curi pandang pada langit sore yang indah.
Tret...tret
Tapi tiba-tiba dari saku rok terasa getaran yang sepertinya berasal dari ponselnya--pertanda telepon masuk, membuat perhatiannya teralihkan.
Dan Kanaya rekles meraba-raba roknya, dan berikutnya ia pun langsung menggorek saku roknya untuk memastikan.
Kanaya membaca nama yang tertera pada ponselnya sesaat.
Kak Bara
Memanggil...
Beberapa detik setelahnya,
"Halo?" Ujarnya diseberang sana.
"Kak Bara mau jemput Naya?" Kanaya to the poin.
"Lo dimana?" Tanya Bara.
"Di sekolah." Jawab Kanaya seadanya.
"Papah kenapa nggak jemput Lo?" Tanya Bara lagi.
Kanaya menarik perlahan nafasnya, dan menghembuskannya perlahan. "Nggak tau, katanya lagi ada urusan."
"Oke. Tunggu gue di gerbang." Usai setelahnya, Bara yang tidak lain adalah kakak kandung Kanaya memutuskan sambungan telpon secara sepihak.
Kanaya Nugraha adalah namanya. Jutek, judes, cerewet, memiliki humor yang tinggi, dan juga ramah, bersatu dalam diri seorang gadis cantik nan unik, yang akrab disapa Kanaya ini.
Bisa di bilang Kanaya adalah anak yang cukup populer di sekolah, bernama Pencakar Langit. Padahal Kanaya sendiri sebenarnya bukanlah seorang siswi yang berprestasi dalam bidang akademik maupun non-akademik. Bahkan bukan hal baru lagi jika ketika pelajaran matematika sedang berlangsung, dia malah indah berbalut kasih dengan mimpinya.
Benar-benar contoh yang tidak layak untuk ditiru memang.
Sekolah Pencakar Langit di jadikan Kanaya sebegai tempatnya melanjutkan masa SMP-nya, yang kalau kata orang adalah detik-detik terkahir sebelum kamu benar-benar menjadi seorang remaja.
Dan sejauh ini Kanaya menjalani kehidupan SMP-nya dengan damai, tanpa ada sesuatu yang menganggu ketenangannya berpendidikan.
Kanaya hanya dua bersaudara. Dan yang tadi ditelpon itu tidak lain adalah orangnya--yang bernama lengkap Rafael Bara Nugraha.
ESTÁS LEYENDO
Imagination becomes real
Novela JuvenilMenyukai seseorang dalam diam itu memang cukup berat untuk dijalankan. Terlebih orang yang disukai itu disukai banyak orang, ingin berhenti rasanya tapi tidak bisa. Sebab hati terlalu lemah untuk dilawan apalagi dibantah. Namun apa mau di kata? Cint...
