"Kamu tuh bisa gak sih ngertiin perasaan aku sekali aja!" kata cewek berambut sebahu menatap tajam lawan bicaranya.
"Ngertiin gimana coba Joy?" kata laki-laki yang ada di hadapan Joy, yang menjadi pacar gadis itu, Edgar.
"Ya kamu tuh pikir, hati aku gimana pas ngeliat kamu jalan sama cewek lain," kata Joy lirih.
"Itu ada keperluan Joy,"
"Keperluan apa ha? Keperluan bahagiain cewe lain? Keperluan kok sambil gandengan tangan di mall lagi,"
"Udah kalo kamu gak percaya, aku gak maksa. Kamu akhir-akhir ini egois tau gak Joy,"
"Siapa yang egois sih, Gar? Aku selama ini selalu sabar ngadepin sikap kamu yang kaya gini, selalu ngajak cewe lain jalan disaat aku bisa nemenin kamu,terus kamu ngeles ada kerja kelompok lah atau apa lah, tapi kalo aku yang deket cowo dikit, kamu langsung marah, bentak-bentak aku," kata Joy berkaca-kaca
"Kamu tuh gak bisa kaya gini terus, kamu itu sama aku, tapi kenapa kamu lebih prioritasin cewe yang katanya sahabat kamu itu, terus yang diajak ke ulang tahun mama kamu itu dia bukan aku. Disitu aku coba ngertiin aja, siapa tahu kamu pengennya ditemenin sama sahabat kamu kan. Tapi makin kesini kamu tambah deket sama dia, kamu lebih perhatian ke dia daripada aku. Kenapa sih Gar?Aku salah apa? "
"kan aku sama dia sahabatan dari lama, Joy. Makanya aku bahkan mamaku deket banget sama dia,"
"Ya tapi kan aku pac---,"
"Terserah kamu deh mau bilang apa, aku capek sama kamu yang selalu nyikapin ini dengan sikap kekanak-kanakan kamu,"kata Edgar, lalu meninggalkan Joy seorang diri diatas rooftop.
Selepas itu Joy mengeluarkan air mata, yang terdapat dipelupuk matanya, "Gue capek sama lo Gar, tapi gue sayang sama lo,"
--------
Setelah menenangkan diri selama beberapa jam, Joy akhirnya kembali ke kelas.
"Ih darimana sih lo, Joy? Lo lupa kita tadi tuh ulangan fisika," kata Sejeong, teman Joy.
"Bodo amat, nilai gak nentuin gue sukses atau engga," kata Joy cuek.
Sejeong memicingkan mata, melihat ada kejanggalan diwajah Joy, "Lo nangis, Joy? Siapa ha yang bikin lo nangis?"
"Mana ada nangis, mata lo katarak hii," Joy menabok pelan tangan Sejeong.
"ih seriusan lo gak nangis? Mata lo bengkak noh, hidung lo merah,"
"Kagak elah, mata gue digigit lebah nakal tadi, hidung gue pilek,"
"Tolong saudari Joy, lo itu temen gue dari orok, jadi gue bisa membedakan mana yang bohong dan mana yang tidak. Cepet cerita, siapa yang bikin lo nangis! Edgar ya Edgar ?! "
Joy mengelak, "Apasih Edgar itu baik, gak pernah buat Joy nangess heheh, dia tuh selalu buat gue ketawa tanpa batas kaya unlimit gitu, "
Tapi boong, batin Joy.
Joy itu selalu nutupin kesalahan Edgar di depan mata Sejeong, karena dia gak mau Edgar dinilai buruk bahkan dibogem Sejeong, gini-gini Sejeong tuh pernah ikut latihan bela diri selama 8 tahun.
Dan dia juga gak mau ceritain masalahnya sama Edgar karena takut nyusahin aja. Ibaratnya yang punya masalah itu Joy tapi yang bakal uring-uringan si Sejeong.
"Ya terus siapa? Terus pas lo bolos tadi lo kemana? Ngapain? Sama siapa?"
"Gak ada, gue tadi di uks, males ulangan fisika, belajar aja kagak,"
Sejeong tahu pasti Joy menyembunyikan sesuatu, tapi daripada memaksa Joy berbicara lebih baik dia iyakan saja, soalnya Joy tuh kekeuh banget kalo kata dia gak ya enggak.
HEHEH CERITA BARU LAGI GAES, MONMAAP AGAK MARUK GITU YA, TAPI MUMPUNG GUE PUNYA IDE POKOK YANG BAGUS*ELEH SOKK WAKAK* YA APA SALAHNYA YA GAK ?
SEMOGA SUKA, LUVV U GAESS.
YOU ARE READING
Melepas
FanfictionBagi Joy apa yang ia jalin dari awal, harus dijalin juga sampai akhir. Ia terus memegang prinsip itu, walaupun hatinya menolak.
