Inspired by Winter Woods and High Hopes - Kodaline.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Seoul, 2002.
Ruangan persegi yang remang, apak, juga sudut-sudut yang berhias sarang laba-laba. Kesan pertama yang wanita itu dapat setelah terjaga ialah bahwa ia terjebak dalam wahana rumah hantu, tetapi, tunggu dulu—mulut di bungkam, kedua kaki serta tangan yang terikat apakah termasuk ke dalam prosedur yang telah di tentukan sebelum memasuki wahana?
Tentu tidak. Konyol sekali jika memang benar.
Jantungnya berdebar ketika ingatan di dalam otaknya kembali berputar; seseorang telah menyeret paksa tubuhnya untuk memasuki mobil saat menunggu bus di halte tatkala langit hendak beranjak gelap.
Sejurus kemudian, detak jantungnya berpacu lebih cepat ketika rungunya mendengar dentingan logam dan besi yang saling bersua. Ia mengangkat wajah, kemudian mendapati sosok pria dalam balutan serba hitam dan kain penutup wajah yang di buat sedikit celah untuk kedua matanya—tengah melangkah dengan sebuah pisau di tangan kanan dan sebuah gunting di tangan kirinya.
Si wanita meronta, berontak, juga menjerit. Namun, percuma saja, jeritan ketakutan itu teredam di balik selotip. Di dalam ruangan yang lengang itu, jeritannya bagai decitan tikus yang terjepit di dalam gorong-gorong; jauh dari pendengaran maupun pertolongan manusia di luar sana.
Keempat kaki kursi terguncang-guncang ketika tubuh lunglai si wanita mulai meronta ke sana kemari. Pria itu hanya berlutut alih-alih melayangkan satu tamparan kepada si wanita karena terlalu berisik. Kendati pandangannya sedikit buram sebab genangan air mata, wanita itu masih dapat melihat jelas kedua manik hitam pekat pun tatapan tajam bak samurai.
"Jangan berisik," ujar si pria. "Mau ku bunuh dengan ini?" lanjutnya seraya mengacungkan bilah pisau sepanjang tujuh belas sentimeter yang mengilat akibat sinar bulan yang menembus retakan kaca jendela.
Wanita itu bergegas menggeleng sementara pria di depannya malah tertawa mengejek hingga mendengung ke seluruh ruangan yang mulai terasa dingin.
Suara tawanya perlahan lenyap. Hanya tersisa tatapan bengis seperti singa kelaparan yang siap menerkam mangsanya. Ujung pisau yang runcing ia tancapkan tepat di sisi kanan dada si wanita. "Kau tidak perlu takut. Aku hanya ingin melihat jantung cantikmu di dalam sana."