Raja yang Agung

76 6 5
                                        

Sebelum Christopher Columbus--Sang Pelaut Eropa--menemukan rute ke Benua Amerika. Sebelum Napoleon Bonaparte bertakhta sebagai Kaisar Prancis. Di saat umat manusia tenggelam dalam tradisi barbar. Di sinilah awal sebuah kisah terukir dengan cawan keabadian.

Tepatnya 788 SM. Lahir seorang jabang bayi yang namanya abadi dalam buku-buku sejarah. Dia memimpin kerajaan yang membentang antara pegunungan Ural hingga samudra Atlantik. Orang memanggilnya Alex The Black Shadow.

Setelah 2 bulan mengepung kota Damcaus, Alex dan pasukannya menyerang dengan girang ke jantung pemerintahan negara Perse. Prajurit Yunne membobol benteng Wallvour setelah mendapat informasi titik kelemahan kota Damcaus dari mata-mata.

Perse sangat tidak berdaya saat menghadang Yunne. Alex berdiri di atas kudanya yang gagah dengan jubah dari kulit unicorn Serbia. Menonjolkan keagungannya.

Alex memacu kudanya dengan cepat tak ingin kehilangan pertempuran yang sudah direncanakannya satu tahun silam. Dengan sepasang matanya yang tajam bagaikan burung elang, dia menatap musuh-musuhnya seraya menghunuskan pedangnya. Satu prajurit Perse tergeletak karena tebasan pedang dari Alex. Belum puas dengan semua itu, Alex maju sampai front depan sambil berteriak, "Wahai, Dion dengan segala kejemawaannya. Tunjukkan hidung bengkokmu! Aku pastikan, kemenangan hanyalah milikku. Keagungan hanya tertancap pada jati diriku. Dan aku akan segera mengantarkanmu ke alam baka." Alex menyeringai.

Perse semakin terdesak, pasukan mereka seperti kambing diterkam serigala. Banyak dari mereka yang frustrasi dan tunggang langgang menjauh dari medan pertempuran. Sungguh terpukul mundur.

"Sial, dengan barikade yang hancur, kemenangan mustahil akan tetap tergenggam," Dion mengumpat. Sebelah tangannya mengepal keras. Barisan gigi-giginya yang rapi menggeretak.

"Permaisuriku, demi apa pun, aku akan mencoba menyelamatkan kerajaan ini. Harga diri kita dan para leluhur. Aku berjanji dengan darahku," tutur Dion pada permaisurinya.

"Apa maksud engkau, Yang Mulia?" Permaisuri menimpal penuh penekanan. Ia mulai cemas akan situasi yang tengah melanda. Peperangan di luar benteng istana.

"Sekarang aku akan berganti baju zirah prajurit biasa dan berperang bersama mereka. Aku tak ingin Alex menangkap dan menghinakan diriku di depan para pengikutnya jika aku mati."

Dion menghempaskan napasnya. Darahnya mengalir emosi yang deras.

"Jika aku mati dalam medan perang dan kerajaan kita terjajah sudah, ketika Alex masuk ke istana, katakan saja kalau engkau hanyalah seorang pelayan raja. Alex Si Raja Keparat itu tak mungkin membunuh wanita secantik engkau, Permaisuriku." Dion memberi siasat. Permaisuri di depannya menggeleng pelan. Bulir air mata perlahan jatuh dari kedua mata sipitnya.

"Tapi, Yang Mulia ...." Wajah Permaisuri menukik sendu. Dia mengelus perutnya yang tengah hamil muda mengandung anaknya, calon pangeran.

"Jaga dirimu, Permaisuriku .... Maafkan aku ...." Dion mengecup kening Permaisurinya sesaat. Hatinya mengucap kata perpisahan.

Permaisuri menangis tersedu. Air matanya mengalir di pipinya. Egonya ingin menahan suaminya yang akan masuk ke medan perang, namun itu tak mungkin.

Setelah memakai baju zirah prajurit biasa dan mengambil pedangnya, Dion menatap para pasukannya yang sedang terdesak. Barikadenya sudah hancur. Amarahnya memuncak.

"Dasar keparat Yunne!" Dion mengutuk.

Dion berlari menuju front depan. Membabi buta pasukan Yunne. Tekadnya seperti singa yang keluar dari kandang, siap melawan siapa yang dia pandang, menerjang bagaikan angin topan. Mematikan.

