01-- Kak Rey

10 0 0
                                        

"Namanya Raynaldi, tapi manggilnya sering Rey."

"Kak Rey?"

"Iya, yang ngisi MPLS kemarin. Suka main badminton juga. Atlet katanya."

"Dua yang dibelakang? Yang bicara sendiri tadi, kesini sebentar!"

Dua gadis berseragam putih biru yang duduk di barisan paling belakang sama sama mendongak kaget. Tidak menyangka mereka akan ketahuan. Keduanya kini berjalan maju dengan takut-takut. Apalagi melihat wajah judes kakak kelas yang memanggil mereka tadi.

"Bicarain apa tadi?"

"Gak bicara apa apa kak." Jawab salah satu dari mereka dengan takut.

"Kalau gak bicara apa-apa, coba, ulang apa yang saya bicarakan tadi." Titah gadis berkorsa biru dongker dengan name tag Farah Arsenia.

Kedua gadis itu bertukar pandangan, mereka sama sama tidak mengetahui apa yang dibicarakan kakak kelas di depan mereka ini. Asyik bercerita mengenai kakkel tampan yang mengisi kemarin, keduanya sampai tidak mengetahui kakak kelas yang masuk mengisi MPLS gugus Mars itu. Gugus sama seperti kelas hanya saja digunakan sementara untuk MPLS.

"Gak bisa kan!? Makanya jangan asik ngobrol sendiri! Enaknya diapain nih? Nyanyi Indonesia Raya tiga stanza atau mau nari Sajojo?"

Kedua gadis itu pucat,mereka tidak hapal dengan Indonesia Raya tiga stanza, apalagi Tari Sajojo. Mendengarnya saja belum pernah.

"Gimana? Gak bisa? Bisanya kalian apa? Nggosipin kakak kelas!?" Tanyanya tajam. Kedua gadis itu pucat.

"M maaf kak, kami-"

"Renata Shaloom!"

Seluruh kelas melihat ke arah sumber suara. Objek pembicaraan kedua gadis tadi tengah berdiri di depan pintu. Dengan gadis berseragam putih Abu-Abu yang terlihat khawatir, namun lega saat melihat apa yang dicarinya sudah ketemu.

Rey berjalan mendekati gadis berkorsa biru dongker itu, dengan tatapan tajam sekaligus kesal dia menjewer telinga gadis itu.

"Arh.. Sialan Rey, sakit!! Lo malu-maluin gue!!"

Gadis yang aslinya bernama Renata itu meraih lengan Rey lalu mendorong laki-laki itu menjauh. Jeweran di telinganya terlepas, menyisakan rasa panas. Rey menghela nafas lelah, gadis di depannya berulah lagi. Untuk kesekian kalinya.

"Balikin korsanya Farah, lo usil mulu sih? Dia sampai mau nangis nyari korsanya, dan lo seenak jidat masuk kesini main hukum anak orang!" Omel Rey, Renata bersidekap malas.

"Farah dong yang kesini minta korsanya ke gue. Kenapa jadi lo? Suka lo sama Farah??" Ujar Renata menjadi kesal. Rey ingin meremas kepala gadis itu saat ini juga, gemas dengan pikiran liar gadis itu.

"Renata, balikin korsanya sekarang juga atau kita putus sekarang hm?" Rey mengeluarkan ancamannya. Ancaman yang selalu berhasil, meskipun tentu saja dia tidak akan benar-benar melakukan itu.

Renata menggeram, dia berbalik menghadap Farah dengan wajah kesalnya. Melepas korsanya dengan kasar lalu melempar ke arah Farah. Setelahnya ia berbalik kembali, wajahnya berubah, dihiasi senyuman manis miliknya.

"Itu korsanya udah aku balikin. Udah kan? Ayo, kita makan sekarang." Ajak Renata dengan senyum pepsodent. Rey terkekeh sebentar, dia menghadap murid baru yang terlihat speechless dengan drama tadi.

"Maaf mengganggu, silahkan dilanjut. Rah, lo urus ya." Ucap Rey lalu menarik tangan Renata keluar kelas. Tangan Renata beralih memeluk lengan Rey, mulutnya mengocehkan segala hal tidak penting yang terjadi hari ini. Sedangkan Rey dengan sabar menanggapi ucapan Renata, meskipun tidak penting sekalipun.

Sedangkan di belakang sana, ada banyak gadis yang kecewa mengetahui kakkel tampan mereka sudah memiliki pacar.

•••

LET'S GOTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang