Halo, aku Linzy. Setelah sekian lama akhirnya dia berbicara soal perasaanya.
Aku suka sama kamu, aku sayang sama kamu, tapi aku ga pengen kita pacaran. Gimana?
Oke, aku bingung harus bahagia atau bagaimana. Saat membaca pesan nya aku senang, tapi saat tahu aku tidak akan memiliki hubungan yang jelas, aku kembali terdiam. Pada akhirnya ku jawab setuju. Setuju untuk bersama dia tanpa hubungan. Aku tahu resikonya, aku atau dia akan terluka. Walau begitu aku tetap ingin mencoba, itu kesepakatan kami.
Beberapa bulan setelah pernyataan itu, aku dan dia layaknya sepasang kekasih dimata orang lain. Makan bersama, antar jemput, chat, telponan, bahkan bertemu kedua orang tuaku. Namun jika ada yang bertanya hubungan ku dengan nya, tentu aku akan menjawab,
"Kita ga pacaran kok, serius. Tanya aja ke dia."
Sakit memang, tapi aku bisa apa?
"Hubungan tanpa status itu cuma bakal nyakitin kalian berdua. Zy denger, hubungan lo sama dia kayak diiket karet tau ga?"
Aku menatap Khanza bingung, hubungan nya dengan karet apa?
"Lo emang ada hubungan sama Bian, tapi lo juga masih bisa deket atau jalan sama cowok lain, dan Bian ga bisa marah ke lo karena dia bukan siapa-siapa nya lo. Gitu pun sebaliknya, terikat tapi elastis. Lo yakin kuat? Liat status dia bareng cewek aja lo nangis Zy."
Aku tahu aku lemah, keras kepala juga.
"Aku pengen nyoba Za, semoga aja kita sama-sama kuat. Aku nunggu Bian dari taun lalu bisa kok."
"Gimana lo aja deh. Tapi lo harus tau juga, hubungan kayak gini rata-rata gagal. Mau dari pihak cewek yang ga kuat nahan sakit, atau pihak cowok yang ngerasa bosen."
Aku hanya mengangguk membalas perkataan Khanza. Dia benar, tapi aku percaya aku tidak akan menyerah sampai hubungan kita jelas.
VOUS LISEZ
Dear Diary (TAMAT)
AléatoireDitulis dengan tujuan utama, curhat :) Tentu saja ditambah sedikit unsur halu. Maklum ya, hehe Seluruh cerita Tia dapet dari orang orang yg curhat ke Tia, tentu Tia udah dapet izin dari yg punya. Didalem ini bakal ada beberapa cerita yang berbeda da...
