tau dah

35 4 0
                                        

Ini ana pake gue lo ya. Cukup satu sudut pandang biar lebih mendalami.. ceileh😅😅

Aturan-aturan KBBI nggak berlaku di sini. Nulisnya asal sih😮

Yang nggak kuat bisa angkat tangan, angkat kedua kaki, terbaaaang!
Apassi

Gaje

Happy reading!! Muach😚
(Sorry alay:v)

***

Gue Daisy Aurelian Zachary. Orang-orang mungkin lebih sering manggil gue Izzy. Sama pengucapannya dengan kata 'mudah' dalam bahasa inggris. Bisa dibilang panggilan itu pas sama karakter gue.

Gue adalah tipe orang yang lebih suka memudahkan segala sesuatu. Buat gue, kalau bisa dibikin gampang, ngapain dibikin ribet? Gue juga sering nggampangin sesuatu yang dianggep orang-orang susah dilakuin. Nggak salah kalau gue dibilang suka tantangan.

Gue tomboy. Pastinya. Kelihatan dari kendaraan gue yang notabennya dipakek sama cowok. Juga penampilan gue yang kesannya urakan. Dan gue nggak perduli biarpun nggak akan ada cowok di dunia ini yang mandang gue sebagai cewek.

Kali ini kita bakal bahas soal hidup gue yang gue rasa bakal seru kalo diceritain ke kalian.

Awalnya gue pikir gue nggak akan pernah ngelakuin ini. Maksud gue, dengan nulis kisah hidup gue sendiri dan bagiin kisah ini ke banyak orang. Karena gue pikir, nggak ada yang seru sama hidup gue. Sama sekali nggak ada. Hidup gue cuma sebatas bangun, makan, sekolah, makan lagi, tidur, bangun lagi, dan begitu terus sampe sukses. Nggak ada yang spesial. Tapi itu sebelum 'dia' dateng.

Sereceh itu. Dia yang sebelumnya bukan siapa-siapa jadi pelan-pelan bikin gue nyaman. Di cerita ini, kalian bakal tau segimananya gue muja dia, dan segimananya juga gue bakal maki-maki dia. Mungkin kalau dia nggak dateng, kisah ini nggak akan ada. Dan kalian nggak akan pernah tau sketsa hidup gue ini.

Gue adalah anak baru di SMA Negeri Bhakti. Gue pindah karena banyak hal. Dan nggak akan gue ceritain ke kalian karena bakal ngebosenin. BTW, ini hari pertama gue masuk sekolah. 11 IPS 2. Not bad, kata gue.

Gue dianter sama guru yang menurut gue aneh. Dengan rambut yang entah kenapa kelihatan kaku banget. Setelah gue amati, ternyata guru itu pakek wig. Bisa gue tebak, laki-laki berusia empat puluhan itu pasti udah setengah botak. Guru bernama Dandi itu memakai kacamata yang melorot sampai ke hidungnya. Begitupun dengan sabuknya. Melorot. Sampai ke tempat sabuk itu mampu terikat dengan perut yang kayak ibu-ibu hamil tujuh bulan.

Gue mengekor di belakang Pak Dandi masuk ke kelas yang dari tadi gue tuju. Sampai nggak fokus gara-gara perutnya. Eh.

"Anak-anakku sekalian, hendaklah kalian mendengarkan ucapan selamat pagi dari pahlawan tanpa tanda jasa kalian ini." Kata Pak Dandi mengawali kelasnya.

Gue kaget. Pasti. Guru sastra kali, tebak gue dalam hati. Gue menatap Pak Dandi dengan tatapan yang sama sekali nggak ada santai-santainya. Untung aja Pak Dandi nggak peka sama ekspresi gue.

"Pagi pak." Satu kelas menjawab, bahkan bisa disebut berteriak. Gue langsung beralih pada seisi kelas.

Serius, ini kelas gue? Itu adalah kesan pertama yang gue punya buat kelas satu ini. Gue bisa lihat ada banyak kepribadian di sini. Cewek banyak dandan yang nggak bisa lepas dari kaca, cewek kurus kerempeng yang anehnya nggak bisa jauh dari makanan, anak alay yang malah selfie sama temen sebangkunya, sekelompok cowok bar-bar yang nggak bisa lepas dari hp miring mereka, dan banyak lainnya. Bakal seru.

"Anak-anakku yang budiman. Bapak Dandi membawakan kalian sebuah kabar yang sangat membahagiakan. Di dalam ruangan penuh ilmu ini, kalian akan mendapatkan satu lagi personil baru yang akan menjadi partner belajar kalian. Bapak harap kalian akan bisa menyesuaikan diri dengan pendatang baru ini. Tolong jaga dia dengan sepenuh hati, jiwa dan raga, agar dia betah berada di kelas ini. Bapak Dandi sebagai wali kelas kalian, akan merasa sangat bangga jikalau kalian akan mampu menjaga kekompakan dan menjalin tali kuat yang akan menghubungkan kalian hingga ajal memisahkan. Bapak--" ocehan guru yang hampir aja berhasil bikin gue ngantuk itu dipotong oleh salah satu siswi.

"Yaelah, pak. Mau kenalan aja lama banget. Keburu basi tuh anak baru di depan."

