P R O L O G U E

94 11 7
                                        

Langit rabu ini sedang tak senang, awan menutupi angkasa yang seharusnya jingga menjadi kelabu. Meski hanya rintik yang diturunkan langit, tapi mampu membuat dua sejoli itu tertahan di tempatnya. Dengan segelas latte yang mulai mendingin didekap genggaman, gadis itu bersuara.

"Jadi, kenapa kamu pilih aku?"

Pertanyaan random yang gadis itu suarakan menarik perhatian seseorang yang sedari tadi fokus menelaah kelabu di luaran sana. Pemuda itu menoleh, sekilas. Setelah itu kembali menapat jalanan basah yang tetap ramai oleh lalu lalang.

"Just a simple, karna itu kamu." Jawabnya.

Si gadis diam, menatap si pemuda datar dengan gelas lattenya yang sudah ia simpan di atas meja, kedua tangannya ia silangkan, lalu punggungnya sudah ia sandarkan pada sandaran kursi.

"Meanstrim." Ujarnya datar.

Pemuda itu malah tertawa renyah, melihat gadisnya kesal dalam waktu yang singkat sebab alasan kecil. Lalu lalang yang sedari tadi menjadi candunya mulai ia tinggalkan, terganti raut kesal yang entah mengapa menjadi tujuan akhir netranya.

"Jadi maunya dijawab apa?"

"Apa kek yang romantis." Kesalnya lagi pada si pemuda.

"Emang itu tadi kurang romantis?"

"Itu tuh jawaban paling meantsrim di seluruh jagat raya, by." Ujar si gadis dengan nada di lebih lebihkan.

"Aku gak punya jawabna lain. Menurut aku, kenapa aku pilih kamu ya karena itu kamu, bukan orang lain. Kalau kamu orang lain aku gak mungkin pilih kamu, by."

Ada jeda yang diberikan, agar suara rintik diluar sana tak begitu tersamarkan. "Give me your hand." Pemuda itu mengulurlkan tangannya, meminta balas uluran tangan sang gadis. Kedua tangan itu bertautan, menghantar hangat masing-masing.

"Ada banyak hal yang memang gak bisa dituntut alasannya. Kenapa aku pilih kamu pun, aku gak punya alasan selain karena itu kamu. Atau alasan kenapa kita suka banget sama sunset, oke 'cause sunset is beautifull, but just that? Kenapa harus sunset sementara ada siang dan malam yang lebih lama waktunya dari pada senja?"

Digenggamnya erat tangan sang gadis yang kian dingin, "I love you without due."

Netranya masih enggan teralihkan dari sang gadis. Seperti terhipnotis suasana juga topik obrolan yang menjadikan candu dengan hangat suasana petang itu.

"Kalau aku nanya, kenapa kamu suka sama aku? Kamu bakal jawab apa?"

"Sama kaya kamu." Ucap sang gadis pelan.

Terdengar dengusan kesal sebelum ia hempaskan pelan tangan sang gadis, lalu berujar masam, "ck, copas. Yang romantis dong jawabnya."

"Dendamnya ih by, jelek."

***

***

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jun 12, 2020 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

YOUWhere stories live. Discover now