"Gue nggak akan pernah kerumah lo lagi, apapun alasannya!"
- Randi Prakarsa -
Seorang lelaki bertubuh tinggi dan bermata hazel coklat berlari dengan tergesa-gesa. Rambut tebalnya bergoyang kesana kemari seiring kencangnya berlari. Ia mengenggam erat sebuah laptop di tangan kanannya. Setiba di depan suatu ruangan, matanya membelalak hingga telapak dan jemari tangannya memucat. Pintunya tertutup. Kedua matanya pun celingak-celinguk mengintip dari balik jendela dengan teliti. Berkas-berkasnya tidak ada lagi. Lelaki itu menghela napas gusar dan mengacak-acak rambutnya yang tebal. Sial, umpatnya. Tak lama, ponselnya bergetar.
Muncul muka malas di wajahnya saat melihat nama kontak memanggil yang tertera di layar ponselnya. Sebelum mengangkatnya, lelaki itu duduk di sembarang tempat.
"Halo? Kenapa nelpon gue?"
"Dari nada suara lo, gue udah tau nih. Pasti Pak Arif gaada di ruangannya, iya kan?"
Lelaki itu berdecak. "Sok tau, lo!"
Seseorang di seberang telpon tertawa keras. "Sinilah ke kantin, gue traktir."
"Ngapain? Males gue."
"Baperan lo jadi cowok. Lo pikir gue ngajak lo ke kantin mau ngapain? Nggak denger kalau gue mau traktir lo? Kok lo jadi bego sih? Banyak anak-anak lain nih yang udah nunggu lo dari tadi."
Lelaki itu mengusap wajahnya kasar. "Ck! Oke!"
Setelah menutup panggilan sepihak, wajah malas itu semakin memperjelas betapa buruknya mood lelaki itu. Dasar temen kampret!
***
Kantin Pak Hakim hari ini terlihat ramai, hingga membuat mood lelaki itu memburuk. Ia mengedarkan pandangan mencari teman-temannya. Di ujung sana, terlihat tangan yang melambai-lambai mengarah kepadanya. Ia pun bergegas kesana. Matanya kembali mengedarkan pandangan ke teman-temannya sebelum duduk di kursi yang sudah disediakan.
"Si Rafi kemana?"
Suara tawa temannya yang tengil memecah keramaian kantin. "Biasa lah, nemenin si Ratu belanja. Kayak lo nggak tau aja Rafi gimana."
Lelaki itu hanya mengangguk.
"Lo kenapa sih? Diem banget?" tanya temannya yang berambut cepak.
Lelaki itu menghela napas kasar. "Tolong deh ya, jangan ngomongin gue. Mood gue lagi buruk ni, bro."
"Pasti nggak jadi lagi bimbingan skripsi hari ini sama Pak Arif kan, Ndi?"
Lelaki itu menoleh cepat. "Tau dari siapa lo, Yan?" Ia bertanya pada temannya bernama Rian itu.
"Tu, dari si Rehan, siapa lagi kalau bukan dia." Rian menunjuk Rehan yang dari tadi hanya cengar-cengir tak karuan.
Lelaki itu merebut minuman es jeruk teman di sebelahnya lalu berdiri dengan tegas. "Males gue gabung sama kalian hari ini. Gue cabut."
"Woi, Randi! Baru juga jam berapa ini?"
Randi tidak menghiraukan teriakan teman-temannya, ia fokus memasang earphone ke dua telinga dan mendengar musik kesukaan di handphone nya. Setiba di parkiran, Randi menghidupkan motornya dan melaju kencang di jalan raya. Belum jauh dari kampus, motor Randi dihadang oleh seorang cewek berambut pendek sebahu yang tak dikenal. Cewek itu memukul-mukul body depan motor Randi. Boleh juga motor cowok ini.
"Lo cowok baik kan? Gue boleh nebeng? Boleh, ya?" tanyanya sambil tersenyum riang hingga matanya terlihat kecil. Hanya satu di pikiran Randi saat itu. Imut!
"Hah, nebeng? Kenal aja kaga, minggir lo!"
Cewek itu menyibak rambut pendeknya. "Oh, jadi perlu kenal dulu? Oke, boleh. Kenalin, nama gue Indira, panggil aja gue Dira. Biar singkat." Cewek itu mengedipkan sebelah matanya.
Randi melongo. Kayaknya ada yang salah sama cewek ini!
Dira menaikkan alisnya. "Kok bengong sih? Nama lo siapa? Pegel ni tangan gue nggak lo sambut."
Randi gelagapan. "Hah? Nama gue Randi, panggil aja Randi," jawab Randi sedikit kaku.
Dira tertawa kecil. "Udah saling kenal kan? Jadi, gue boleh dong ya nebeng sama lo, Randi?"
YOU ARE READING
If, Only You
Teen Fiction[Update setiap hari KAMIS dan MINGGU] Keraguan mendalam tentang perasaan. *** "Ada urusan apa lo sama gue? Bukankah kita udah putus?" "Aku minta maaf, aku ngaku salah dan aku mau memperbaiki semua yang udah aku rusak, terutama hati kamu ke aku." "Di...
