Awal Kepahitan

149 4 0
                                        

Seperti biasanya, malam hari selalu datang bersamaan dengan sunyi dan sepi. Tak ada suara selain suara jangkrik dan serangga-serangga lain. Hembusan angin malam menyelinap ke sela-sela rumah dengan membawa udara dingin.

Jam sudah menunjukkan pukul 01.16, namun mata Aisyah belum juga dapat terpejam. Ia menatap putranya dengan penuh belas kasih sembari membelai rambutnya yang hitam lebat.

Dipandanginya wajah sang anak yang begitu mirip dengan suaminya. Alisnya yang tipis dan hidungnya yang bangir selalu mengingatkan Aisyah dengan wajah seseorang yang sangat ia rindukan.

Usman, suami Aisyah yang sudah 3 tahun tak memberi kabar itu mewariskan senyumnya yang manis pada sang anak. Itulah yang membuat Aisyah tak pernah bisa melupakan suaminya meski telah meninggalkannya bertahun-tahun.

Aisyah mencium kening putra tunggalnya sembari memejamkan mata. Entah mengapa, rasanya ingin sekali ia memeluk putranyanya yang tengah tertidur pulas itu. Perasaannya terasa tidak nyaman, gelisah, seperti memiliki firasat buruk.

BUG!! BUG!!

Tiba-tiba terdengar suara aneh dari arah dapur.

'Suara apa itu?' gumam ibu anak satu itu dalam hati.

Kegelisahannya makin menyeruak. Jantungnya berdebar kencang. Dengan perasaan khawatir Aisyah memberanikan diri untuk mengecek darimana sumber suara itu.

Dengan langkah mengendap-endap, ia bertingkah seperti maling di rumahnya sendiri. Sembari mengatur nafas Aisyah memandang ke arah dapur yang gelap. Ia mencari saklar lampu dan segera menekannya. Seketika suasana menjadi terang benderang.

Spontan kedua mata Aisyah membelalak seperti hendak melompat, tubuhnya bergetar hebat setelah melihat dua orang pria berbadan tegap dan memakai pakaian serba hitam, wajahnya tertutup rapat oleh topeng kecuali mata. Mereka berhasil menyusup ke rumah Aisyah. Salah satu diantara mereka nampak menggenggam sebilah pisau.

"Astaghfirullah hal'adzim!! Maling! Maling!" teriak Aisyah sekencang-kencangnya. Suasana berubah mencekam.

Mendengar teriakan sang ibu, Ali pun terbangun  dari tidurnya kemudian segera melompat dari tempat tidur dan berlari menuju dapur.

Dua orang pria tersebut seketika panik dan segera menyergap Aisyah. Salah satu dari mereka mencengkram kedua tangan wanita lemah itu agar ia tak dapat berkutik.

Aisyah semakin meronta, berharap teriakannya dapat mendatangkan bantuan.

"Tolong! Ma ...." Pria bertato di hadapannya itu segera membungkam mulut Aisyah dengan tangan berototnya. Aisyah semakin tak berdaya.

Dengan sekuat tenaga ia berusaha melepaskan cengkraman dua pria biadab itu. Namun tenaganya tak sanggup melawan kekuatan dua orang pria sekaligus. Tangannya mulai terasa perih, ia pun merasa sulit bernafas karena mulut dibungkam.

"Ibu!!" pekik Ali seraya berlari mendekati sang ibu.

Aisyah semakin panik. Iya menatap mata putranya dengan tajam, seperti memberi kode agar anaknya segera pergi dari tempat itu. Sayangnya Ali hanya anak kecil yang polos dan tak ingin melihat ibunya menderita.

Ali tak mengerti harus berbuat apa. Yang ada dalam pikirannya hanyalah 'ia harus menyelamatkan ibu'. Tanpa berpikir panjang Ali segera menarik tangan pria yang mencengkram mulut ibunya sekuat tenaga.

"Lepaskan ibu saya!" perintah bocah bertubuh kurus itu dengan lantang.

Tangan Ali berhasil melepaskan cengkraman pria itu dari mulut Aisyah. Aisyah langsung menarik nafas panjang, mengisi rongga paru-parunya yang mungkin mengerut karena kekurangan oksigen.

Tangan pria biadab itu mendorong Ali dengan kuat sehingga ia tersungkur ke lantai. Ali melihat dengan jelas ukiran tato pada bagian lengan atas pria yang mendorongnya. Tato yang gambarnya menyerupai naga atau apalah itu.