Permaisuri menengok Dion dari atas balkon istana, menangis terus-menerus sambil berkata lirih. "Bukankah engkau berjanji untuk menjadikan anak dalam kandungan ini pengganti takhta yang sah? Demi apa pun, engkau harus mempertahankan semuanya!"

Dalam kesedihan yang terlalu larut tenggelam, Vivi mendadak terjatuh tak sadarkan diri di megahnya balkon istana

Sementara itu Alex berteriak lantang menyemangati pasukannya, "Maju terus! Kemenangan sedang menunggu!"

Alex mengayunkan kedua pedangnya menciptakan gelombang serang yang siap menukik tengkorak para musuhnya. Setiap langkahnya membuat musuhnya ketakutan, tanpa disadari tiba-tiba ada busur panah yang menancap di dadanya. Alex memandang tajam mencari siapa yang sudah memanahnya, lalu dia mengambil tombak milik perajurit yang sudah mati. Diawali tarikan nafas yang dalam Alex melemparkan tombak tersebut tepat mengenai orang yang dibidiknya.

Pasukan Yunne terus mendesak Perse hingga persis di seberang istana Raja Dion. Jemawa menyambut kemenangan.

Sementara itu Raja Dion sedang mati-matian menahan pasukan Yunne. Dengan 14 sabetan pedang yang membekas di tubuhnya dan darah yang teruh bercucuran, Dion terus berperang, mencoba bertahan di front depan tanpa sepengetahuan prajuritnya kalau dia adalah raja mereka.

Sial, seorang pria prajurit lawan memacu cepat kudanya, menyabetkan pedangnya tepat di punggung Dion. Dion terkapar tak berdaya, dia berusaha bangkit mencari pedangnya yang lepas dari tangannya.

Dalam ketidakberdayaannya, Dion duduk menghadap istana sebisanya di anatara bisingnya peperangan. Berusaha mencari sosok yang dia cintai dari arahnya. Permaisurinya itu. Ratu Vivi. Dion bergumam, "Permaisuriku ..., maafkan aku ...." Seketika itu prajurit Yunne memenggal kepala Dion yang sudah tak berdaya itu. Kepalanya menggelinding entah berantah.

Perse sudah sangat terdesak, para petinggi kerajaan mencari Dion untuk mengambil keputusan antara menyerah atau menumpahkan darah seutuhnya. Namun sia-sia saja, Dion sudah mati dan Parse sungguh di ambang kehancuran.

"Sial! Di mana Raja Bodoh itu?" Salah satu petinggi kerajaan menggerutu.

"Lebih baik kita kabur saja, sebelum Raja Alex membanjiri istana ini dengan darah," jawab petinggi kerajaan lainnya yang berjiwa pengecut.

Mereka berlarian keluar istana mencari kuda untuk dibawa kabur. Namun naas, penjaga istana yang sudah frustasi mencurigai niat mereka. Karena merasa sudah dikhianati, para penjaga ini meluapkan rasa frustasinya dengan memenggal kepala para pengecut tadi.

Yunne akhirnya mengibarkan bendera kebangsaanya di atas istana Perse. Berkibar jemawa. Kemenangan sungguh tergenggam. Para prajurit Perse yang tersisa akhirnya menyerah, kedua belah pihak berhenti saling bunuh membunuh.

Alex menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di istana Perse. Alex berkeliling istana mengkhayati indahnya interior bangunan termewah di Perse itu dengan pilar-pilar yang kokoh dan ornamen-ornamen dengan seni tingkat tinggi. Di lihat dari luar, istana ini sangat unik dengan kubah-kubah di atasnya dengan warna biru mendominasi. Ketika tertimpa sinar mentari, kubah-kubah ini akan memantul dan menampak seperti permata pirus yang berkilauan.

Sepasang mata Alex mengedar ke arah lain. Peluh di tubuhnya mulai kering. Mendadal Alex terkaget ketika melihat wanita yang begitu cantik sedang terkapar tanpa daya di lantai balkon istana. Puji Tuhan atas keelokannya.

~Bersambung~

Sang Pangeran Waktu: Takhta yang TertukarBağımlısı olacağınız hikayeler. Şimdi keşfedin