"Persahabatan akan berlangsung lama, bila mereka ikhlas menjalaninya."
~Happy reading😙~
Hari ini hari pertama sekolah kembali di jalankan secara formal. Mereka akan kembali bertemu setelah berbulan-bulan tidak bertemu. Di sebuah rumah sederhana, yang hanya dihuni oleh tiga orang, mereka sedang sarapan bersama.
"Geta, ayo bangun, Nak, sudah siang ini 'kan hari pertamamu sekolah. Kita sarapan bareng, ya," ucap Gesta -Bunda Geta dari balik pintu.
"Iya, Bun, aku udah bangun kok, aku mau mandi dulu, Bun," balas Geta dari dalam kamarnya, kemudian ia berlari menuju kamar mandi.
"Oke, Bunda tunggu di luar ya, Nak." Geta hanya mengangguk mendengar penuturan bundanya walau ia yakin bunda tak mengetahui responnya.
Geta hanya membutuhkan waktu beberapa menit untuk bersiap. Gadis itu lalu turun dan menyapa kedua orang tuanya.
"Pagi Ayah, pagi Bunda," sapa Geta saat mendapati ayah dan bundanya yang sudah berada di ruang makan. Geta lalu duduk di samping ayahnya.
"Pagi juga sayang," balas mereka berdua bersamaan sembari mengulas senyum menjawab sapaan sang putri.
"Kemarin, selama sekolah di rumah gimana, sayang? Sekarang siap gak nih, ketemu teman-teman secara langsung?" tanya Wibowo -ayah Geta. Ini memang pertama kali mereka akan menginjakkan kaki di bangku sekolah. Setelah beberapa bulan seluruh sekolah ditutup, karena virus melanda.
"Lancar, Yah. Siap, dong, Yah. Seneng bisa ketemu mereka lagi," jawab Geta dengan senyum manis yang menghiasi wajah mungilnya.
"Semoga hari ini lebih baik dari sebelumnya, ya. Jangan ngecewain diri sendiri, ya." Ayah Wibowo berucap lagi. Sedang Bunda Gesta hanya tersenyum melihat keduanya sembari menyajikan makanan.
"Iya Yah. Ayah antar Geta ke sekolah ya, Yah," pinta Geta saat dia sudah menyelesaikan makanannya. Wibowo mengangguk, lalu mereka berangkat bersama.
Di sinilah Geta berada, di depan kelas yang bertuliskan 'XI IPA 1'. Dia memasuki kelasnya dan duduk di bangku paling depan pojok. Geta merupakan gadis cerdas, dari kecil dia selalu memilih bangku di posisi itu. Jika ditanya mengapa dia memilih bangku di posisi itu, dia selalu membalas 'agar lebih jelas jika guru sedang menerangkan'. Padahal sama saja mau di depan, tengah, bahkan di pojok belakang kelas pun dia akan tetap menjadi siswi terpandai, karena dia memiliki IQ diatas rata-rata.
"Hay," sapa seseorang yang berdiri di samping meja Geta. Geta memberi senyum manis kepada gadis yang memakai seragam yang sama dengannya. Dia sahabat Geta sejak di bangku SMP. Satu-satunya sahabat yang bertahan lama dengannya.
"Oh hay. Duduk di sini ya, Va?" balas Geta dan bertanya. Senyum manis menghiasi wajahnya untuk mengiringi jawaban.
"Oke deh, gak masalah." Meiva, gadis cantik yang sudah menjadi sahabat Geta selama bertahun-tahun. Mereka memang berbeda, tetapi perbedaan itulah yang membuat persahabatan mereka menjadi berwarna.
Geta di gadis pendiam, Meiva gadis periang yang memiliki banyak teman. Saat SMP, hampir semua angkatan mengenalnya. Berbeda dengan Geta, hanya siswi yang mengikuti Organisasi Intra Sekolah atau siswa-siswi cerdas yang mengenalnya.
Hari pertama kegiatan belajar mengajar hanya diisi dengan perkenalan. Hampir semua temannya di sini, memiliki wajah cantik dan bertubuh ideal. Mungkin perawatan wajah dan tubuh penting bagi mereka.
Satu persatu siswa bangkit dari duduknya dan memperkenalkan diri. Mereka hanya menyebutkan nama, asal sekolah, dan alamat. Giliran Geta yang memperkenalkan diri. Hingga habis waktu pelajaran pertama, diakhiri juga sesi perkenalan mereka.
YOU ARE READING
GETA
RomanceKetika mereka yang bersahabat mendapat beribu hambatan. Halang rintang yang merenggakan. Hingga rasa cinta membuat mereka lupa akan kisah persahabatan, saat itulah satu di antara mereka merasa sakit. Terlebih, ketika gerombolan lelaki yang seolah da...
