SATU

227 9 3
                                        

Aula SMA Garuda terpenuhi oleh beberapa barisan siswa-siswi baru. Seragam mereka terlihat beragam. Kegiatan hari itu adalah demo ekstrakurikuler maupun intrakurikuler. MC acara Masa Orientasi Siswa itu sudah bersiap di belakang panggung dengan setelan jas OSISnya. Rendi terlihat sibuk memberi arahan pada pengurus lainnya. Sedangkan Kiara sedang menyiapkan tumpukan kertas untuk mengabsen siswa dan siswi baru.

"Rendi dimana, Lan?" tanya Kiara pada Alan yang tengah menyiapkan kameranya.

"Briefing anak-anak tuh di luar." Kiara merapikan kertas absennya, kemudian melangkah keluar ruangan untuk membagikan kertas absen tersebut pada masing-masing pengurus yang bertugas menjadi kakak pendamping.

Rendi terlihat sangat serius saat mem-briefing pengurus lainnya. Kiara dengan santainya bergabung dalam lingkaran pembicaraan yang telah Rendi bentuk. Kemudian mendengarkan apa yang lelaki itu ucapkan.

"Sebagai kakak pendamping, kalian harus bisa ambil hati adik kelas buat tertarik ikut OSIS. Nanti juga ada mantan ketos yang bakal promosiin OSIS. Tetep semangat!" ucap Rendi di akhir kalimatnya.

"Oh iya. Ini absen adik kelas. Jangan cuma dicentang. Mereka juga harus tanda tangan." Lanjut Kiara dengan senyum manisnya yang entah bagaimanapun keadaannya akan tetap merekah indah.

Setelah pembagian kertas absensi itu selesai, Kiara kembali masuk ke dalam ruang OSIS. Ia membereskan alat-alat tulis yang beberapa menit lalu ia gunakan. Alan sudah pergi dari tempatnya. Lelaki itu sangat kreatif, maka dari itu Rendi meletakkannya di seksi dekorasi dan dokumentasi. Kiarapun mengakui bahwa Alan benar-benar lelaki yang berbeda. Ia adalah salah satu pengurus OSIS yang dapat diandalkan.

Kiara melanjutkan tugasnya dengan membaca satu persatu surat izin dari para murid baru. Ada sekitar lima surat yang sampai di tangannya. Yang entah izin karena sakit, ke luar kota, hingga acara keluarga. Semuanya beragam. Dengan cekatan, gadis itu menulis nama lengkap dan keterangan yang tertera pada surat tersebut di notes berukuran sedangnya. Agar saat para pengurus selesai mengabsen, ia bisa mencari nama-nama murid yang tidak hadir tadi.

Tiba-tiba, Rendi datang dengan tergesa.

"Ki, jas gue mana?" ucapnya kebingungan. Gadis itu langsung berdiri dan melihat di sekitarnya.

"Tadi pagi lo taroh mana?" balas Kiara mencoba memastikan.

"Hhh.. kayanya ketinggalan di kamar deh." Rendi menghela napasnya kuat kemudian menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

Setelah itu, Kiara membuka jas miliknya.

"Pake punya gue aja." Gadis itu menyerahkan jas OSISnya kepada Rendi. Dengan sigap, Rendi mengambil jas milik Kiara. Kebetulan ukurannya pas. Kiara memesan ukuran yang tidak terlalu press body, jadilah muat untuk dipakai oleh Rendi.

"Thanks," ucap Rendi yang kemudian langsung menuju aula. Ia harus menjadi mandor di acara itu, demi melihat langsung bagaimana kinerja pengurus OSISnya.

Kiara tersenyum hangat kala Rendi memakai jas OSIS miliknya tepat di depan matanya. Hatinya serasa melayang melihat kelakuan lelaki itu pagi ini. Ah iya, Rendi adalah Ketua OSISnya, ia tidak boleh memprioritaskan perasaannya disaat acara seperti ini. Kiara harus bisa bersikap profesional.

Puas dengan hatinya yang melayang entah kemana, gadis itu bergerak untuk melanjutkan aktivitas yang sempat tertunda.

