Prolog

116 25 10
                                        

Pagi ini, salju turun lebih cepat awal bulan ini. Rhea namaku, hanya seorang gadis bersurai cokelat, dengan warna mata yang senada. Membuka tirai jendela sambil mengucapkan, "Good morning world!

Aku bergegas membersihkan diri, lalu mengambil perlengkapan ice skating, tak lupa juga dengan syal merah kesukaanku. Aku melangkah keluar, meghirup udara dingin memang menenangkan.

Rasanya taman kota hari ini lebih ramai dari biasanya. Melakukan hobi yang sama sepertiku, bermain bola salju, atau mungkin hanya menikmati awal musim salju dengan minum kopi sambil duduk di bawah pohon cemara. Atau mungkin hangout bersama pacar, sudah-sudah, aku muak dengan hal yang satu ini.

"Rhea!" Dari jauh nampak seorang memanggilku, pastinya seorang yang sejenis denganku. Alina namanya, gadis bersurai merah dengan bola mata yang berbeda warna sebelah. Ah, aku lupa kelainan apa itu namanya.

"Sendirian nih?" tanyanya. Aku hanya ber-hmm saja, lagi-lagi peryanyaan itu. "Kamu? Sama siapa?" tanyaku.

"Sendirian juga." jawabnya, dan aku hanya ber-oh-ria.

"Ice skating yuk, bareng." ajakku, daripada aku sendirian. Ya meskipun hal itu bukan hal asing lagi.

"Hm, aku udah tadi, maaf ya." ucapnya.

"Iya, nggak apa-apa kok.," ucapku singkat. "terus sekarang mau kemana nih?"

"Starbuck, tuh, depan. Ikut?" ucapnya.

"Mm, mungkin lain kali aja." ucapku.

"Oo, okelah. Aku kesana dulu ya. Dahh." ucapnya, dalam hitungan detik ia meninggalkanku. "Daah."

Aku memulai hobiku, es yang licin seakan tak masalah bagiku. Tubuhku berayun, mengikuti irama dari lagu yang kudengar menggunakan iPod ku. Uh, rasanya sangat bahagia sekali!

Brukk! Ouch!
Aku menabrak seseorang. Astaga, bagaimana bisa aku ceroboh. Kakiku terkilir, belum lagi permukaan es yang membuatku semakin tidak mampu berdiri. "S-sorry." ucapku.

"Udahlah, nggak apa, come on, wake." ucapnya mengulurkan tangan. Aku tahu itu bukan tangan manusia sejenisku. Tapi mau bagaimana lagi, daripada aku susah bangun. Kuraih tangan itu, astaga, hangatnya. Uups!

Aku berdiri, walau kaki ini rasanya belum mampu menopang tubuh, "Thanks ya."

Ia tidak membalasnya, hanya seutas senyum terukir darinya, walau aku tidak tahu persis seperti apa wajahnya. Aku mendongak, astaga, makhluk indah apalagi yang kau ciptakan ini Tuhan?!

Mata abu-abu kebiruan, alisnya yang tebal, dengan wajah putihnya. Serta kacamata yang menghiasi wajahnya. Jujur, aku sangat suka dengan spesies lawan jenis yang berkacamata.  Astaga, meleleh hati Hayati bang. Tunggu, perlu kutekankan namaku bukan Hayati.

Aku menatapnya sejenak, gerimis salju seakan memperindah pertemuan kami. Tatapannya sedingin es, mata birunya sebening kristal. "Um, sorry." ucapku mengalihkan pandangan, lekas ku jauhkan diriku darinya. Lagi-lagi ia hanya mengutaskan senyum manisnya, bisa pingsan mendadak aku ini, "Your na-"

"Rajendra!" Suara itu berhasil mengalihkan dirinya. Perasaan kesal mulai megaduk hati. Namun di sisi lain juga senang mengenal namanya.

"Girlfriend?" tanya si spesies bule asing yang memanggil namanya.

"No, just a unknown human." jawabnya. Jadi ini sebenarnya yang manusia asing siapa sih.

Ia hanya terkekeh. Aku hanya memgukurkan senyum kecil. Ya, hanya untuk memberi kesan ramah saja, selanjutnya, ah sudah, tidak usah dibahas.

"Um, i think i must go now, bye, see u." Aku mengemas perlengkapan ice skating ku tadi. Dengan berjalam sedikit pincang, namun tidak begitu masalah.

Dinginnya udara seakan menembus cafe ini, ditambah lagi dengan udara dari AC. Dingin begini memang paling pas ditemani minuman hangat, juga dengan dia. Sudah-sudah, sejak kapan aku jadi bucin begini.  Aku meneguk secangkir hot coffee latte. Sebenarnya bukan cangkir, tapi aku terlalu bingung untuk menjelaskannya. Sejenis tumblr mungkin?

Terbesit hadir seseorang dalam benakku. Tentang senyuman indah itu. Sudahlah, aku tidak mau memikirkannya lagi, "Ayolah Rhe, jangan bucin! Jangan bucin!"

(Just) Winter Journal: About Winter, You, and FeelGeschichten, die süchtig machen. Entdecke jetzt