"Hhh...."
Sid menghela napas untuk kesekian kalinya pagi itu. Lando, Cokie, dan Rama melakukan hal yang sama di sebelahnya.
Tampang mereka kusut dan mata mereka terpancang ke arah yang sama.
Keempat anak itu sedang berjongkok di depan sebuah ruangan yang dipasangi papan nama bertuliskan "Athens United".
"Athens United, ya .." gumam Sid tak bersemangat.
Keempat anak itu lalu kembali menghela napas di detik yang sama. Tak lama kemudian, beberapa anak cowok datang dan nyengir ke arah mereka.
"Pagi, Kak ., " kata salah seorang dari mereka yang bernama Peter.
Sid, Lando, Cokie, dan Rama cuma bergumam tak jelas untuk menjawab. Peter membuka pintu ruangan itu, lalu masuk diikuti beberapa temannya.
Sid, Lando, Cokie, dan Rama memandang mereka iri. Seorang anak kelas sebelas bernama Rudi, yang baru akan masuk ke ruangan itu, menatap mereka bingung.
"Kak, jangan gitu ah ngeliatinnya, gue jadi malu..." katanya sambil pura-pura tersipu.
Sid, Lando, Cokie, dan Rama langsung berubah garang.
"Ngapain juga malu, nggak ada yang ngeliatin lo!" amuk Sid membuat Rudi terkekeh dan cepat-cepat masuk sebelum kena lempar sepatu Sid.
Sid berdecak sebal.
"Haah .. hasil perjuangan kita," kata Rama. Matanya masih menerawang pada papan nama itu. Sid, Lando, dan Cookie mengangguk-angguk lesu.
Seorang anak cowok kelas sepuluh tak sengaja melewati mereka dan langsung merapat ke tembok saking kagetnya melihat mereka berempat sedang jongkok berderet di depan semak-semak. Sid, Lando, Cokie, dan Rama menatap anak itu tanpa ekspresi.
"Jalan terus aja lo," perintah Sid, dan anak kelas sepuluh itu langsung melesat pergi.
Sid menggaruk-garuk kepalanya kesal.
"Hhhhh .. kenapa jadi begini sih?"
"Nggak ada pilihan lain, Sid. Dari dulu kita udah tau bakal kayak begini," kata Cokie.
"Cuma ... gue nggak nyangka aja bakal begini sakit ati."
Yang lain mengangguk-angguk setuju.
"Tapi seenggaknya ekskul bola tetep berdiri, kan?" kata Rama berusaha menghibur.
"Tapi. tetep aja kita nggak bisa main," kata Lando kembali membuat anak-anak itu depresi. Dan dalam hitungan detik mereka menghela napas lagi. Sid menggaruk-garuk kepalanya lagi, frustrasi.
"Kenapa sih si Godzilla tua itu setujunya pas kita udah kelas tiga?" seru Sid emosi sambil bangkit dengan kasar.
"Siapa yang tua?" kata Gozali yang tiba-tiba muncul dari belakang Sid, membuat Sid terlonjak satu meter ke depan.
Gozali menatap keempat anak itu tidak suka. "Kenapa kalian ada di sini?"
"Memangnya harus izin dulu kalo mau jalan-jalan?" kata Lando sengit.
"Saya nggak liat kalian lagi jalan-jalan," balas Gozali tenang.
"Yah, terus kalo nongkrong harus izin, gitu?" kata Cokie membuat Gozali menatapnya tanpa ekspresi.
"Jangan bilang kalau kalian masih menyalahkan saya karena kalian tidak bisa ikut ekskul bola," kata Gozali. "Itu di luar kemampuan saya."
"Harusnya Bapak bisa berbuat sesuatu dong. Masa Bapak tega liat kita udah susah-payah mendirikan ekskul ini, tapi kita malah nggak boleh ikutan?" kata Sid.
KAMU SEDANG MEMBACA
Love United
AcakHigh School Paradise 2nd Half Cinta memang berjuta rasanya.... Begitu juga sekarang yang terjadi pada Fantastic Four-nya SMU Athens, Cokie, Lando, Rama, dan Sid. Semuanya terkena demam 'cinta', walau tentu saja nggak meninggalkan kegilaan mereka pad...
