Katanya masa SMA itu adalah masa terindahnya anak remaja, betul gak sih?
***
Alexa tampak berpikir, dahinya berkerut ia masih ragu terhadap pilihan yang diberikan oleh mamanya.
Masuk SMA atau belajar di luar negeri.
Alexa tak mau memilih keduanya, sebab ia lebih suka homescholling. Tapi ia tidak mungkin menolak keduanya. Bisa-bisa dia harus mendengar omelan mamanya lagi dan lagi.
Masuk SMA itu punya resiko, ia tak ingin masa mudanya dihabiskan dengan masalah hati. Belajar di luar negeri itu juga bukan pilihan, bahasa Inggris nya belum fasih bisa jadi gembel dia di sana karena tidak mengerti apa pun.
"Ya Tuhan, hidupku kok gini amat yah perasaan gak banyak buat dosa deh, kok dikasih cobaan. " Teriaknya sambil memegangi kepalanya frustasi.
Alexa kembali merenung seharusnya ia tak sebodoh ini karena dihadapkan oleh dua pilihan yang menurutnya tak bisa dipilih.
"Mending aku tidur aja, lelah hayati bang. " Alexa menghempaskan tubuhnya ke kasur empuknya kemudian memeluk erat guling kesayangannya.
***
"Alexa, bangun. Makan malam udah mama siapin loh, nanti keburu dingin. "
Alexa menggeliat membuka matanya perlahan. Dia bangkit dari tempat tidurnya berjalan ke kamar mandi ingin mencuci wajahnya.
"Mama tunggu di bawah aja. "
Teriaknya dari kamar mandi.
Nayla—Mamanya Alexa — hanya tersenyum simpul mendengar teriakan anak semata wayangnya itu. Kemudian berjalan keluar dari kamarnya Alexa.
Tak lama kemudian Alexa keluar dari kamar mandi dan keluar dari kamarnya berjalan menuju dapur.
"Makan dulu Al, tuh cacing di perut kamu udah pada nangis gak dikasih makan sama kamu. " Ucap Nayla melihat anaknya berjalan sambil memegang perut kecilnya.
" Iya mah. "
***
Alunan musik yang menemani rasa bosan Alexa akhirnya mati. Siapa lagi kalau bukan Alexa yang mematikannya. Selama dua jam terakhir Alexa hanya memainkan ponselnya, hanya sekedar menggeser tanpa ada minat untuk melihatnya. Tiba-tiba sebuah notifikasi dari instagramnya berbunyi.
LakuLaki_
"Mau nggak jadi pacar gue, kalo lo nerima gue nanti gue kasih mobil BMW, mau nggak? "
" Lah, ini siapa yang ngirim. Kenal aja nggak. Gila. " Alexa hanya mengoceh tanpa ada membalas pesan tadi. Percuma saja pikirnya.
Alexa kembali merebahkan tubuhnya di sofa empuk miliknya. Tatapannya kosong seolah tak ada minat untuk hidup. Tarik napas buang, tarik napas buang, pukul kepala, tarik rambut. Berulang kali Alexa melakukan itu sesekali memejamkan mata menghela napas kecil. Alexa memejamkan matanya, memantapkan pilihan yang akan dipilihnya.
" Oke, aku akan SMA di sini, kayaknya gak buruk-buruk amat deh. "
Setelah yakin Alexa beranjak dari sofa kemudian berjalan ke ruang kerja mamanya. Alexa langsung masuk saja tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
" Mah, Alexa udah pilih salah satu Mah." Alexa memeluk Mamanya dari belakang.
" Kamu pilih apa nak? " Nayla membalikkan tubuhnya menghadap Alexa.
" Alexa pilih SMA di sini aja mah, Alexa gak mau jauh dari Mama."
" Mama udah yakin kalau kamu bakal milih ini, minggu depan kamu masuk sekolah sekarang kan masih libur, oh iya kamu udah Mama daftarin di kelas dua belas loh. " Ucap Nayla sambil mengelus rambut panjang Alexa.
YOU ARE READING
Sweet Rival
Teen Fiction"Kita adalah dua kata tanpa makna" Alexa dan Riko adalah 2 musuh yang terjebak dalam ruang hati mereka sendiri. Saling bertanya kemana arah tujuan mereka sendiri. Tapi bagaimanapun kuatnya kemauan, takdir adalah penentunya. Kita hanyalah sebatas bon...
