Never click suspicious links
Reminder: Wattpad will never ask for passwords, payment information, or other sensitive account security details.

1. Mimpi

98 11 0
                                        

Selamat Pagi...

Bangunlah, seakan-akan kau terlahir kembali dari masa lalu yang kelam. Karena hari ini adalah waktu mu untuk berjuang meraih masa depan bukan masa lalu.

--💨--


"Kamu mau kemana?", tanya gadis kecil itu saat melihat teman kecilnya bangkit dari tempat duduk.


"Aku mau ke sana dulu ya", sahut teman gadis kecil itu sambil lari menjauhi gadis kecil itu.


"Tunggu! Aku ikut!", gadis kecil itu beranjak, kemudian ikut berlari menyusul temannya itu.


Belum sampai ia menyusul temannya itu....


BRAAKKKK


Seketika mata gadis itu terbuka, nafasnya memburu, dadanya bergemuruh serta peluh keringatnya sudah membasahi dahinya. Ia menatap sekelilingnya, ternyata ia masih berada di kamarnya.

Perlahan ia menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya. Nafasnya mulai teratur seiring berjalannya waktu. Rain melihat ke arah jam dan sekarang sudah pukul 6 pagi, ia kembali membantingkan tubuhnya ke kasur seraya mengusap keringat di dahinya.


Mimpi itu lagi, batinnya.


Tunggu


Mimpi?


Itu lagi?


Ia menghela nafasnya sejenak.

Mimpi yang kadang muncul di dalam tidurnya. Seberusaha mungkin ia menghapus memori itu dari pikirannya, tetapi tetap saja muncul. Saat sedang asik dengan pikirannya sendiri, Kukuruyukkk suara ayam menyadarkan ia dari lamunannya.

Rain bangkit dari kasurnya, ia beranjak dan berjalan ke arah pintu balkon kamarnya itu. Perlahan ia membuka pintu balkon kamarnya. Ia melangkah ke arah pembatas balkon, ia menaruh sikunya di pembatas balkon sebagai tumpuannya. Ia merenung sejenak mengingat apa yang barusan ia alami. Tanpa sadar, Rain meringis mengingat sepenggal memori itu.

Mata sendu itu menatap lurus dengan tatapan kosong, dirinya hanya diam menatap lurus pepohonan yang ada di depan villa ini. Hawa dingin tak menyerah menyelinap masuk ke dalam tubuhnya meskipun dia sudah memakai baju tebal. Beberapa kali tangannya mengeratkan pada pegangan pembatas balkon itu sambil memejamkan matanya.

Kepedihan yang ia rasakan pagi ini bukan karena mimpi yang barusan ia alami. Bukan itu. Hanya saja ada perasaan yang sulit di ungkapkan yang tiba-tiba menyusup ke dalam lubuk hatinya.


BACK AGAIN Stories to obsess over. Discover now