14 Mei 2019
Harusnya ini menjadi hari yang spesial bagiku. Karena, di tanggal inilah aku dilahirkan ke dunia ini. Tapi, bagaimana bisa aku berbahagia sekarang. Masa tidak ada yang ingat kalau sekarang itu hari ulangtahunku? Menyebalkan. Bahkan, kakak dan adikku sendiri tidak ingat tentang hari ini. Kalau Ayah dan Ibu masih ada, pasti sekarang mereka sudah memelukku erat-erat bahkan saat aku baru membuka mataku dari tidurku.
Aku melirik ke arah Hanna, adikku, yang sedang membaca novel yang baru saja dibelinya kemarin dengan asyiknya. Ck, masa dia lupa, sih? Kualihkan pandanganku ke lain sisi. Kupandangi wajah kakakku, Do, yang sedang sarapan seraya memainkan ponselnya. Masa dia juga lupa, sih. Menyebalkan.
"Jia, kamu gak makan?" tawar kakakku itu. Aku mendesis kecil. Dia itu bodoh atau gimana, sih. Masa dia masih bersikap santai, padahal aku sudah uring-uringan di sini. Argh!
Hanna pun menuir jidatku, "Kenapa? Kok kayaknya pusing banget, Kak?" Ya iyalah. Gimana bisa aku gak pusing kalau kalian aja gak ingat hari yang paling spesial buatku!
Aku pun menggendong tas sekolahku dengan kasar dan kutarik bibirku ke arah bawah dalam-dalam. "Aku berangkat duluan, ya!"
"Ih, tunggu! Aku aja belum sarapan!" teriak Hanna. Ya, umur kami hanya berbeda satu tahun saja. Tahun ini merupakan tahun akhir bagi masa-masa putih abu-abuku. Sedangkan Hanna, tahun ini baru tahun kedua baginya. Kami ke sekolah tanpa alat transportasi ataupun angkutan umum. Kami ke sekolah hanya dengan berjalan kaki. Bukan hal yang melelahkan. Karena, jarak rumah dengan sekolah kami sangat dekat.
"Pergi aja sana sendiri! Kamu pikir kakak pengawal kamu apa harus ngejagain kamu terus!"
Dengan kesal, aku berjalan terseok-seok menuju sekolah. Siapa lagi yang harus kuharapkan untuk mengucapakan sepatah kata "Selamat!" padaku kalau bukan mereka? Sahabat? Teman saja tidak punya. Aku memang gadis aneh dengan kebiasaan aneh. Aku tidak punya teman hanya karena aku suka menggambar. Menggambar makhluk-makhluk aneh, tepatnya. Menurut mereka gambarku terlalu menakutkan. Karena itu, mereka melabeliku sebagai gadis indigo yang aneh. Awalnya, aku hanya tertawa terbahak-bahak saja mendengar mereka. Kupikir mereka bercanda. Eh, ternyata mereka serius. Sialan. Padahal, aku menggambar makhluk-makhluk menakutkan itu, kan, supaya mereka tahu kalau aku sedang.. ketakutan. Aku hanya mencoba mengekspresikannya melalui goresan-goresan tanganku. Apa aku salah?
Aku memasuki kelasku dengan gaya sekeren mungkin. Sialnya, tak ada yang sadar aku ada di kelas. Kutenggalamkan wajahku di atas mejaku. Ah, selalu saja seperti ini. Menyebalkan. Tiap pagi, tiap malam, bahkan tiap aku berkedip aku selalu berdoa di dalam hati supaya Tuhan memberikanku keajaiban bagi hidupku. Tapi, sepertinya Tuhan sedang tertidur. Ia belum bangun. Makanya, Ia tidak mampir untuk mendengar doaku.
"Heh!" Ada suara yang memanggilku. Itu Ridwan. Manusia yang dicap aneh oleh teman-teman sekelasku, selain aku tentunya. Tidak ada yang berani mengganggunya. Banyak yang bilang dia itu psikopat. Lihat saja kacamata hitamnya yang menghiasi wajahnya yang berkulit hitam itu. Aku saja sampai tidak bisa membedakan antara setan dengan wajahnya. Hahaha.
Aku mengangkat wajahku dan tanpa sadar membuka mulutku lebar-lebar seperti orang bodoh. Aku menunggunya mengatakan sesuatu. Tapi, ia hanya diam saja sambil terus menatapku. Tanpa sadar tatapan kami bertemu. Aku sadar dan langsung mengedipkan mataku, "Apa?"
"Aku boleh pinjem buku gambar kamu, gak?" Aku melongo hebat. Buku gambar? Untuk apa coba?
Aku merapikan poniku yang berantakan agar dikira tidak peduli, "Untuk apa?"
"Aku mau ikut kontes menulis cerita horor."
"Terus?"
"Aku mau jadiin gambar-gambarmu itu sebagai inspirasiku buat tokoh hantunya nanti. Habisnya, kalau kupikir-pikir gambar-gambarmu itu, kan, creepy banget." Ia membetulkan kacamatanya sambil terus menatapku tajam tanpa tersenyum sedikit pun.
Aku tertawa terbahak-bahak, "Kenapa kamu gak ngaca aja waktu nulis?"
Aku terus tertawa. Dia hanya diam. Aduh, sepertinya dia tersinggung. Aku pun langsung menutup mulutku rapat-rapat tanpa meninggalkan jejak tawa secuil pun di wajahku. Aku baru saja mau membuka mulutku untuk meminta maaf. "Wajahmu lebih serem, tahu. Lihat saja mata kamu yang seperti ingin keluar itu dengan bibir setipis kertas di antara kulitmu yang dekil itu." Aku melongo kaget. Sebelum aku berhasil mencerna maksud perkataannya, ia langsung melenggang pergi meninggalkanku. Sialan anak itu. Wajahku dengan wajahnya pun masih lebih berkualitas wajahku. Yang lebih menyebalkannya lagi, ia mengatakannya dengan nada datar. Seperti bercakap-cakap biasa. Tapi, aku juga yang salah. Perkataanku memang keterlaluan. Wajar saja kalau ia marah. Huh. Mau tidak mau harus minta maaf padanya. Aku tidak mau kalau nanti tiba-tiba saja aku tertabrak truk, eh rupanya rasa bersalah masih menghinggapi diriku. Bisa-bisa aku mati penasaran dan akhirnya jadi hantu gentayangan. Tidak! Tidak boleh!
-----
Hai! Semoga kalian suka, ya, sama cerita ini. Makasih banyak karena udah mau meluangkan waktunya untuk baca cerita ini.
Semoga cerita ini bisa menghibur kalian.
Terima kasih.
ESTÁS LEYENDO
Kain dan Lemari
Novela JuvenilKain dan lemari, itulah kita. Aku sang kain. Dan kamu lemarinya, yang selalu menjagaku dari debu-debu jahat itu serta menjadi tempatku melipatkan diri.
