Denden

34 4 0
                                        

Ini adalah cerita saya, Denden. Sebelum berlanjut, izinkan saya untuk memperkenalkan diri. Nama saya Deni Tri Permana Saputra, Denden adalah nama pemberian dari seorang yang sangat penting untuk saya. Siapakah dia? tunggu sejenak, saat ini saya akan memperkenalkan diri saya terlebih dahulu.

Sebenarnya perkara memperkenalkan diri bukan keahlian saya, karena memperkenalkan diri berarti sedang menjelaskan tentang diri saya kepada seseorang yang baru. Untung saja perkenalan diri ini melalui tulisan bukan melalui kata. Entahlah, saya seperti memiliki keterbatasan untuk banyak berbicara kepada orang yang baru. Canggung selalu ada dan malu selalu menyatu dengan canggung itu, membuat saya membeku ketika sedang berada dalam temu dengan orang yang baru. Karena itu, banyak orang menganggap saya adalah seorang introvert.

Memang menyusahkan memiliki kepribadian seperti itu, karena saya ingin mengerti tentang dunia luar, ingin merasakan memiliki banyak teman, dan ingin membantu banyak orang. Namun, takdir berkata lain, keinginan saya nampak sangat mustahil untuk diwujudkan. Kepribadian saya menghalangi saya untuk mewujudkan itu, entah hal yang harus saya benci atau hal yang harus saya syukuri. Benci karena saya tidak bisa mewujudkan keinginan saya dan harus di syukuri karena dengan begitu saya terjauh dari seseorang yang mengaku teman tapi sebenarnya adalah lawan.

Hal menyedihkan lainnya yang kian hadir di hidup saya adalah sering datangnya hinaan dan cacian karena fisik saya yang lemah. Iya lemah, saya mengatakan lemah karena memang saya sering tidak bisa menjaga kondisi fisik saya dalam keadaan primanya. Bukan tidak kuat menghadapi kenyataan yang ada, namun hanya merasakan risih mendengar suara yang menjatuhkan.

"Kenapa sering tidak berangkat sekolah?! kenapa sering tidak hadir dalam jam pelajaran saya?! kenapa sakit nya ketika jam pelajaran saya?!"

Ya seperti itu lah kalimat yang sering saya dengar, sangat luar biasa bukan. Saya tau pertanyaan seperti itu sangat wajar untuk ditanyakan oleh seorang guru terhadap muridnya yang tidak masuk sekolah. Tetapi ada yang perlu digaris bawahi dari kalimat tanya di atas, "Kenapa sakit nya ketika jam pelajaran saya?!".
Menurut saya, ketika seseorang ditanya seperti itu pasti tidak akan ada jawaban, karena memang pertanyaan yang ditanyakan sangat tidak masuk akal. Apakah di dunia ini datangnya sakit itu direncanakan?, Ya sudah lah tak apa, saya hanya bisa diam.

Setiap orang terlahir dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing, seharusnya hal seperti itu sudah umum banyak diketahui oleh orang di luar sana. Namun, pada kenyataannya tidak seperti itu. Banyak orang dapat menghakimi sesuatu secara sepihak hanya karena melihat sisi buruknya yang nampak, tanpa berpikir dibalik sisi buruk itu sebenarnya ada apa.

Memang sungguh kejam dunia, apalagi untuk seseorang seperti saya yang kurang bisa mengutarakan semuanya lewat suara. Hanya dengan menulis, saya merasakan lega dan tenang karena telah menuangkan semuanya melalui setiap kata yang ada.

Tidak adil rasanya jika saya hanya menceritakan kelemahan saya, kelebihan saya juga perlu untuk diceritakan di sini. Untuk seseorang yang tidak bisa berbicara banyak, tentu saja mendengar adalah hal yang disukainya. Walau saya pendiam, saya juga memiliki sejumlah teman dekat. Tidak banyak tetapi cukup untuk mengusir sepi yang ada. Kata mereka saya adalah pendengar yang baik, pendengar sekaligus detektif yang dapat membantu mereka untuk mencari jalan keluar dari masalah-masalah yang diceritakan kepada saya. Mereka beranggapan bahwa saya seperti memiliki bakat untuk mengerti orang lain, bakat untuk menjadi seseorang yang banyak dibutuhkan oleh orang-orang di luar sana.

Dengan menjadi pendengar yang baik, setidaknya saya sudah mewujudkan salah satu keinginan saya, yaitu Membantu Orang lain. Seseorang yang menjadi pendengar ketika memiliki suatu masalah biasanya akan sulit untuk menyelesaikan nya. Karena pada umumnya si pendengar ini hanya memendamnya sendiri, ingin mengutarakan nya namun tidak memiliki pendengar. Sangat rumit memang, dari situ kita tahu bahwa seorang pendengar adalah seseorang yang kuat, seseorang yang berani mengambil resiko untuk banyak membantu orang, namun masalahnya sendiri diabaikan dan dinomor duakan.

"Banyak mendengar bukan berarti dirinya tidak butuh untuk didengarkan."

Seperti itulah yang dirasakan oleh seseorang yang menjadi pendengar. Takdir membuat hidup saya menjadi lebih mudah. Ketika saya berperan sebagai pendengar, ternyata saya juga kedatangan seorang pendengar yang baik juga, iya dia adalah seseorang yang saat ini banyak mengetahui tentang saya.

Kehadirannya sungguh berarti dan takan mungkin dapat terganti. Seorang wanita yang lugu, dengan lengsung pipit yang menempel di pipi mungil nya, di tambah lekukan bulan sabit indah yang muncul di bibirnya, kerap membuat saya merasakan tenang dan selalu berhasil untuk membuat saya senang. Kali ini, saya berharap banyak pada semesta, jangan jauhkan dia dari saya, jangan hilangkan dia dari hadapan saya, ku mohon tetap di sini hingga waktu menjemput tua. Inilah sedikit kisah tentang saya, kisah tentang nya akan saya bahas di bagian selanjutnya. Sekian dan Terimakasih :)

Denden & BelbelWhere stories live. Discover now