Prolog

41 12 7
                                        

Mau tidak mau

Sempat tidak sempat

Nyatanya kepergian memang bukanlah suatu pilihan ketika bertahan pun rasanya akan berujung perpisahan. Satu hal yang terlambat aku sadari bahwa hidup adalah perihal mengikhlaskan.

Nyatanya, kepergian memang bukanlah suatu pilihan melainkan sebuah keharusan. Kepergian adalah pilihan absolut dengan jawaban antara 'ya' dan 'harus'.

Ada fase dimana rasanya bertahan pun percuma ketika semua yang ada di dunia ini pasti berakhir 'sendirian'. Satu hal yang terlambat kusadari, bahwa hidup adalah perihal mengikhlaskan, ketika kita sama sekali tidak diinginkan.

Saat berpegang teguh atas nama perasaan pun rasanya percuma, ketika yang dia inginkan adalah kamu yang tidak diharapkan.

Ada banyak hal yang ingin kusampaikan pada diriku yang keras kepala ini, salah satunya adalah 'jangan suka memaksakan kehendak' atas apa apa yang tidak terjadi sesuai dengan harapan. Sulit sekali rasanya untuk berkata 'jangan' pada diri ini.

Tapi aku hanyalah seorang manusia biasa. Yang menolak pun rasanya enggan, menerima pun rasanya muskil.

Seperti yang sudah ku bilang sejak awal, kepergian memang sejatinya kenyataan pahit. Dan mengikhlaskan adalah yang paling sulit.

Aku sama sekali belum beranjak pergi kala itu, aku baru memikirkan bagaimana cara pergi terbaik ketika ternyata kamu memutuskan untuk melangkah terlebih dahulu tanpa kata pamit. Kamu hilang begitu saja, seolah tidak terjadi apa apa.

Hingga aku sadar, kepergian paling menyakitkan adalah kepergian tanpa sepenggal kata pun pamit atau undur diri. Kepergian terkejam adalah diam. Dan, ketidakberdayaan adalah aku. Aku yang bahkan tidak bisa berbuat apa apa mengenai keinginanku. Ya, terikat dengan sugesti 'memangnya aku siapa' adalah satu belenggu besar yang menahan langkah langkah yang aku ingin lakukan untuk menahanmu.

' ya, kalau kamu mau kuperlakukan seperti yang aku mau? Kalau tidak?' begitu aku mendebat diriku sendiri.

Ego terus memaksaku untuk menggunakan logika dalam setiap pengambilan keputusan mengenai apa apa yang menyangkut dirimu. Hingga aku tak pernah bisa membedakan sekat sekat tipis antara ego dan harga diri yang aku miliki. Supaya apa? Supaya kamu tidak memandangku berlebihan dan tidak mengkasihani aku - dengan perasaanku yang tak disambut olehmu.

Inilah aku, dan

Realita terburuk si buruk rupa yang tidak diinginkan dunia.

HiraethWhere stories live. Discover now