prolog

14 2 0
                                        

“plak.!!!” sebuah tamparan keras berhasil mendarat dipipi mulus lelaki berambut ikal itu. Lelaki tampan setinggi 178 cm itu hanya bisa terdiam tak percaya dengan raut muka menahan amarah. Rahanganya mengeras serta gengaman tangannya yang mengepal kuat menunjukan dirinya yang sedang menahan emosi terhadap apa yang ia dapatkan barusan.
“ kita putus.” Teriak Kiara dengan menahan air mata yang sudah menggenang dipelupuk matanya.
“ apa.?” Lelaki bernama Kevin itu terbelalak, kaget akan apa yang baru saja diucapkan oleh wanita didepannya itu dengan status sang pacar. Tanpa mendengarkan penjelasannya sedikitpun wanita itu langsung berjalan mundur meninggalkan Kevin yang masih mematung menahan amarah.
Kiara yang berjalan kian menjauh dari Kevin akhirnya bisa melepaskan semua kesedihan dan kekecewaan yang ia rasakan, dadanya sesak saat kembali menginggat bagaimana ia melihat kekasihnya itu tengah bercumbu dengan sahabatnya sendiri, Sahabat kepercayaanya. Ia tak menyangka bagaimana bisa seseorang yang selama ini sudah ia anggap sebagai saudara kini ternyata menusuknya dari belakang, menggambil lelaki tercintanya dan membuat hatinya hancur sehancur-hancurnya.
Ia berjalan menyusuri jalanan kota Jakarta dengan air mata yang enggan berhenti, membuat beberapa pasang mata memperhatikannya. Langkah kakinya kian cepat saat semakin banyak pasang mata yang mulai melirik ke arahnya dengan beberapa orang yang berbisik sambil melihat kearahnya. Karena merasa tidak nyaman Kiara kembali mempercepat langkahnya hingga langkahnya terhenti tak kala kakinya tersandung oleh sebuah pot besar sebuah café yang dipajang sebagai hiasan didepan pintu masuk café itu. Bagai sudah jatuh tertimpah tangga pula itu lah yang dirasakan oleh Kiara, ia meringis saat merasakan perih dilututnya. Padahal tadi ia berjalan cepat guna menghindari tatapan dari beberapa orang namun sia-sia, justru semakin banyak orang yang memperhatikanya saat ini, dimana ia masih dalam keadaan tersungkur bertumpuh pada kedua tangannya yang menahan tubuhnya dengan kaki dan lulut yang sudah mendarat di tanah berpaving itu. Sedikit menahan perih dilutut ia menyekah air matanya dan berusaha bangkit tanpa memperdulikan beberapa pasang mata yang masih memperhatikannya tanpa niat menolong.
Ia berdehem untuk menghilangkan rasa gugup yang ia rasakan sebelum akhirnya benar-benar bangkit dan kembali berjalan seolah tak terjadi apa-apa. matanya kembali lurus dan berjalan kesisi jalan raya dan langsung menjulurkan tangannya untuk memberhentikan sebuah taksi yang lewat.
Lima belas menit kemudian taksi itu berhenti tepat disebuah taman kota. Meski jam sudah menunjukan pukul 21.13 taman ini masih terlihat ramai oleh bebrapa orang yang lalu Lalang atau bebrapa pasang muda-mudi yang sedang menghabiskan sisa malam minggu ini. Saat ini Kiara tengah duduk disebuah bangku taman yang sedikit jauh dari keramaian. Ia mengembuskan nafasnya berusaha menghapus ingatan tentang kejadian bebrapa saat lalu yang menjadi alasan air matanya kembali mengalir membasahi pipinya.
Tatapan sendu terpancar dari kedua matanya. Sedih, kecewa, dan marah semua ia rasakan secara Bersama-sama.
“ kamu gak akan menyesalinya Ra, mereka pantas mendapatkannya.” Gumannya pelan sambal berusaha menelan kembali air matanya. Sedari tadi ia mengabaikan beberapa kali panggilan yang masuk ke ponselnya. Ia bisa menebak siapa lagi kalo bukan kevin dan juga Lyla mantan kekasih dan juga mantan sahabatnya itu, ya bagi Kiara kejadian itu membuat hubungan pertemanan mereka berakhir saat itu juga.
Setelah merenung kurang lebih 30 menit, setelah emosi dan amarah yang Kiara rasakan sudah sedikit berkurang, ia kembali bangkit berjalan keluar dari taman itu tanpa memerdulikan lututnya yang kian merasa perih karena tidak diobati. Ia tak memperdulikan semua itu, yang ia lakukan hanya berjalan dengan tatapan kosong, dan mengabaikan penampilannya saat ini bisa dibilang berantakan. Bagaimana tidak, akibat tangisan itu maskara dan eyeslinernya sedikit luntur dan juga lutut kirinya yang terluka dan menambilkan sedikit darah yang mengalir tak ia hiraukan sama sekali. Hingga lamunanya tersadar saat ia merasa terdorong dan sontak membutanya kembali tersengkut ditanah yang keras.
Ia mengembuskan nafasnya kesal, merasa ini adalah hari paling sial yang ia alami, sudah kehilangan kekasih dan sahabat lalu terjatuh untuk kedua kalinya. Sungguh ia bahkan sudah kehabisan tenaga untuk hanya sekedar mendumal atau memarahi orang yang baru saja mendorongnya dengan keras dan berakhir tersungkut.
“maaf” suara bariton itu terdengar bersamaan dengan sebuah uluran tangan yang ada depannya. Dengan pencahayaan yang sedikit remang, Kiara mendongkan wajahnya berusaha melihat siapa pemilik tangan yang tengah terulur kearahnya. Ia bisa melihat seorang lelaki tampan dengan raut muka bersalah memandangnya, mata mereka bertemu untuk beberapa detik hingga suara bariton itu kembali bersuara.
“ lo baik-baik aja.”

Jangan lupa klik bintang dan comment ya.. Kritik dan saran sangat dibutuhkan oleh penulis😊

Sunset With Galih.Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang