Chapter - 1

25 7 17
                                        

Seharusnya sekarang aku masih berada di atas tempat tidur, menikmati hari libur setelah menjalani hari-hari paling sibuk selayaknya mahasiswa baru.

Tapi sayangnya, aku harus menjadi orang paling baik yang bersedia menggantikan posisi Tania untuk belanja mingguan. Karena katanya.

"Binta please. Aku harus menemui pacarku hari ini".

Aku sudah menolak dengan beribu alasan tapi tetap kalah jika dia sudah memasang muka memohonnya, yang mungkin hujan pun akan berhenti turun jika tanpa sengaja melihat raut Tania tadi

Jadi disinilah aku, berdiri didepan rak dengan trolley di sampingku, mencoret daftar nama-nama benda yang sudah berada di dalam trolley. Nata de coco, susu putih full cream, keju...

Kemudian aku berjalan menuju rak makanan kering, makanan beku, dan makanan segar. Hal terakhir yang perlu dibeli adalah buah-buahan, maka aku pun mendorong trolleyku menuju rak buah-buahan.

Aku memilih alpukat dan melon yang merupakan buah kesukaan Tania. Selama lebih dari setengah semester tinggal bersama Tania membuatku mengetahui sedikit banyak hal yang Tania sukai dan yang tidak ia sukai.

Setelah memastikan buah pilihanku sudah yang paling segar, aku kembali mendorong trolleyku menuju rak buah kesukaanku, pear. Aku sedang memilih pear terbaik ketika sebuah suara mengagetkanku.

" Maaf Mba. Saya mau tanya, cara untuk memilih daging segar gimana ya"

Diantara banyaknya hal yang tidak aku sukai adalah dipanggil dengan sebutan 'Mba'. Apa wajahku kelihatan tua? Hello, aku masih remaja 20 tahun.

Aku sudah mengibarkan bendera perang dan siap bertempur.

Aku berbalik menoleh kearahnya dan saat itu juga tubuhku menegang. Aku bahkan kesulitan mengatur ekspresi wajahku saat ini. Mulut terbuka, pupil mata membesar. Entah karena aku yang sudah jarang melihat laki-laki ganteng atau memang dia yang kelewat ganteng.

Aku sontak mundur untuk melihat tubuh tingginya. Bahkan dia lebih tinggi dari yang ku bayangkan. Tatapannya lembut. Membuat aku lupa dunia untuk sebentar.

"Mba?" Ia mengerutkan dahinya.

Bagaimana suaranya bisa terdengar sangat lembut. Bahkan di panggil 'Mba' pun tidak masalah rasanya.

"Warna. Lihat diwarnanya" . Suaraku tertahan di tenggorokan. Terdengar persis seperti mesin yang rusak.

Dia terlihat kebingungan

Jawabanku tidak memberinya apa-apa. Tentu. Karena itu dia kembali bertanya.

" Warna yang seperti apa".

Giliran aku yang kebingungan. Bukan bingung karena tidak tahu jawabannya, tetapi bingung bagaimana cara untuk menjelaskannya.

"Em, itu-". Dia menaikkan alisnya menunggu jawabanku. Membuatku kehabisan kata-kata.

Dia kelihatan sempurna dari sisi manapun. Apa mungkin dia seorang model atau bahkan dia adalah titisan dewa dari langit?

"Mudah kok. Tapi agak sedikit susah dijelaskan"

Aku berhasil mengucapkannya dengan lancar. Ditambah dengan senyuman yang alih-alih kelihatan ramah malah lebih terlihat seperti orang yang ingin muntah.

Dia terlihat sedikit kecewa. Dan aku merasa bersalah karena itu. Tanpa sadar aku malah mengatakan.

"Tapi aku bisa membantumu memilihnya"

Aku nengutuk diriku sendiri karena gagal terlihat cool di depan laki-laki sebagaimana prinsipku selama ini.

Bagaimana jika dia menolak atau bahkan menertawakanku. Ini akan menjadi hari paling buruk dalam hidupku.

Tapi diluar dugaanku, dia malah mengiyakan tawaran ku. "Yes. I need your help" . Aku hampir akan terjatuh jika saja tidak berpegangan pada trolley. Bagaimanapun jawabannya membuatku terkejut.

Entah harus senang atau menyesal, tapi aku benar-benar sudah membantu memilihkannya daging segar untuknya.

"Terimakasih sudah membantu"

Dan entah bagaimana aku masih bisa berdiri setelah melihat senyumnya merenggut semua oksigen disekitarku.

Aku memalingkan wajahku, tidak ingin ketahuan jika aku sedang tercekik kehabisan nafas.

"Yasudah. Aku duluan ya". Tanpa menunggu jawabannya aku langsung lari menuju kasir.

Aku menemukan rumah dalam keadaan kosong. Tania ternyata masih pergi bersama pacarnya. Aku memutuskan untuk memasukkan belanjaanku ke dalam kulkas. Melupakan rencana awal untuk tidur kembali selepas pulang dari minimarket.

Aku meletakkan belanjaanku di atas meja dan tanpa sengaja melihat pantulan diriku sendiri pada sebuah cermin besar di samping kulkas.

Oh, shit.

Aku terlihat sangat berantakan dengan kaus dan training yang ku kenakan. Dan parahnya lagi, aku lupa untuk menyisir rambutku karena terlalu kesal pada Tania tadi

__________________

Hope you like guys!!

Jangan lupa komen dan vote ya!

Dan berhubung ini adalah cerita pertama aku. Aku sangat berharap kalian bisa memberikan saran dan masukan:))

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Apr 03, 2020 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Arm in armTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang