Negosiasi Malam yang Gagal
Aku tak pernah menyangka bahwa hasil akhinya akan begitu jauh dari naluri yang kupercaya. Dulu aku sudah menggambarkan rancangan Impian itu setinggi Gedung dengan pondasi sekuat tekadku. Kukira jika aku menyusun segalanya dengan rapi dan tulus maka semesta akan turut bekerja sama. Aku bersujud, aku memohon . setiap malam kubisikkan doa agar tuhan memberiku petujuk sekaligus jalan.
Di suatu malam yang dingin, aku merasa doaku dijawab namun bukan dengan cara yang aku harapkan.
Gedung itu runtuh. Bukan hanya atap dan dindingnya bahkan pondasi yang katanya kokoh pun hancur tak tersisa. Hujan turun deras dan aku berdiri disana di antara puing-puing impianku yang basah, menolak untuk percaya. Aku mencoba untuk bernegosiasi dengan Tuhan.
Mungkin ini hanya ujian..
Mungkin ada yang salah.
Mungkin ini hanya mimpi.
Tapi hasilnya tetap sama reruntuhan yang tak ada celah untuk diperbaiki yang harus kuterima.
Hari berganti langit pagi terlalu damai untuk kehancuran sebesar ini dan dunia tetap berjalan. Sementara aku...disini masih terdiam diantara puing yang belum sempat kuangkat.
Di kejauhan terlihan ada sebuah bangunan dengan sejuta pintu. Aku menghampirinya bukan karena yakin tapi ada secuil rasa penasaran yang tersisan di lubuk hatiku.
"apa yang ada dibalik pintu-pintu itu? Entahlah" aku tak punya cukup tenaga untuk membuka semuanya. Tenagaku hanya tersisa untuk membuka satu pintu saja dan entah bagaimana aku juga tahu...bahwa dari pintu itulah alur hidupku akan kembali berjalan. Tuhan akan memberiku jawaban
Saat tanganku menyentuh gagangnya ada sebesit harapan yang bangkit dari hati kecilku " semoga...ada suatu di dalam sana yang terasa akrab. Mungkin warna catnya, susunan ruangnya atau sekedar suasana yang menyerupai bangunan yang dulu pernah kuciptakan dengan sejuta tujuan hidupku"
Dan...
Saat pintu itu ku buka secuil harapan yang tersisa ikut hancur. Tak ada yang familiar bahkan rasa asing pun tak muncul karena semua terlalu sunyi untuk disebut baru, terlalu hampa untuk disebut pengganti. Aku belum tahu tuhan menjatuhkan bangunan dan harapanku hanya untuk mengantarku ke yang lain. tapi mungkin tak semua harus kutahu. Meski jalan ini bukan yang dulu kubayangkan aku percaya akan ada alasan untuk semua ini. Aku akan terus berjalan dengan harapan baru sebagai lentera kecil di tanganku.
Aku akan menyelesaikannya. Dan pilihan ini... akan kupikul sampai akhir meski kakiku gemetar ini jalanku sekarang...
