Tok! Tok! Tok!
"Hoaaaem..."
Gadis itu menggeliat. Ia pun dengan malas membuka matanya perlahan. Diliriknya jam beker yang berada di atas meja belajarnya.
Kedua matanya terbelalak seketika, "Astaghfirullahal'adzim! Udah maghrib oneng!" ujarnya setelah melihat jam beker itu menunjukkan pukul 18.20 WIB.
Ia segera menyibakkan selimutnya lalu melipatnya asal. Ia pun segera berlari menuju pintu kamarnya lalu membukanya. Betapa kagetnya dia melihat ibunya yang sedang berdiri tepat di depan pintu kamarnya. Ibunya memakai pakaian serba rapi lengkap dengan jilbabnya seperti hendak berpergian.
"Eh-Mama, mau ke mana?"
"Cepet ke ruang tamu. Ada tamu yang mau ketemu kamu." jawab ibunya yang kemudian pergi begitu saja meninggalkan gadis itu yang masih kebingungan.
"Siapa? Ah, gue harus cepet-cepetan sholat dulu." kata gadis itu sambil berlari cepat menuju tempat wudlu lalu menjalankankan sholat maghrib di tempat sholat rumahnya.
Setelah selesai sholat, ia pun segera kembali ke kamarnya untuk berganti pakaian dan dandan sekenanya. Beberapa menit kemudian, ia pun keluar dari kamarnya menuju ruang tamu.
"Maaf, Rei lama." ucap gadis itu sopan sambil membungkukkan badannya sejenak. Perlahan ia pun melihat ke sekeliling. Ada tiga orang yang lama dikenalnya. Ia pun segera bersalaman dengan mereka.
"Wah, Reina lama gak ketemu makin cantik aja ya." ucap salah seorang tamu wanita yang seumuran dengan ibunya.
Reina hanya menyengir malu, "Ah, enggak kok, Bu Nindy." katanya.
"Lo masih pendek aja." kata seorang cowo yang duduk di samping wanita itu. Reina hanya melirik sinis ke cowo itu, "Iya tahu lah yang paling tinggi di sekolah waktu SD." balas Reina sambil menjulurkan lidahnya.
"Rei, sini duduk." panggil ayahnya sambil menepuk bagian kosong di sofanya, meminta anak gadisnya itu untuk duduk diantara kedua orang tuanya. Tanpa pikir panjang, gadis itu pun segera menuruti ayahnya.
Setelah Reina duduk di sofa, sang ayah pun berkata kepada salah seorang tamu pria yang seumuran dengan beliau, " Silakan, Pak Aris."
Pria yang dipersilakan itu pun membuka suaranya, "Sebelumnya, kami mohon maaf karena telah mengganggu kalian saat maghrib begini. Jadi, niat kami berkunjung kemari adalah ingin meminang puteri bapak untuk menjadi istri dari anak sulung kami, Ardy Diramarta."
Reina membelalakkan matanya kaget. Lidahnya terasa kelu seketika mendengar pernyataan konyol yang entah bagaimana bisa keluar begitu saja dari pria itu. Reina pun segera melirik ke arah cowo yang sudah lama dikenalnya sejak berada di bangku sekolah dasar itu. Kebetulan sekali si cowo itu pun sedang menatapnya. Mereka pun berdialog melalui kontak mata.
"Maksudnya apa, nih?" tanya Reina.
"Kaget?" tanya Ardy balik. Ia pun menyeringai ke arah Reina. Reina hanya memutar malas kedua bola matanya, "Terserah lo, ini gak lucu!"
Puk!
Reina terlonjak kaget setelah merasakan pahanya ditepuk oleh ibunya. Ia pun menoleh ibunya kemudian meringis malu.
"Bagaimana, nak Reina?" tanya pria yang seumuran dengan ayahnya itu.
Reina mencoba untuk menstabilkan detak jantungnya kemudian menatap pria itu sambil sedikit menundukkan kepalanya, "Hm.. saya ingin bicara dulu sama Ardy, Pak." pintanya.
"Baiklah," kata pria itu kemudian beliau menoleh ke arah anak sulungnya, "Ardy."
Ardy menoleh ke arah ayahnya, "Iya, Pah. Kami keluar dulu." pamitnya kemudian keluar menuju halaman depan rumah Reina. Reina pun mengikutinya dari belakang. Mereka pun berhenti di samping pohon mangga depan rumah Reina.
"Ardy.." panggil Reina.
Ardy pun menoleh lalu menatap Reina, "Dalem, Rei.."
Plak!
