PERTAMA

3 1 0
                                        

"Mendengarkan itu perlu sebelum mengambil keputusan yang akan membuat menyesal"

Suara burung pagi hari ini saling bersaut-suatan. Seorang gadis yang masih bergelung dengan selimutnya sama sekali tidak terganggu. Karena dia baru tidur jam 3 pagi gara-gara membaca sebuah novel yang baru dibelinya.

"Alin, tidak kuliah mah" tanya kepala keluarga yang memiliki marga Aleandro.

"Paling juga masih tidur pah" jawab sang istri sambil menata makanan.

"Selamat Pagi, om tante" sapa Aluino Alviro dengan cengiran khasnya.

Dengan langkah santainya Aluino menghampiri kedua orang tua Ralin.

"Alin sudah bangun tan?" tanya Aluino tanpa sungkan mengambil roti diatas meja.

"Belum bangun, memangnya kalian ada kuliah pagi" tanya Maya mama Ralin

"Ada tante" jawab Aluino sambil menerima segelas susu yang diberikan oleh mama Ralin.

"Yaa sudah sana kamu bangunin sih Alin, om berangkat dulu yaa"

Kepala keluarga Aleandro itu berjalan meninggalkan ruang makan diikutin istrinya yang mengantar suaminya ke depan. Aluino yang yang sudah selesai memakan rotinya bergegas menuju lantia dua dimana sahabatnya masih tertidur sedangkan mereka ada ujian.

Sesampainya di depan kamar yang bertuliskan "Queen Ralin". Mana ada queen kecil mungil, batin Aluino. Tanpa mengetuk pintu Aluino membuka pintu dan ajaibnya si Queen Ralin sudah siap di depan meja riasnya.

"Widih, tumben amat neng udah siap" ucap Aluino berjalan ke arah Ralin dengan pandangan takjub.

Bagaimana tidak takjub, pandangan seperti ini adalah hal langka. Karena diusianya yang akan menginjak umur 20tahun Ralin harus dibangunkan lebih dulu untuk berangkat kuliah.

"Gue tuh inget hari ini ada ujian Pak Cipto, seketika rasa ngantuk gue ilang Al" ucap Ralin sambil memakai lipstik.

Pak Cipto dosen paling killer yang membuat Ralin stress dengan mata kuliahnya. Bukan karena materi tapi karena gaya mengajarnya yang membuat Ralin stress karena susah memahami materi yang disampaikan.

"Yaudah buru deh, gue gak mau telat yaa gara-gara lo lagi, masa tiap hari telat Al".

***

Tepat pukul 08:30 mereka sampai diparkiran. Ralin merapikan rambutnya sebelum keluar dari mobil.

"Kantin dulu yaa Queen Ralin" ajak Aluino merangkul pundak Ralin menuju kantin kampus.

Disepanjang jalan mereka selalu menjadi pusat perhatian. Bukan karena mereka mahasiswa terkaya atau terpopuler di kampusnya tapi karena mereka selalu berdua dimanapun tempat.

Aluino selalu memperlakukan Ralin layaknya seorang Ratu, karena bagi Aluino Ralin ada sosok gadis kecil yang harus dia jaga. Sebelum mereka menyadari perasaan satu sama lain.

Sesampainya di kantin mereka memilih tempat duduk asal. Tak langsung memesan tapi mereka duduk dulu dan memperhatikan sekitar.

"Al" ucap mereka bersamaan. Alhasil itu mengundang tawa dikeduanya.

"Ladies first" ucap Aluini menaik turunkan alisnya.

"Nasi goreng super pedas" ucap Ralin dengan meletakkan kepalanya di atas lipatan tangannya.

Setelah mendengar permintaan Ralin, Aluino langsung bergegas ke salah satu warung di kantin dan memessn nasi goreng sesuai permintaan Ralin. Ini adalah ritual rutin yang dilakukan mereka saat Ralin tak sempat sarapan di rumah.

Setelah memesan Aluino kembali ke tempat dimana Ralin menunggunya. Aluino selalu suka memainkan rambut Ralin saat Ralin sedang tidur seperti ini. Tidak lama pesanan Ralin datang.

Dengan setengah nyawanya Ralin mengangkat kepalanya dan memakan nasi gorengnya, Aluino memperhatikan Ralin matang. Tanpa Ralin sangka Aluino bertanya mengenai hal yang membuat napsu makan Ralin hilang.

"Al, semisal gue pergi gimana?" tanya Aluino sedikit ragu.

Ralin yang mendengar langsung meletakkan sendok dan garpunya. Melihat tepat di mata Aluino, tapi sialnya Ralin melihat keseriusan di mata Aluino dan itu membuat Ralin sedikit takut.

"Pergi kemana? tanya Ralin.

"Mungkin nyusul Papa" jawab Aluino ragu.

Mendengar jawaban dari Aluino membuat Ralin langsung meninggalkan area kantin dengan perasaan marah, kesel dan senang. Yaa, Ralin senang karena Aluino berani menemui Ayahnya, tapi disisi lain Ralin takut jika ia akan sendiri jika Aluino pergi.

***

Saat mata kuliah selesai Ralin langsung keluar tanpa menunggu Aluino dan hal ini membuat seisi kelas kebingungan bagaimana bisa friendship yang biasa membuat siapapun iri melihatnya sekarang sedang mengalami masalah.

Di koridor kampus Aluino mencekal tangan Ralin.

"Al, please".

Jika Aluino sudah memanggii seperti itu artinya Aluino serius.

"Dengerin gue yaa" ucap Aluino memandang Ralin yang membelakanginya.

Melihat Ralin mengangguk, membuat Aluino tersenyum.

"Ayo Queen Ralin, King Aluino akan menjelaskan" sekita mereka tertawa.

Ralin tak akan bisa marah terlalu lama kepada Aluino begitupun sebaliknya. Bagi mereka mendengarkan itu perlu sebelumnya mengambil keputusan.

***

Mereka tiba di tepi danua yang menjadi tempat mereka berkeluh-kesah dengan segala hal yang ada di planet tempat mereka tinggal. Mereka duduk bersampingan dan melihat luasnya danau.

"Jelaskan Al" ucap Ralin memandang lurus ke depan.

"Gue tau ini mendadak, tapi mau sampai kapan gue marah sama papa, padahal mama sudah mau menerima keadaan kita yang sekarang. Gue gak pergi sekarang Al, mungkin masih nanti tapi segaknya gue udah kasih tau lo," jelas Aluino memperhatikan Ralin dari samping.

"Tapi lo janji bakalan balik kesini kan" balas Ralin menatap ke arah Aluino.

"Gue janji Al, mana mungkin King meninggalkan Queenya" jawab Aluino yang membuat Ralin tersenyum.

Setidaknya untuk saat ini mereka tak saling meninggalkan.

19 April 2020.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Apr 19, 2020 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

LARAWhere stories live. Discover now