Seperti biasa, ibukota dipadati oleh roda roda yang berjalan. Harus lebih awal jika tak ingin merasakan padatnya ibu kota, namun tidak semua orang bisa melakukannya, padahal sudah tahu konsekuensinya.
kecemasan kini sudah menemani perempuan berkuncir pita di dalam mobil saat ini. Cemas akan hukuman yang akan menimpanya saat menginjak kakinya di tanah sekolahnya nanti,Cemas akan ulangan pada jam pertamanya, dan masih banyak kecemasan - kecemasan yang bertumpuk menjadi satu untuk menemaninya saat ini.
"Pak pak pak berhenti, aku turun aja." keputusan itu mungkin tak akan bisa memecahkan masalahnya atau menghilangkan kecemasannya, namun hanya ini, yang bisa ia lakukan untuk menghindari kata terlambat dan terjebak di dalam mobil ini.
"Jangan neng, bapak anter saja." hanya itu, ia takut dimarahi oleh tuannya tidak mengantarkan putrinya sampai ke depan pintu gerbang dan selamat.
"Gapapa pak, aku turun aja, aku cari ojek online aja"
Berlari dengan kecemasan, sumpah serapah sudah ia katakan, ada yang menumpuk di dalam dirinya saat ini, kekesalan yang tak bisa ia luapkan,ia berharap ada penolong yang bisa menolongnya .
Deru motor ninja kini sedang bersuara, ada seragam putih abu-abu di dirinya, persis sama seperti apa yang ia kenakan .
Ide ide yang memalukan berterbangan di dalam fikirannya, gengsi. Namun harus ia kubur dalam dalam fikiran itu , terpaksa.
"Woyyy" ia berhasil memberhentikan motornya , namun tak ada sahutan yang terucap dari sang punya motor, tak ada tindakan pula, hanya diam.
"Tebengin guaaa yaaaa, pleasse" mata permohonan nampak di matanya, ia tidak tahu siapa yang ia minta permohonan itu, ia tak peduli, untuk saat ini hanya tebengan yang ia harapkan, setelah itu selasai.
Memang begitu dasarnya manusia akan datang ketika ia sedang butuh, lalu ia akan menghilang saat ia sudah tak butuh.
" Gak" singkat, padat, jelas.
"Tolong, sekali ajaaa, habis itu uda selesai"
"Lu ngerti bahasa indonesia ga sih? Kalo engga ya engga"
"Galak banget yaampun, kalo aja bukan karena telat gua juga males ngemis ngemis kaya gini" umpatnya dalam hati
"Minggir" sambungnya
"Seriusan gamau nebengin?" pertanyaan lengkap dengan raut wajah memelas, berharap ada penyesalan,terlihat menggemaskan.
"Iyaaa"
Baginya kata kata sudah tak mempan agar dia bisa bareng ke sekolah, harus ada tindakan. Dan benar saja kini gadis cantik itu sudah ada di motor ninja itu. Siap untuk jalan, tak ada keraguan, tak ada rasa malu yang ia rasakan, yang terpenting baginya saat ini, ia bisa ke sekolah tanpa dihukum.
Benar benar lucu. gadis yang terlihat kalem seperti ini ternyata tidak sekalem yang mereka lihat, ada kenekatan yang sudah mendarah daging. terlihat lucu, menggemaskan, namun juga menjengkelkan.
"Ckkk" hanya umpatan kekesalan yang terucap, beribu ribu sumpahan sudah ia berikan. kesal, menjengkelkan, namun ia lihat ada keunikan di dalam diri gadis itu. Ia suka dengan keunikan itu. Namun ia harus bisa menghilangkan rasa itu, karena rasa sukanya tidak terbandingi dengan rasa kesalnya. Ia benar benar sudah muak untuk pagi ini.
Mungkin memang begitu manusia, beribu ribu keindahan, kebaikan, dan semua yang baik baik, akan tertutupi dengan satu kesalahan yang pernah di perbuat. Egois? ya memang begitu manusia.
YOU ARE READING
Dia
Teen FictionDiaa si lelaki dingin dan dia si wanita yang selalu berangan angan ingin memilikinya.... terimakasih udah milih cerita ini buat dibaca, aku harap kalian suka. Tungguin kelanjutannya yaaa.....
