Prolog

114 14 2
                                        

Reza dan Rezi sedang duduk berdua di dalam sebuah kafe tempat yang biasa mereka kunjungi di kota Pahlawan yaitu Surabaya. Mungkin hanya untuk menikmati waktu santai,melepas penat,atau berkumpul berasma teman-teman mereka. Atau yang biasa Rezi lakukan yaitu menggoda para pengunjung wanita yang ada disana.

Setelah beberapa jam mereka berada disana dan hanya memesan minuman kesukaan mereka, masing-masing hanya diam. Hal biasa bagi Reza yang hanya diam dan menghisap rokoknya, tapi tidak untuk Rezi yang biasanya centil melihat para wanita dan menggoda mereka, tapi kini mereka hanya diam. Sampai salah satu dari mereka mulai membuka suara.

"Bang, lo yakin mau pindah lagi?" Rezi bertanya membuka suara.

"Yakin." Reza menjawab dengan cuek.

"Emang kita mau pindah kemana sekarang?" Tanya Rezi lagi yang masih bingung.

"Bandung." Jawab Reza singkat.

"Apa pelatih yang nyuruh kita pindah lagi?". "Hmmm." Jawab Reza dengan gumaman. "Kita bakal ada disana sampai lulus sekolah nanti." tambahnya. 

Mereka terbiasa menggunakan bahasa seperti itu karena mereka pernah tinggal di Ibu Kota beberapa tahun sebelum pindah ke Surabaya. Mereka tidak berpindah tanpa alasan, tapi karena sesuatu yang mereka kerjakan sedari dulu untuk mendapatkan uang. Yaitu dengan menjadi petarung jalanan,dan mereka berpindah-pindah karena pelatihnya yang  meminta mereka.

Seperti yang saat mereka bicarakan sekarang, mereka akan pindah lagi lebih tepatnya ke Bandung. Karena menurut pelatihnya,Bandung memiliki petarung yang beragam dan juga kuat. Meskipun begitu, belum pernah ada yang mampu mengalahkan mereka berdua.

Reza dan Rezi mulai menjadi seperti ini sejak ditemukan oleh pelatihnya di pinggir jalan dengan kondisi yang tidak baik. mereka dibawa dan  dilatih hingga menjadi seperti sekarang dan mendapatkan uang juga fasilitas dari hasil yang mereka kerjakan. Sehingga mereka tidak perlu lagi meminta uang kepada orangtua nya. Hal itu dikarenakan keluarga mereka tidak bisa dikatakan keluarga yang berada.

"Yaudah bang,emang kapan kita berangkat?" Rezi beratanya kembali dan dengan malas Reza menjawab pertanyaan adiknya itu "Besok". Dan saat Rezi ingin bertanya lagi dengan cepat Reza memotong.

"Tap..."

"Brisik lo."

"Yeee... Sewot banget sih lo jadi abang, gua kan cuma nanya."

"Hmm."

"Namanya juga penasaran."

"Bisa diem ga sih lo? pokonya tar dirumah beresin barang-barang yang mau dibawa besok. Kita berangkat jam 10 pagi ke bandara. Dan gausah nanya lagi. Ngerti lo!!" Kata Reza dengan wajah datar dan cuek tapi tegas.

"Iyaa iyaa... Gitu aja ngambek." Ucap Rezi yang merubah ekspresi wajahnya memelas dan sedikit memanyunkan bibirnya. Karena dia mengerti ketia Reza mulai berbicara panjang,itu artinya Reza sudah mulai kesal. Dan Rezi terkadang suka membuat Reza kesal hanya untuk menggodanya.

"Oh iya bang, trus kita tinggal dimana? Trus sekolah kita gimana?" Tanya rezi lagi sedikit terkikik sengaja menggoda Reza lagi. Aah... sungguh adik yang durhaka, untung Reza sangat menyayangi adiknya itu. Karna jika tidak, sudah Reza lempar ke sungai sejak dulu.

