Namaku Tsabinna Cantika, aku sering di panggil dengan nama Tsabin. Aku tinggal di Jakarta. Dulu aku sekolah di SMA Bakti Negeri. Iya, dulu. Sekarang aku tak lagi hidup. Aku menjadi roh yang mencari jalan pulang. Kini aku sendirian, sepi tanpa teman.
Dulu, aku memiliki banyak teman. Selain karna aku pintar, mereka bilang aku juga cantik seperti namaku —Cantika. Hidupku dulu menyenangkan. Sampai akhirnya, keluargaku hancur berantakan.
***
Aku memiliki kekasih. Dia adalah laki-laki yang mampu membuatku merasa bahwa semuanya telah sempurna. Namun, ternyata kita tak bisa bersama.
Dia Kevin Nicholas, laki-laki keturunan bule (Germany) yang sangat aku cintai hingga sekarang. Aku sering mendatangi rumahnya ketika malam dan menatapnya ketika terlelap. Terkadang aku juga berkomunikasi dengannya. Iya, dia indigo. Dia lebih dari istimewa menurutku.
Kita dulu sangat bahagia menjalani hidup saat itu. Kita sudah menjalin hubungan sekitar 1,5 tahun. Huhh ... Berat memang. Meninggalkannya di dunia fana ini.
Tentu ini bukan kemauanku. Ini rencana Tuhan. Siapa yang bisa mengelak? Aku menerimanya dengan ikhlas, meski di dalam hati ini tetap ada luka yang membekas.
***
Saat malam itu, aku dan Kevin pergi ke suatu tempat. Hujan turun dengan sangat deras. Udara sangat dingin menusuk ke tulang, bahkan kaca mobil pun sampai berembun.
"Embun mengganggu pandanganku!! Argh ..." Kevin menggerutu kesal karena embun dingin menutupi pandangannya.
Ia berkali-kali mengelap kaca mobil agar tetap bisa melihat jalan. Aku hanya diam, karena aku benar-benar ingin pulang. Sudah larut malam, namun tak kunjung sampai. Aku tak ingin ayahku marah dan mengurungku di kamar.
Kevin sibuk dengan embun di kaca. Namun, aku sibuk memperhatikan jalan yang benar-benar gelap. Sepertinya terjadi kerusakan pada listrik.
"Kevin, apakah sebaiknya kita berteduh di suatu tempat dulu? Ini mungkin saja akan berbahaya," Aku khawatir karena mungkin saja akan terjadi sesuatu.
Ternyata dugaanku benar. Dari arah depan muncul sebuah truk besar dengan kecepatan tinggi. Jelas saja, truk itu menabrak mobil kita berdua dan membuatnya terpelanting ke jurang yang dalam. Aku berteriak kesakitan, begitu pula Kevin.
Namun, ternyata nyawaku tak tertolong. Aku tewas di tempat kejadian. Sedangkan Kevin, dia selamat. Aku bersyukur karena orang yang ku sayangi lebih dari diriku sendiri masih hidup. Rohku melayang entah kemana. Aku merasakan sakit di kepalaku dan bajuku yang basah bercucur darah. Seluruh tubuhku merasa kesakitan.
Aku menangis tersedu-sedu melihat jasadku sendiri yang bersimbah darah. Aku tak menyangka, hidupku sesingkat ini. Aku masih ingin meraih mimpi-mimpi yang sudah aku rencanakan sejak dulu. Kini, aku tak lagi mampu untuk mencapai itu semua.
–BERSAMBUNG–
_
_
_
Dukung aku buat update, dengan cara Vote & Coment ya readers :* luv🖤
YOU ARE READING
TSABINNA
Teen Fiction~Happy Reading~ "Aku mencintaimu. Akan tetap mencintaimu, walau semesta dan Tuhan tak mengizinkan kita bersama." -Tsabinna Cantika ___________________________ Hidup tak selamanya bisa sesuai dengan apa yang kita harapkan. Semua ini rencana Tuhan. T...
