Seorang gadis tengah duduk di pojok kelas siang itu, menikmati semilir angin bertiup perlahan menerpa dan menggerakkan beberapa helai rambutnya menutupi wajah. Gadis yang tadinya sibuk berkonsentrasi memperhatikan penjelasan wanita tua di depan kelas kini menatap keluar jendela, memperhatikan dedaunan yang asik menari bersama sang angin.
Line!
Gadis itu seketika melebarkan matanya, menyadari bahwa dia lupa mengubah nada dering ponselnya menjadi silent. "Maaf," ucapnya kikuk pada puluhan mata yang menatap padanya. Begitu juga dengan wanita tua di depan kelas, gadis itu harus menunduk rendah untuk meminta maaf karena mengganggu kelas.
"Kau gila?" Kiki —teman sebangku gadis itu berbisik, melirik sekilas guru fisika mereka yang terlihat hendak melontarkan hukuman. Namun sepertinya dia cukup beruntung karena bel istirahat bersuara lebih cepat dibanding Bu Lina.
"Jangan lupa untuk mengerjakan evaluasi bab hari ini," Bu Lina mengakhiri kelas dan pergi keluar setelah mendapat jawaban dari seisi kelas.
"Tidak ke kantin?" Kiki bertanya pada gadis itu, menginterupsi kegiatannya bermesraan dengan ponsel.
Dia tak menjawab selama beberapa detik, "Sebentar," ucapnya lalu memfoto meja tempat mereka duduk, "Ayo!"
Kiki hanya bisa menghela nafas melihat temannya, sudah pasti untuk si pengirim pesan istimewa itu.
"Jina, aku benar-benar tak bisa berkomentar lagi tentangmu."
Jina tersenyum lebar, "Kau tidak perlu berkomentar. Ayo ke kantin, aku sudah lapar," sahutnya menggandeng tangan Kiki untuk berjalan bersamanya.
Jina memang gila. Kurang lebih begitulah gambaran Kiki tentang teman sebangkunya —Jina. Mereka sudah berteman sejak kecil, tepatnya sejak kepindahan Jina ke dekat rumah Kiki ketika mereka berusia 5 tahun, dan sejak itulah mereka menjadi dekat, bersekolah di sekolah yang sama, dan memiliki kegilaan pada hal yang sama, boyband beranggotakan pria-pria tampan. Namun untuk hal terakhir ini, Jina lebih parah dari Kiki. Terbukti dengan beberapa bulan terakhir, saat Kiki menemukan sebuah akun roleplayer dan membagikannya dengan Jina, gadis itu semakin tak terkendali dengan sering sekali bertukar pesan dengan si roleplayer itu. Meski setiap ditanya jawaban Jina hanya untuk mengisi waktu luang, Kiki justru semakin khawatir karena imajinasi Jina kian berkembang jauh.
Mengira idolanya juga menyukainya. Positif, Jina memang gila.
🎤🎤🎤
5 tahun kemudian..
Salju musim dingin tahun ini sudah berjatuhan, menutupi jalanan kota dengan warna putihnya dan mempertajam suasana liburan yang sebentar lagi datang. Namun beberapa orang masih terlihat sibuk menenteng tas kerja mereka, tak jauh berbeda dengan orang-orang itu, seorang gadis dengan surai sebahu berwarna coklat berjalan menyusuri jalanan, ia beberapa kali terlihat tersenyum menatap toko-toko yang sangat kreatif memasang hiasan natal mereka.
Mata gadis itu terus berkelana menatap setiap sudut kota, hingga matanya menangkap sesuatu yang menarik. Hiasan natal toko di seberang jalan, mereka memajang foto besar boyband terkenal tahun ini yang berpose dengan manis, lengkap dengan kotak kado berwarna hijau dan merah menjadi atribut foto mereka.
"Permisi," suara itu akhirnya membuatnya kembali tersadar dari lamunan, sempat tersenyum bodoh sebelum membawa diri memasuki restoran.
"Terima kasih," Gadis itu tersenyum sambil menerima kembali kartu kreditnya, tepat saat mendengar ponselnya berdering.
"Halo?" gadis itu mengawali pembicaraan.
"Jina, kau dimana?"
"Saya sedang dalam perjalanan kembali ke butik,"
JE LEEST
Stigma
FanfictieAku hanya tidak percaya sosok seperti Kim Taehyung bisa membuatku kecewa separah ini.