"Pergi Ali!!" bentak Aisyah kepada anaknya.

"Ibu ..." lirih Ali menangis ketakutan. Ia tak ingin beranjak pergi bila tak bersama ibunya.

"Maling!! ... Tolong!!" teriakan anak dan ibu itu saling bersahutan.

Kepanikan dua pria itu semakin menjadi-jadi. Tanpa pikir panjang pria bertato tadi menghunuskan pisau di tangannya ke perut Aisyah.

"Aaaa ... " rintih Aisyah. Benda asing itu berhasil masuk ke tubuhnya dan merobek isi perutnya tanpa ampun. Kedua matanya terbelalak seakan-akan melihat malaikat maut datang menjemputnya. Perlahan tubuhnya mulai melemah.

"Ali ... " lirih ibu satu anak itu. Suaranya hampir tak terdengar oleh siapapun. Pandangan matanya mulai rabun. Ditatapnya sang buah hati yang tengah menangis terisak-isak.

"IBU!!!" Teriakan pilu Ali menggema di telinga Aisyah.

Aisyah tak sanggup untuk berdiri lagi. Ia tersungkur ke lantai yang mulai ternodai oleh cairan merah. Selang beberapa detik kemudian Aisyah tak sadarkan diri.

"Ibuuu!!!" pekik Ali lagi. Tangisan bocah itu pecah. Ia bahkan tak sanggup untuk menggerakkan kakinya. Hatinya bagaikan diremas kepiluan hingga hancur.

Ali melihat dengan matanya sendiri bagaimana pria jahat itu melukai wanita yang paling berarti dalam hidupnya.

Dua pria itu berhasil melarikan diri lewat jendela yang tak terlalu tinggi, kemudian menghilang dari pandangan bocah malang itu.

Ali menangis sejadi-jadinya. Ia mendekati sang ibu yang terkulai lemah kemudian memeluknya. Tangis pilu anak itu terdengar lantang sehingga beberapa tetangga datang berhamburan menuju kontrakan yang dihuni Ali dan ibunya. Mereka mendobrak pintu kontrakan tersebut lalu masuk.

"Ibu jangan tinggalkan Ali," tangis anak itu. Rintihannya menyayat hati siapapun yang mendengarnya.

Ali memeluk jasad sang ibu dengan kuat. Tak peduli dengan pakaiannya yang kotor terkena darah yang terus mengalir dari perut Aisyah. Ali mendekatkan wajahnya pada wajah sang ibu hingga air matanya membasahi pipi Aisyah.

Para tetangga itu hanya diam terpaku. Salah satu ibu-ibu dari mereka mendekati Ali kemudian mengelus bahunya, memberikan Ali kekuatan.

"Ali, yang sabar, Nak," ujar Halimah, pemilik kontrakan yang di tinggali oleh Ali dan ibunya.

Ali sama sekali tak menghiraukan wanita di sampingnya. Ia terus saja terisak-isak seraya memeluk sang ibu.

Seorang pria bertubuh kurus mendekat dan memeriksa denyut nadi Aisyah. Raut wajah pria itu seketika berubah, ia kemudian menggeleng lemah.

"Innalillahi wa inna ilaihi roji'un," lirihnya kemudian menatap ke arah beberapa warga yang lain.

Bagai tersambar petir. Dada Ali seketika sesak mendengar kalimat yang terlontar dari mulut pria itu. Tubuhnya lemas seakan-akan nyawanya ikut tercabut.

"IBU!!! ...." Ali semakin meronta dan tak terkendali. Ia tak menyangka setega itu Aisyah meninggalkan dirinya yang masih berusia 11 tahun.

"Ibu bangun, Bu ... Ibu jangan tinggalkan aku ... Ibu ... Aku tinggal dengan siapa jika bukan dengan ibu ...." Isak tangis bocah itu memecahkan keheningan malam.

Kalimat yang terucap dari mulut pria itu tak hanya memisahkan Ali dengan sang ibu, tapi juga memisahkan Ali dengan masa kecilnya.

Aisyah telah pergi. Meninggalkan putra kecilnya untuk selama-lamanya dan menyisakan luka terdalam bagi Ali.

*Selanjutnya di aplikasi Novelme dengan judul yang sama*

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Sep 30, 2020 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Bukan Malaikat [Pindah Ke Novelme]Stories to obsess over. Discover now