Di lain tempat, Alan yang sedang mengambil gambar dari berbagai sudut terlihat sangat fokus. Sesekali ikut tertawa karena lelucon dari MC acara. Beberapa menit lagi, akan ada tiga sesi. Yang pertama sesi penampilan dari berbagai ekstrakurikuler seni, contohnya tari, band, dan fashion show daur ulang. Setelah itu di sesi kedua, para murid akan menunjukkan keterampilannya dalam berolahraga sesuai dengan yang mereka pilih di hari kemarin. Misalnya basket, futsal, voli dan bulu tangkis. Kemudian, sesi ketiga berisi promosi oleh para ketua intrakurikuler, contohnya, OSIS, MPK, PMR, Tim Adiwiyata, dan Jurnalistik.

"Alan! Tolongin gue dong!" Ucap salah satu anggota dekorasi. Nita namanya.

Mendengar teriakan Nita, Rendi segera menoleh yang kebetulan berada tidak jauh dari posisi Nita saat itu. Gadis itu sedang memegang kamera hitamnya dengan tatapan bingung. Rendi segera berjalan menuju Nita. Gadis itu sedikit terkejut akan kedatangan Rendi yang tidak diundang.

"Eh, Rendi? Ada apa?" tanya Nita.

"Bantu lo. Lo kenapa? Ada masalah?" setelah mengucapkan pertanyaan tersebut, Alan tiba di tempat Nita. Mencoba memisahkan dua makhluk yang ada di depannya. Nita yang melihat mereka berdua lantas tersenyum malu dan membuat rona di pipinya mencuat. Bagaimana bisa dua pangeran di sekolahnya datang menghampirinya disaat yang bersamaan.

"Biar gue aja. Lo kan ketos." Ucap Alan sarkas. Dingin dan cuek.

Akhirnya, Rendi mengalah. Ia memilih untuk pergi dari suasana yang tiba-tiba mendadak panas. Lelaki itu menuju belakang panggung. Mengontrol beberapa penampil yang akan tampil sebentar lagi.

"Eh ketos! Lo gemukan ya?" tanya Ratih, salah satu anggota seksi acara. Rendi menghela napasnya mendengar pertanyaan memalukan Ratih.

"Beda jas." Jawabnya singkat.

"Wih, punya siapa? Eh name tagnya Kiara tuh." balas Ratih yang dengan tidak sengaja melihat name tag yang terpajang rapi disana . Pasalnya, ketua OSISnya itu memang pemilih terhadap apapun menyangkut penampilannya.

"Cieee... cieee..." seru Ratih dan Wanda yang secara tidak langsung mendengar percakapannya. Rendi berdecak pelan mendengar seruan mereka. Ini memalukan! Ia tidak akan pernah meninggalkan jas OSISnya dikamar lagi. Ia malu memakai jas Kiara yang jelas-jelas sedikit kekecilan di tubuh atletisnya.

"Sialan." Ucap Rendi pelan sembari menuju ke ruang OSIS. Ia berniat mengembalikan jas itu. Kenapa Rendi lupa memikirkan hal tersebut. Ia tidak ingin dirinya mendapatkan gojlokan bersama Kiara, sekretaris OSISnya. Karena itu akan merusak reputasi baiknya.

Rendi membuka pintu ruang OSIS yang tertutup. Membuka dengan kasar jas milik Kiara. Entah kemana perginya gadis berambut sepinggang itu. Yang jelas, Rendi meletakkan jas tersebut dengan cara yang tidak senonoh. Melemparnya hingga mendarat di tumpukan kertas bekas. Setelah itu, ia melenggang keluar dari ruang OSIS.

Rendi sangat sensitif. Jangan sampai siapapun menghancurkan moodnya jika tidak ingin bernasib sama dengan jas OSIS Kiara. Di lain tempat, Kiara tengah sibuk membantu temannya yang kesusahan dalam memakai kostum fashion show daur ulang. Kostum itu agak kaku dan mudah robek, sehingga mereka harus berhati-hati. Dua gadis itu sedang berada di ruang kesehatan saat ini. Kebetulan ruangan itu berada di sebelah ruang OSIS.

"Ki, tolong pegangin yang ini." Lidya menunjuk ekor gaunnya dengan terburu-buru. Dengan cekatan, Kiara langsung memegangnya, tepat seperti apa yang gadis itu katakan.

Lidya memasang lengan gaun itu dengan tergesa-gesa. Ia sudah terlambat. Hingga sebuah suara mengejutkan dirinya maupun Kiara.

Krek..

"Ki? Suara robek ya?"

_____________________________________________________

TenggelamStories to obsess over. Discover now