Prolog

1K 69 8
                                        

Tiga hari sudah Nadine melewati Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMA Nusantara. Hari ini ia mulai bersekolah seperti biasa dengan kelas yang baru dan teman baru yang beberapa ia kenal kemarin. Namun tetap saja mereka masih terlihat canggung.

Dengan langkah gontai Nadine mulai memasuki kelas barunya. Pandangannya tertuju pada bangku paling belakang yang tampak masih kosong. Ia pun langsung menuju bangku itu. Setelahnya mendarat duduk dengan santai. Kelas yang tadinya hening perlahan mulai riuh, terlebih murid laki-laki yang gampang akrab satu sama lain. Namun sampai bel masuk berbunyi pun tak ada yang memilih duduk di samping Nadine. Apakah murid dikelas ini ganjil? pikirnya.

Namun pikirannya salah, tak lama kemudian datang seorang lelaki tinggi dengan badan atletis, yang tengah berjalan menuju bangku dimana Nadine duduk. Penampilannya tak begitu rapi, bahkan ia tak memakai dasi. Nadine ingat, cowok itu yang kemarin sempat menghebohkan acara pentas seni penutupan MPLS. Cowok itu ketahuan tidur dan berakhir dengan hukuman menyanyi. Bukannya memalukan, justru ia membuat cewek-cewek terpesona karena ketampanannya dan suaranya yang lumayan. Selepas itu, ia juga diserbu oleh cewek-cewek pemburu fotbar cowok tampan. Ambyar sudah acara pentas seni itu. Detik itu juga mungkin cowok itu punya fansclub di SMA Nusantara.

Kedatangan cowok itu di kelas ini membuat para cewek terdiam. Menatap si tampan yang berjalan ke meja belakang.

"Anjay, lo lagi. Beneran sempit banget nih dunia dah." celetuk seorang cowok meja sebelah, yang malah mendapat toyoran dari cowok itu.

Memilih abai dengan cowok meja seberang, cowok itu mendarat duduk di samping Nadine. Ia menyapa Nadine dengan alis naik turun dan senyuman. Senyum yang Nadine akui sangat manis. Belum sempat berkenalan, seorang guru berperawakan ramping dan terlihat ayu itu memasuki kelas. Suara heels-nya yang beradu dengan lantai menggema, yang setelahnya mereka ketahui guru itu bernama Rahma Sari.

Atas perintah Bu Rahma, satu persatu murid dikelas MIPA 2 memperkenalkan diri.

                                ***

"Nama saya Nadine Alexa Adhitama, biasa dipanggil Nadine."

Nadine Alexa Adhitama
Cewek cantik, pintar, tak begitu feminim -terbukti dengan sikap masa bodoh sama penampilannya dan semua hal di sekitarnya. Dia juga tidak sepenuhnya good girl, seringkali ia menikmati masa sekolah dengan temannya yang kebanyakan cowok. Santai adalah jiwanya. Cewek yang kata abangnya jail sejak lahir itu tengah tampil sedikit kalem di kelas barunya saat ini.

"Oke terakhir," titah Bu Rahma.

"Nama saya Elvan Adrian Samudra, panggil aja Elvan, tambahin Elvan ganteng juga boleh." ucap cowok di samping Nadine yang memperkenalkan diri dengan kepedean tingkat dewa, yang setelahnya membuat seisi kelas tertawa.

Elvan Adrian Samudra
Cowok yang duduk di samping Nadine saat ini, yang sedari tadi perhatiannya tak lepas dari cewek itu. Anak kedua dari keluarga Samudra yang terkenal kaya, tampan, pintar, sering bertindak konyol, dan juga bad boy -terbukti dengan seragamnya yang tidak rapi, rambutnya apalagi menambah kesan bad boy-nya. Dari caranya memperkenalkan diri, sudah pasti dia punya kadar percaya diri tingkat dewa, yang biasanya mahir menggoda wanita.

Berikutnya Bu Rahma menjelaskan tentang informasi-informasi di sekolah, yang bahkan Nadine sudah terlihat bosan mendengarnya. Semua sekolah monoton, itu-itu saja aturannya, pikirnya. Jika saja ia masih di SMP-nya dulu mungkin ia sudah tertidur pagi ini.

Sedangkan cowok di samping Nadine terlihat mendengarkan Bu Rahma dengan santainya. Mulutnya sedari tadi mengunyah sesuatu tiada habisnya, yang Nadine yakini cowok itu hobi makan permen karet.

Ctakk..

Gelembung balon permen karet yang dibuat cowok itu pecah. Seketika membuat Nadine menoleh kearahnya dengan muka datar. Sedangkan ia hanya nyengir kuda lantas menyapa.

"Sharen?"

Kening Nadine mengerut. Sharen siapa?

"Sharen? Gue Nadine, anjir!" jawab Nadine yang tengah heran.

"Eh iya sayang. Eh maksud gue iya Nadine."

"Dasar buaya!"

"Lo cinta gue yang ilang kan? Iya, ga salah lagi, itu lo."

Nadine hanya bergidik ngeri. Mulai detik itu pula jagat Nadine dibuat gila oleh cowok ganteng sedikit konyol bernama Elvan. Yang kelak harinya tak pernah lepas dengan cowok itu, mulai dari berangkat bersama hingga skip pelajaran pun bersama.

***

ELVANADINETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang