Lelaki itu sedang berdiam diri dikamarnya sambil memetik gitar kesayangannya, Ia terbiasa dipanggil Delvan. Usianya 17 tahun dan bersekolah di salah satu sekolah yang elite, gayanya sangat keren tapi sayangnya dia sangat dingin. Buku dan gitar adalah pendamping Delvan setiap saat, tanpa ada rasa bosan sedikitpun.
Alunan gitar yang dipetik Delvan sangat merdu dan bahkan Delvan tidak sadar jika bundanya sudah tersenyum di ambang pintu.
"Sudah malam, tidurlah putraku!" Perintah Nara, bunda Delvan
"Ya.." Balasnya dengan singkat.
Delvan beranjak dari ranjangnya dan menempatkan gitar itu pada tempatnya, serta merapikan bukunya di meja belajar. Sebelum Nara menutup pintu kamar Delvan yang berwarna putih itu, beliau masih menyempatkan untuk mencium kening sang putra.
"Selamat malam." Ujar Nara dan tersenyum simpul.
"Malam." Balas Delvan sambil mencium pipi kanan Nara.
Setalah itu, ia mematikan lampu kamarnya dan memejamkan kedua matanya untuk menuju ke alam mimpi.
'Jika kalian menilai seseorang menggunakan telinga, lain halnya denganku. Bukan telinga yang menilai sikap seseorang tetapi mata dan hati kalian lah yang menilai itu semua.'
~Delvan Hafiz Abraham~
Thanks For Reading❤
Semoga kalian suka sama cerita ini guys! Jangan lupa vote ya?
YOU ARE READING
Cold Prince
Teen FictionIrit bicara? Tentu saja seorang Delvan Hafiz Abraham ini sangat irit dalam bicara kepada siapapun. Wajah tampannya itu tertutupi oleh sifat dinginnya, dan tak pernah sekalipun ia memberi perhatian terhadap semua orang yang ada di sekitarnya. Di jul...