Reza menarik nafas panjang, dengan malas Reza menjawab pertanyaan Rezi. "Kaya biasa." Singkat padat dia menjawab. Lalu Rezi kembali ingin melontarkan pertanyaan,tapi segera Rezi menyela dengan nada cuek.

"Trus bang..."

"Lo pengen gua hajar ya Zi..?" Masih dengan nada cueknya. Dan Rezi pun tertawa terbahak-bahak menertawakan kakaknya itu. "Eeh sans ae lah bang, ini nih temen-temen pada mau nyamperin kita. Katanya mereka lagi otw kesini." Sambung Rezi dan hanya di balas deheman dari Reza.

Selang beberapa menit, teman-teman mereka pun datang dan menyapa mereka. Dan mereka semua melakukan tos ala laki-laki dan langsung duduk bergabung dengan mereka."Eh beneran Za kalian bedua mau pindah ke Bandung,padahal kan disini enak dan banyak juga cewek cantik, ya gak Zi?". Kata Rony salah satu sahabat Reza dan Rezi "Iya sih,tapi kan masih kalah sama mojang Bandung" jawab Rezi dengan santai. "Enak aja kalo ngomong, cewe sini gak kalah cantik lagi. Kalo emang iya,ngapain kamu godain banyak cewek disini. Apalagi si Rani yang kamu jadiin selingkuhan ke-3". Balas Januar menjelaskan kelakuan playboy Rezi yang tak terbendung,dan tawa mereka semua pun pecah kecuali Reza.

Sejak beberapa hari mereka berdua datang ke Surabaya. Sahabat dan teman mereka sengaja menggunakan bahasa Indonesia bukan karena Reza dan Rezi tidak mengerti bahasa Jawa. Mereka mengerti tetapi tidak semua mereka paham. Mereka semua juga tahu apa yang mereka kerjakan setelah melihat wajah kakak beradik itu lebam,dan Rezi menjelaskan semua yang mereka berdua lakukan hingga mendapat luka lebam di wajah mereka. Dan teman-temannya pun mengerti dengan penjelasan Rezi

"Aah daripada si Reza, ga pernah tuh kita liat pacaran. Boro-boro pacaran,deket sama cewe aja gapernah". Ucap Rezi meledek Reza yang menatapnya tajam dan seketika Rezi menyengir kuda lalu meminta maaf. Melihat sikap Rezi, para sahabat mereka pun menertawainya dan salah satu dari mereka menepuk pundak Rezi dan berkata "Mamam tuh di pelototin sama macan,kamu sih berani banget godain Reza yang ketawa aja susah apalagi diajak becanda. Tapi bener juga sih yang kamu bilang" ucap Eka dengan niat juga menggoda Reza.

Setelah itu mereka semua melihat Reza yang berdiri hendak pergi dan tangannya pun dicekal oleh Rezi. "Yaelaah bang mau kemana siih... gitu aja ngambek kek cewek pms". Kata Rezi dengan mimik wajah memelas seperti anak kecil yang direbut mainannya. "Pulang,beres-beres" jawab Reza cuek, "Eh iya... gua lupa juga harus siap-siap buat besok." Balas Rezi dan langsung pergi menyusul Reza yang sedang membayar minuman yang ia pesan tadi.

"Bro aku ikut kerumahmu yaa?? Terakhiran laah kita nginep di rumah kalian,kan kalian mau pindah." Ucap Ilham yang berteriak seolah sedang berada di tengah lapangan. Dan hanya dijawab anggukan dari Reza. Dalam hati Reza berkata "Ancur lagi dah rumah gue". Terpaksa Reza mengizinkan mereka menginap dirumahnya karena alasan Terakhiran jika tidak, Reza langsung menolak mentah-mentah karena dia yakin rumahnya akan hancur seperti habis diguncang gempa saat para sahabatnya menginap seperti beberapa waktu lalu.


Welcome to my first story...

And hope you like it.




                                                                                                                   Hanss...

The UnbeatableWhere stories live. Discover now