Namaku Erin, lebih lengkapnya Erin Zhiva. Sekarang aku duduk di kelas 12 yang mana itu adalah tahun terakhirku di SMA. Aku hanya memiliki satu teman lebih tepatnya sabahat, namanya Tere. Dia cantik, pintar dan sangat menawan. Tentu saja berbeda denganku. Ya memang sih, wajahku tidak terlalu jelek jelek amat, dan aku bisa dibilang cukup pintar.
Tapi, aku dan tere sangat berbeda 180 derajat. Jujur aku memang iri dengan tere, dia sangat populer. Bahkan hampir satu sekolah mengenalnya. Tere sangat pandai bergaul, itulah yang membuat ia bisa populer. Mungkin jika kalian meihatku yang biasa-biasa ini akan kesal dan akan berfikir 'Mengapa tere mau berteman denganku?' dan 'Bagaimana kami bisa berteman?'. Aku hanya bisa menjawab 'Entahlah.'
"Rin.. Makan yuk! Laper nih." Ucap seorang perempuan sambil memainkan handphonenya. Yaps, dia adalah tere.
"hm, ayo deh. Aku juga laper nih." Jawabku segera.
Di kantin
"Ter, kamu mau pesen apa? Sini biar aku aja yang pesenin." Ucapku sambil berdiri
"Aku mau mie ayam sama siomay dong rin. Ini uangnya sekalian." Jawab tere sambil memberi satu lembar uang bertuliskan dua puluh ribu.
"Okei, bentar ya."
"Nih ter,makanannya." Ucapku sambil menaruh mangkuk dan juga piring berisi siomay dan juga mie ayam
"Ihhhh makasiii erinkuuu." Balas tere dengan nada manjanya.
"Iya sama-sama. Oh iya ter, aku denger kemarin kamu di tembak lagi ya? Terus gimana? Kamu terima?" Tanyaku penuh dengan rasa penasaran.
"Hm, ngga tau rin. Belum aku jawab. Tapi kalo dipikir-pikir dia lumayan juga, lumayan ganteng terus juga seangkatan sama kita."Jawab Tere sambil menyantap mie ayamnya.
"Oh seangkatan sama kita, siapa emangnya?"
"Hm, itu-itu. Dia orangnya" Jawab Tere sambil menunjuk seseorang.
Aku pun langsung menoleh dan sedikit terkejut saat melihatnya. Bagaimana tidak terkejut, yang ditunjuk karin adalah Elang Kasyapi. Anak kelas 12 IPA 1. Bisa dibilang aku ini sedikit tertarik sama elang. Tapi aku pun langsung tersadar, kayaknya bakal sulit buat bisa deket sama elang. Secara, dia aja udah nembak tere kemarin.
"Rin! Kok loe langsung diem si? Kenapa? Emang loe kenal?" Tanya Tere sambil menggerakan tanganku.
"Ah... Ngga ter, aku ngga kenal."
"Mampus gua rin! Dia jalan kesini. Gua harus gimana dong rin. Aduhhh, gue belum bisa jawab."Uacap Tere dengan nada bicara yang sedikit panik
"Misi, Kita berdua boleh duduk disini ngga?" Tanya seorang laki-laki berkacamata.
"Oh iya, boleh kok silahkan aja." Jawabku dengan cepat
"Loe udah gila rin?! Bisa-bisanya loe nyuruh mereka duduk disini!" Bisik Tere di telinggaku
"Gapapa kali ter, tenang aja mereka pasti ngga jahat kok."Jawabku
"Ken! Disini." Ucap laki-laki berkacamata itu.
"Hm, sorry ya, gue ngajak satu orang temen lagi." Lanjut laki laki itu
"Eh iya, gapapa kok. Lagian juga kita berdua udah mau selesai makannya."Jawabku
"Sorry ya gue telat. Hm, bentar-bentar. Loe? Cewek yang ditembak elang kemaren kan? Pantes aja kita duduk disini. Bisa aja loe lang."Ucap laki-laki yang baru saja datang
"Gimana jawaban loe tentang pertanyaan gue kemaren?" Ucap Elang dengan tegas
Tere hanya terdiam, aku yang melihat kejadian itu pun lngsung mengambil alih pembicaraan.
YOU ARE READING
Hold-
Teen FictionErin Zhiva siswa yang tidak begitu populer dan hanya memiliki satu teman atau lebih tepatnya sabahatnya yaitu Tere. Berbeda dengan tere yang populer dan aktif. Erin cenderung pendiam dan tidak terlalu populer. Tiba-tiba saja Erin dijodohkan dengan L...