Teplakan Reina pada lengan Ardy sukses membuat Ardy merintih kesakitan, "Duh, Rei! Kebiasaan lo tolong diilangin, deh! Sakit tahu, gak?" rintihnya sambil mengelus-elus lengan bagian atas tangan kirinya.
Reina membalasnya dengan memelototi Ardy, "Lo emang udah gak waras, Ar. Maksudnya apa nih?" tanyanya.
"Apa kurang jelas?"
"Gak jelas banget!"
"Lo udah umur berapa, sih? Keonengan lo itu permanen ya ternyata." ejek Ardy sambil menyentil dahi Reina.
Reina mendengus kesal, "Dua puluh tahun, lah, kan lo tahu sendiri tanggal lahir gue kapan!"
"Iya, iya, galaknya dikurangin dong, Rei."
"Berisik, ah! Plis deh, jelasin, Ardy.. Ini maksudnya apa?"
Ardy pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Dipegangnya bahu kiri Reina kemudian mencondongkan kepalanya hingga sejajar dengan kepala gadis yang ada di hadapannya.
"Rei, gue ngelamar lo. Lo mau gak jadi pasangan hidup gue?" kata Ardy lirih.
Reina sedikit kaget namun masih bisa mengontrol reaksi tubuhnya. Ia menatap Ardy bingung, "Kenapa?" tanyanya.
"Kok kenapa?"
"Kenapa sekarang?"
"Karena umur kita udah pas buat tunangan." jawab Ardy santai.
"Lo tuh.."
Ardy mendekatkan wajahnya ke wajah Reina, ditatapnya Reina tepat di manik matanya, "Gue pengin jadi yang terakhir buat lo, Rei." kata Ardy dengan suara yang lirih yang mungkin hanya bisa di dengar oleh Reina, jangkrik mah lewat!
Reina pun balas menatap Ardy tepat di manik matanya, "Lo cinta pertama gue, Ar." kata Reina yang tak kalah lirih dari suara Ardy tadi.
"Gue tahu dan gue pengin jadi yang terakhir juga." kata Ardy posesif.
Reina memutar kedua bola matanya malas, "Lo serakah."
"Emang." balas Ardy seolah-olah membenarkan anggapan Reina tentangnya barusan. Ia pun menjauhkan wajahnya dari wajah Reina dan melepas pegangannya di bahu Reina, "Gue anggap lo setuju."
"Gue belum jawab 'iya' apa 'enggak', Ar."
"Kita tunangan dulu. Masalah nikah pikir belakangan."
"Jadi, kita bisa batalin pernikahan kita?"
"Kalau lo gak cinta gue is okey, lah. Tapi, kita tunangan dulu sampai kita lulus dan kerja selama dua tahun. Setuju, Rei?"
"Lo emang sinting. Lama banget. Hubungan lo sama cewe-cewe bakal terbatas kalo udah tunangan, oneng!"
"Gue gak peduli." jawab Ardy santai.
"Tapi, Ar.. gue gak cinta sama lo lagi."
"Okey, gue anggap lo setuju. Masalahnya cuma lo gak cinta sama gue lagi, kan?" tanya Ardy yang dibalas dengan anggukan Reina.
"Gue cuma gak mau memberi harapan ke orang yang gak gue cintai." kata Reina sambil menundukkan pandangannya agar tidak menatap mata Ardy.
"Okey, gue anggap lo setuju." kata Ardy santai. Ia pun berjalan ke arah pintu rumah mendahului Reina.
"Ar." panggil Reina saat mereka tengah melepas sandal.
"Apa?" tanya Ardy tanpa menoleh ke Reina.
"Gue udah gak bisa jatuh cinta lagi."
Pernyataan Reina sukses membuat Ardy yang hendak memasuki rumah Reina menghentikan langkahnya. Ia pun menoleh ke arah Reina, menatapnya dengan tatapan lembut tepat ke manik mata Reina.
"Gue yang pertama kali bikin lo jatuh cinta. Jadi, gue pasti bisa bikin lo jatuh cinta untuk yang terakhir kalinya."
~*~
21 - 01 - 2020 15:29 WIB
First and Last by Erena Rosetta
.
Part 1 clear :))
jangan lupa vote and comment yaa! ^^
Makasih :)
YOU ARE READING
First and Last
Teen Fiction"Gue pengin jadi yang terakhir buat lo, Rei." "Lo cinta pertama gue, Ar." "Gue tahu dan gue pengin jadi yang terakhir juga." "Lo serakah." *** Ini bukan tentang cinta lama yang belum kelar atau balikan setelah lama putus. Ini juga bukan tentang benc...
