Kita terlahir untuk satu alasan, jika alasanku dilahirkan untuk bertemu denganmu. Maka walaupun kau mengelilingi seluruh sudut bumi kau tetap akan bertemu denganku
●●●
Kata orang masa SMA adalah masa yang paling bahagia, bisa dibilang masa putih abu abu adalah masa penuh warna warni. Di masa itu satu dua dari kita sudah berani menabur cinta dan terserang virus merah jambu, dimasa itu kita harusnya tumbuh dan menikmati setiap momentnya. Romansa SMA memang tidak bisa dilupakan sampai tua.
Namun, saat teman temanku sibuk menikmati masa mudanya, aku malah sibuk berkutat dengan buku dan kacamata tebal. Perpustakaan menjadi tempat yang paling sering ku kunjungi, rumus rumus menjadi teman akrab. jika berjalan aku selalu menunduk, penampilanku yang biasa saja membuatku seakan menjadi murid bayangan di sekolah tak dihiraukan.
Jika kata orang orang masa sma itu penuh warna, maka bagiku tidak demikian karena masa sma ku hanya dipenuhi hitam putih. Aku tidak begitu tertarik dengan hal yg demikian entah mengapa novel serasa jauh lebih seru daripada sinetron yang selalu di ceritakan temanku di sekolah.
Belajar menjadi kebutuhan wajib dibandingkan punya pacar lalu dipamer. Iyah, murid murid sepertiku sering dijauhi, karena pertama nggak nyambung dan kedua emang nggak bisa ngobrol banyak kita beda frekuensi hehe.
Nerd. Yah aku memilih jalan itu, jika mengingat bagaimana tiga tahun kuhabiskan hanya untuk melahap rumus rumus yang seakan membuat bulu mataku keriting kadang aku tertawa geli saja, terobsesi dengan lomba lomba yang membuatku kadang kecewanya sampai berbulan bulan kalau gagal. Jika kata orang putus cinta itu menyakitkan, maka mungkin rasanya putus cinta itu sama dengan gagal pada lomba olimpiade. Lombanya cuma beberapa hari tapi usaha move on nya berbulan bulan.
Efek tiga tahun ku di sma yang hitam putih berimbas begitu besar pada hari kelulusan. Bukan, aku bukan lulusan terbaik nomer satu tapi nomer dua. Iyah, kalian bisa bayangkan bagaimana sakitnya hatiku tiga tahun perjuanganku belajar harus berakhir di posisi kedua menyebalkan bukan?
Nah di hari itu aku baru sadar ternyata aku salah, aku terlalu memaksa diri untuk melebihi dari kapasitasku sebagai remaja yang masih berumur belasan tahun, aku memeras otakku berpikir sampai aku lupa dia juga lelah.
Yah akhirnya aku sempat sadar saat namaku dipanggil sebagai terbaik kedua dan maju ke depan untuk mengucapkan sepatah dua patah kata. Mikrofon disodorkan dihadapanku dengan sopan guruku mempersilahkan namun bibirku kelu saat kutatap satu persatu teman teman seangkatanku beserta wajah orang tua murid yang menatapku saksama.
Ini teman temanku? Bagaimana bisa aku melewatkan ini?
Otakku berusaha mencerna pertanyaan di kepalaku. Iyah, aku asing dengan wajah teman temanku bahkan selama tiga tahun aku hanya mempunyai seorang teman dia adalah perempuan yang punya banyak pertanyaan yg kadang membuatku jengkel, rambutnya selalu dikepang katanya kalau tidak dikepang dia akan kena sial tapi percaya atau tidak aku pernah usil membuka kepangannya saat ujian dan setelah itu nilai ujiannya hancur berantakan aku merasa sedikit bersalah dia menangis sepanjang hari untung saja dia gadis yg pandai dirayu. Yuki namanya, dia satu satunya murid yang menatap haru padaku.
Setelah menyampaikan terimah kasihku tanpa lama lama aku kembali ke tempatku semula.
----》》》
😄😄
VOUS LISEZ
Kamu, atau waktu yang salah?
Roman pour AdolescentsAku bisa menjadikanmu semestaku, tapi kau memilih lari dari lintasan. Lantas apa yang harus kulakukan pada rasa yang terlanjur tumbuh ini? Apakah kuhancurkan saja sebelum membesar dan membuat repot? Atau tetap kujaga meski pada akhirnya kau sendiri...