Cewek itu dengan cuek memakai roll rambut di depan gurunya. Bahkan, di mejanya sudah ada banyak alat make up lengkap dengan kaca besar. Dia menyela omongan Pak Dandi bahkan tanpa melirik gurunya itu.

Pak Dandi kelihatan nggak ada masalah dengan ulah nggak sopan muridnya. Guru itu malah menepuk jidatnya, membuat rambut palsunya hampir telempar ke belakang. Beliau segera merapihkan rambutnya lagi. Beberapa calon temen gue ngetawain kelakuan guru satu itu.

"Jangan sampe lepas, pak. Kita nggak kuat memandang kelembutan, kelicinan serta kesilauan kepala bapak." Ucap salah satu cowok yang sukses bikin gue nahan ketawa. Yang lain, sih, udah pada ngakak dari tadi. Cuman gue kan anak baru, harus jaga kelakuan sedikit. Tau diri lah.

"Sudah, sudah. Daisy, ayo, perkenalkan diri kamu di hadapan khalayak kawan-kawan baru kamu ini." Suruh Pak Dandi.

"Yah, udah bapak sebutin namanya. Jadi nggak seru lagi, deh." Sahut seorang cowok yang sedikit menarik perhatian gue.

"Heh, Yadi. Sudahlah. Kamu jangan memperpanjang ini semua. Biarkanlah perkenalan ini menjadi formalitas belaka. Agar pekerjaan bapak cepat rampung. Sesungguhnya saya mempunyai banyak materi yang harus saya sampaikan kepada kalian."

"Wahai, Bapak Dandi. Sesungguhnya nama saya bukanlah Yadi. Orang tua saya memberi saya nama Arya Raditya Zacartha. Tolong jangan ganti-ganti nama saya." Orang nggak waras itu malah menirukan gaya bicara Pak Dandi yang anehnya sukses bikin satu kelas ketawa.

Pak Dandi malah mengibaskan tangannya. "Yah, lagian nama kamu itu pelik sekali. Kok hingga kota Jakarta diturut campurkan. Orang tua kamu terlalu kreatif atau bagaimana?"

"Loh, itu berarti orang tua saya cinta tanah air, pak. Nama saya nggak jadi aneh-aneh." Cowok itu masih membela diri.  Gue jadi dianggurin di depan seluruh kelas. Berdiri sampe kaki gue rasanya kram.

Gue berdehem supaya perhatian mereka balik ke gue. Dan itu cukup berhasil. Kecuali pada sebagian, besar, orang di kelas itu.

"Aduh, saya hingga lupa kepada siswi baru ini. Langsung saja Daisy, perkenalkan diri kamu."

Akhirnya... batin gue bersyukur.

"Kenalin, nama gue Daisy Aurelian Zachary. But you can call me Izzy." Perkenalan yang gue bikin sesingkat mungkin. Gue harap nggak akan ada sesi tanya-jawab. Kaki gue butuh diistirahatkan.

"Lo punya keahlian apa?" Tanya seorang cewek dari bangku pojok paling belakang. Dari jauh gue bisa lihat lipstick pink-nya yang seolah menyala menyinari hari-hari suram-- lah, kok gue jadi kayak Pak Dandi? Asli, ini virus.

Gue berdehem lagi buat ngilangin pikiran gue tentang bibir cewek itu.

"Lo sakit tenggorokan, ya?"

Lah?

"Eh, engg--" omongan gue kepotong.

"Jangan dianggep remeh, loh. Lo butuh obat secepatnya sebelum suara lo ilang terus lo jadi gagu." Kata-kata itu sukses bikin gue mikir. Apaan coba?

"Nih, lo coba aja ramuan jamu dari nenek moyang gue. Dijamin tokcer. 30 ribuan aja kok. Murah."

Ini anak promosi?

"Tokcer, tokcer, mata lo encer. Biarin dia jawab gue dulu. Ganggu aja lo, dasar tukang jamu." Ucap cewek bergincu pink tadi dengan ketus.

Sadis. Seorang cewek bisa ngomong sekasar itu ke cowok dan di depan guru pula. Si cowok malah ngasih kesan banci ke gue karena dia malah diem. Nggak ngomong apapun.

"Gue bisa balap." Gue milih jawab pertanyaan itu supaya gue bisa cepet duduk. "Basket, skateboard, gue jago benerin mesin. Itu semua lebih ke hobi, sih."

Semuanya entah kenapa langsung natap gue seolah gue adalah alien teraneh di bumi. Tunggu, kan emang di bumi nggak ada alien, ya. Gue ngomongin apaan, sih?

"Sudah, sudah. Bapak rasa sudah cukup pertanyaan kalian. Kasihan Dasi berdiri dari tadi. Dasi, silahkan kamu duduk di tempat yang kosong di sana itu. Pas sekali kan, hanya ada satu kursi kosong. Jadi kamu bisa duduk di sana. Coba kalau dua, kan jadinya lagu dangdut."

Gue langsung menuju kursi yang Pak Dandi maksud. Dan kalian tau gue duduk sama siapa? Setelah gue lihat di name tag-nya, namanya Salman. Dan dia orang yang nawarin gue jamu tadi.

Kelas gue gokil.

***

DON'T CROSS: Girl PrivacyStories to obsess over. Discover now