LAMPIRAN 1 : Nyasar?

22 7 0
                                        

"Mulai sekarang, kunci mobil kamu, papa sita. Mobil kamu juga bakal dibawa sama temen papa. Ingat ya Ra, selama papa di Jerman, kamu jangan macem-macem disini. Nanti bakal ada yang awasin kamu selama papa disana."

"Terserah papa deh, Ara udah ga peduli, Ara ngelakuin apa aja salah, emang semua yang dilakukan Ara tuh salah. Kalau boleh milih, Ara tuh udah cape banget pah," tukas Ara yang sudah mulai jenuh dengan sikap papanya. Kemudian Ara pergi keluar rumah tanpa peduli dengan teriakan papanya yang menyuruhnya untuk berdiam mendengarkan ocehannya. Ia rela berjalan kaki kesekolahnya. Ia malas untuk memberhentikan taksi yang sedari tadi lewat disampingnya. Ia sudah cape dengan masalah yang ia hadapi kemaren, saat ini, dan akan di esok hari.

Menurutnya, masalah itu datang memang selalu menyusahkan. Tapi ia tau batasan. Sebesar apapun masalah yang dihadapinya, ia yakin ia bisa menyelesaikannya. Namun masalah yang satu ini, ia sudah merasa sangat cape.

Tidak disangka, ia sudah jalan sangat jauh dari rumahnya. Namun, masih sangat jauh untuk sampai kesekolahnya. Ia tidak peduli dengan keterlambatan masuk kelas. Ia bisa beristirahat sejenak di uks nanti. Matanya mulai menyapu sekitar. Seketika ia terfokus dengan taksi yang sedang berhenti didepan minimarket. Ia merasa sangat lelah sedari tadi berjalan kaki. Itu akan membuatnya membuang-buang tenaga. Ia berjalan menyebrang jalan dan masuk kedalam taksi tersebut.

"Om, ke sma Rexa ya." Ucapnya dengan menghembuskan nafas lelahnya ketika sampai didalam mobil.

"Maaf, mba. Tapi taksi ini.."

"Om, gue lagi ga nerima alasan apapun. Gue udah cape banget jalan kaki dari rumah. Udah om jalan," cegah Ara yang mulai memejamkan matanya perlahan.
Orang tersebut merasa ragu untuk menjalankan mobilnya. Tak lama kemudian. "Om, kok mobilnya ga jalan-jalan ya. Ada.."

"Maaf lama. Tadi ada sedikit kendala. Ayo jalan, sebentar lagi ada meeting." Tiba-tiba datang seseorang membuka pintu mobil dan terlihat sangat terburu-buru. Kemudian ia melihat seorang cewe tengah bersandar sambil memejamkan matanya santai di samping jok mobil tersebut. "Ini siapa? Kok bisa disini?,"

Merasa ucapannya disela dan terdengar suara orang lain selain dirinya dan om supir, Ara dengan cepat membuka matanya.

"Kok ada dia disini sih om. Gue kan yang duluan naik taksi ini."

"Om juga ngapain main masuk-masuk aja. Jangan-jangan om berdua kerja sama buat nyulik gue ya," ucap Ara yang merasa ada yang tidak beres dengan situasinya saat ini.

"Om, om. Emang saya om kamu."
"Maaf, nih ya mba. Tadi saya mau jelasin, tapi mba malah ngelarang saya ngomong. Jadi sebenernya tuh saya bukan supir taksi, taksi ini sudah disewa sama temen saya karena tadi mobil kita tiba-tiba mati mesin. Sekarang silahkan mba keluar," tukas Arga tidak sabar karena tidak suka melihat sikap Ara.

"Siapa yang ngelarang om buat ngomong, tadi tuh gue lagi cape banget, jadi males buat adu argumen ama om. Gue juga kan udah bilang sama om," bela Ara. Ia segera meluruskan masalah yang ingin timbul dihidupnya.

"Tapi temen saya sebentar lagi.."

"Memangnya kamu mau kemana?," tanya seseorang yang ada disebelahnya saat ini. Ia penasaran mengapa ada anak sma nyasar ditaksinya.

"Gue mau ke sma Rexa. Tapi kalau om berdua gamau nganterin gue, gue bisa cari taksi lain kok. Gue juga ga mau ngerepotin. Permisi," ucap Ara muak dengan masalah sepele seperti ini. Ia segera mengambil tas dan segera membuka pintu mobil tersebut. Namun langkahnya pun dicegah.

"Saya anterin kamu," sanggah orang disampingnya itu dengan mencekal tangan Ara pelan.

"Bener nih, om ga mau macem-macem? Jangan sampe gue dibawa ketempat yang menyimpang dari tujuan gue. Lagian juga gue masih bisa cari taksi lain,"

"Sini masuk," ucap laki-laki tersebut tak sabar.

"Lepasin dulu tangan gue, katanya ga macem-macem,"

Tersangkanya pun baru sadar akan sikapnya pun menarik tangannya kedalam saku celananya.

"Meeting lo gmn? 5 menit lg nih," Ucap Arga yang sedari tadi mendengar percakapan mereka.

"Meeting udah dimundurin 15 menit." Ucap laki-laki itu tegas. Ia tidak akan menunda apa telah ia rencanakan.

"Oke,"



***

Jangan lupa vote and comment kalau kalian suka dengan cerita ini. Terimakasih

***

AaronStories to obsess over. Discover now