Di depan bangunan tiga lantai dengan gapura yang menjulang tinggi bertuliskan SMA Adijaya terdengar klakson keras dari sebuah mobil mewah. Tanpa menunggu lama satpam langsung membukakan pintu gerbang lebar mempersilahkan mobil itu memasuki area sekolah. Padahal jam sudah menunjukkan pukul 07.45 WIB.
"Makasih, Mang. Yang itu nyusul ya. Nanti aku kirim, nomernya masih biasa kan?" teriak pengemudi dari dalam mobil setelah menurunkan setengah kaca mobilnya.
"Siap Neng, masih atuh," jawabnya seraya mengacungkan jari jempolnya. Yang dimaksud "itu" oleh gadis tersebut adalah paket kuota. Karena satpam SMA Adijaya yang tepatnya bernama mang Ateng itu penggemar berat aplikasi Smule, yang setiap detik, menit, dan jam selalu saja menyanyi di depan androidnya, walaupun hanya lagu Raja Dangdut yang selalu dinyanyikannya.
***
Setelah merasa mobilnya sudah pas di parkiran. I lalu turun dengan tas ransel yang disampirkan di bahu kanannya.
Baru saja beberapa langkah ia meninggalkan area parkir, sudah ada yang menghadangnya dengan berkacak pinggang dan disertai pelototan tajam dibalik kaca mata nya.
"Hehh!!! Jam berapa ini nona Rainetta Prastika Gutama?" teriak bu Bunga selaku guru BK SMA Adijaya ini.
"Astagfirullah, si Ibu bikin kaget aja. dikira makhluk apa," ucap gadis itu seraya mengelus dadanya, dan jangan lupakan wajahnya yang pura-pura terkejut. Ingat! Hanya pura-pura terkejut.
"Maksud kamu makhluk apa?" sarkasnya. Bu Bunga yang biasa Rain sapa bu Flower adalah salah satu guru terkiller di SMA Adijaya. Semua siswa enggan berhadapan dengannya. Tapi itu tidak berlaku untuk gadis yang sekarang ini.
"Hehehe ... ngga, Bu."
"Ck ... kamu lagi kamu lagi," ucap bu Bunga dengan memijat pelipisnya.
"Ibu lagi ibu lagi." jawab Rain menirunya.
"Sekarang apa alasan kamu terlambat Rainetta Prastika Gutama?" tanya bu Bunga dengan nada penuh penekanan di bagian terakhir nama gadis itu.
"Gara-gara begadang bu," jawabnya dengan wajah menunduk seperti merasa takut dan bersalah karena datang terlambat. Padahal itu hanya pura-pura.
"Apa yang kamu begadangin? Ngerjain PR? Belajar buat ulangan? Mana mungkin anak kaya kamu mikirin hal begituan."
"Mikirin wajah gantengnya Raka bu, kok bisa ya si Raka ganteng banget. Cocok sama saya yang cantiknya kaya Cinta Laura, imutnya kaya Lisa Black Pink, body seksi kaya Marion Jola, dan Suara yang indah nan lemah lembut ini kaya Raisa. Kapan ya si Raka jadi kekasih saya. Duhhh ... saya jadi malu curhat sama Ibu," ucap Rain dengan nada malu-malu yang membuat bu Bunga jadi geli sendiri melihat kelakuan muridnya yang satu ini.
Raka adalah siswa yang sedang diperjuangkan oleh Rain. Nama lengkapnya Raka Arkhana Rendra, manusia sedingin es, yang memiliki paras rupawan bak pangeran mahkota kerajaan.
"Curhat gundulmu!!!"
"Sudah sana masuk ke kelas. Besok-besok jangan telat. Gimana kamu mau jadi orang kalo sekolah aja masih suka telat. Itu juga rambut ngapain kamu kasih warna-warna gitu udah mirip anak ayam yang dijual didepan sekolah dasar. Besok diganti Rainetta!" lanjutnya dengan menunjuk rambut Rain yang memang diombre dengan warna abu-abu.
"Si Ibu kalo ngomong suka ngawur deh, emang sekarang saya apa wujudnya? Kan emang orang, ngapain jadi orang lagi. Atau Ibu liat saya itu bentuk lain ya? Bidadari ya? Emang sih banyak yang bilang saya itu jelmaan bidadari," jawab Rain dengan pe-denya.
"Saiko banget kamu itu ya! Sudah masuk sana ke kelas atau ibu do'a in supaya kamu gabisa jadi pacar Raka?" titahnya.
"Eh iya iya bu, jangan gitu dong bu Flower yang cantik jelita tapi masih cantikan saya. Serem banget do'a nya. Jangan marah- marah terus Bu, cepet tua loh nanti. Terus kalo suami Ibu pindah haluan ke janda anak tiga gimana? Lagi musim janda terdepan bu soalnya, ada lagunya juga pelakor ada di mana mana," ucap Rain dengan nyanyian dikalimat terakhirnya. Kemudian langsung lari meninggalkan gunung berapi yang sebentar lagi akan meletus.
Bu bunga yang mendengarnya mendelik sebal, hendak berteriak tapi percuma saja buang-buang tenaga untuk meladeni Rain yang memang sudah ajaib dari lahir. mungkin.
Alhasil ia hanya mengelus dadanya sambil beristighfar dan berdo'a kepada tuhan agar selalu diberi usus panjang untuk menghadapi muridnya itu.
"Lain kali jangan telat lagi woi!" teriak bu Bunga. Bu Bunga memang guru yang sedikit nyetrik dalam berbicara, terkadang malah dia sering menggunakan bahasa-bahasa gaul abg zaman sekarang.
Rain berbohong ketika ia mengatakan bahwa ia begadang memikirkan pujaan nya, itu hanya alibi. Sebenarnya ia terlambat karena ia baru bisa tidur setelah subuh tadi. Ia harus menemani dan menenangkan seseorang yang membuatnya harus berjaga sepanjang malam. Ia juga menjadi sebuah samsak untuk seseorang semalaman. Beruntung kantung mata nya sudah ia poles sedikit dengan make up jadi tidak terlalu kentara. Niatnya pergi ke sekolah cuma untuk menemui pujaan hatinya dan juga menenangkan pikirannya.
Kalian berfikir kenapa Rain tidak terkena hukuman oleh Bu Bunga? Jika kalian berfikir sekolah ini sangat bebas, kalian salah besar.
SMA Adijaya merupakan salah satu sekolah yang terkenal dengan kedisiplinan nya. Telat satu menit saja, tidak akan ada orang yang membukakan pintu gerbang. Tetapi peraturan itu tidak berlaku untuk gadis yang bernama lengkap Rainetta Prastika Gutama ini. Karena ia adalah cucu tunggal dari Adijaya Gutama yang merupakan pemilik SMA Adijaya.
Siapapun yang menghukum Rain, maka jabatannya lah yang akan terancam. Terlalu kejam memang. Tapi hidup di kota Metropolitan memang keras. Siapa yang memiliki jabatan tinggi, ia yang akan disegani.
Segini aja dulu ya, maaf kalo typo bertebaran.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa vote and comment ya:*
.
.
.
@tiaraaliyy
@penatiara5
YOU ARE READING
Tentang Rasa untuk Raka
Teen FictionAkan direvisi jika sudah tamat. Sebuah perjuangan yang tak berujung. Sudah banyak detik, menit, jam, hari, minggu, bahkan bulan yang dihabiskan oleh Rainetta Prastika Gutama si gadis pencinta hujan yang gila dengan segala tingkah ajaibnya untuk memp...
