Prologue

29 1 0
                                        

Jakarta, Juni 2014

"Gue punya SIM baru dong!" teriakku pada Mario yang sedang bermain PlayStation bersama Marco di ruang tamu.

"Heh apaan dateng-dateng pamer!" teriak Marco.

"Wah SIM A atau C?" tanya Mario.

"A dong, C mah udah duluan bulan kemarin." jawabku.

"Ayo dong jalan-jalan!" kali ini Marco menyahut.

"Males sama lo mah, mending sama Iyo aja." jawabku lagi.

"Yaudah ayo." ajak Mario.

"Kemana?" tanyaku.

"Ke Puncak yuk? Dah lama ga makan mie rebus di sana." jawab Marco.

"Apaan sih ga ada yang ngajak lu." sahut Mario.

"Gapapa dah yuk bertiga." akhirnya aku mengalah agar mereka tidak jadi ribut.

"Ayo."

Dalam 2 jam kami sudah ada di mobil, sedang dalam perjalanan menuju Puncak. Aku menyetir dengan Mario duduk di sebelahku, dan Marco tidur di kursi belakang. Mario jadi penunjuk jalan sekaligus DJ, mengatur lagu mana yang akan diputar.

Sesampainya kami di tempat tujuan, Marco tentu saja langsung memesan 3 mangkok mie rebus untuk kami bertiga. Sementara Mario membeli Wedang Jahe di warung sebelahnya. Aku hanya duduk cantik memperhatikan mereka.

"Silahkan diminum, Kanjeng Ratu." ucap Mario saat menaruh nampan berisi 3 gelas Wedang Jahe.

"Hahahaha apasih yo."

Tidak lama kemudian, Marco datang dengan 3 mangkok mie rebusnya. Kami makan dengan lahap, tidak peduli dengan hujan rintik yang mulai turun dan suara pengamen yang datang silih berganti.

"Nanti balik lu mau bawa mobil lagi atau gantian?" tanya Mario padaku.

"Gue bisa kok." jawabku

"Gue aja dah, jalanan pasti licin abis hujan gini." ujar Mario.

"Iya si Mario aja." ujar Marco, "Kita tidur aja berdua di belakang." lanjut Marco diikuti pukulan ringan dari Mario.

"Enak aja lu berdua mesum, gue jadi supir."

"Siapa yang mau mesum? Pikiran lu kotor." ujar Marco, sambil mengelus lengannya yang tadi kena pukul.

Saat hujan mulai reda, kami memutuskan untuk langsung pulang. Mario mengendarai mobil sementara aku duduk di sebelahnya. Marco kembali duduk sendirian di belakang, karena dia merasa mulai mengantuk.

Perjalanan terasa damai, aku rasa begitu karena kali ini aku memilih untuk memutar lagu-lagu kesukaanku dari band favoritku, Maroon 5. Marco sudah mulai tertidur sementara aku harus menahan kantuk karena Mario terus mengajakku mengobrol, atau sesekali bernyanyi.

Namun, kedamaian itu tidak berlangsung lama. Yang aku ingat hanya dalam sepersekian detik, nyala lampu dari motor di kanan sangat menyilaukan, lalu Mario membanting stir ke kiri, mobil menghantam keras sebuah pohon besar di sisi bukit, dan perlahan penglihatanku memudar.

Mario (Same Name, Different Problem)Where stories live. Discover now