01. Ciuman Pertama

548 34 5

Aku masih ingat ciuman pertamaku. Sebuah kecupan pada bibirku dari kakak kelas yang sejak lama menyukaiku, dan sudah lama juga kucoba hindari.

Ya ... dia tinggi, tampan, cukup populer pula antara cewek-cewek seangkatan denganku. Tapi kalau aku ....

"Kenapa gue gak bisa suka sama dia?" seruku tiba-tiba. Aku tengah merebahkan diri di tempat tidurku. Sekar duduk di lantai kamarku mendengarkan lagu dan membaca buku. Anak itu gemar sekali membaca sejak awal aku mengenalnya, dan aku tidak pernah mengerti serunya di mana.

"Siapa toh?" aku mendengarnya memutar balik halaman bukunya dan bertanya.

"Siapa lagi? Raka lah," aku terus menatapi langit-langit kamarku yang lama-kelamaan terlihat seakan-akan menjauh dari gapaianku.

"Sori lah, cowo lu banyak, Ra," sahutnya.

Aku melempar bantalku padanya. "Eh, enak aja! Elo kali!"

Sekar pun mengusap-ngusap kepalanya yang kena lemparanku. "Lo kasar banget sih, anjir."

"Lebay!" Sekar pun melempar balik bantalku tapi kutangkap.

"Ya, kalo emang gak suka buat apa lo paksain, sih?" dia akhirnya meletakkan bukunya di lantai dan berjalan menuju tempat tidur. Dia baring di sampingku, menemaniku memandangi langit-langit kamarku yang kosong dan remang-remang.

Aku diam sejenak, mencoba memproses apa yang telah terjadi.

"Dia nyium gue."

Sekar hanya menjawab, "Oh ya?" Mengubah posisinya untuk melihatku saja tidak. Kukira dia akan lebih heboh dari ini.

"Itu aja? Oh ya?"

"Ya, gimana ya ... masa lo kaget sih, Ra?" jawabnya. "Ni cowo udah ngejer lo dari kapan dan bersikeras banget mau jadi pacar lo. Lo kira kalo lo terima ajakannya buat jalan dia gabakal minimal coba buat nyium lo?"

Aku menutup wajahku dengan bantal. "Terus gimana, dong? Kalo abis ini dia ngira gue suka sama dia gimana ...."

"Kenapa ya, Ra? Lo cuman cupu kalo soal Raka. Nolak ribuan cowo yang ngantri buat jadi pacar lo, lo santai-santai aja. Apa yang buat lo sesusah ini ngelakuin hal yang sama ke Raka?"

Sejujurnya, aku tidak tahu. Haha. Tidak. Aku tahu ... aku hanya sangat tidak ingin mengakuinya.

"... Apa lo seneng, Ra? Seneng dia ngejer lo setengah mati?"

Sekar. Sahabatku. Belahan jiwaku. Orang yang paling mengenalku di dunia ini. Satu-satunya orang yang bisa membaca semua isi pikiranku.

Kali ini Sekar memutarkan kepalanya untuk menghadapku. Aku memeluk bantalku dan menghela napas. "Mungkin gue seneng ada yang mau perjuangin gue kayak gitu, Sek."

"Semua cowo lain gue tolak sekali pergi. Gue galakin sekali takut. Gue uji dikit cabut. Tapi Raka ..." aku sedikit malu untuk membicarakannya, mengakuinya, bahkan pada Sekar sekali pun. Aku menghadap Sekar sekarang, menatap matanya. "Dia buat gue merasa gue pantes diperjuangin, Sek. Gue tau gue jahat ngegantung dia dan buat dia berjuang tanpa gue bales perasaannya. Tapi gue merasa cukup."

Aku tidak bisa membaca ekspresi Sekar. Ada sesuatu dalam tatapannya yang tidak kukenal. Setiap Sekar seperti ini, aku hanya bisa bertanya, "Kenapa?"

Aku pun mulai bertanya, tapi sebelum aku bisa menyelesaikan, bibirku menyentuh sesuatu.

Hangat, lembut. Wanginya kukenal sejak lama – seperti baju yang baru saja dicuci. Bibir Sekar, pada bibirku. Sebelum aku bisa memproses apa yang telah terjadi, Sekar menarik diri dariku.

"Lo kira cuman dia yang perjuangin lo, Ra? Lo salah besar."

Dia duduk lalu berdiri. "Udah malem, gue pulang dulu ya? Jangan begadang. Telat lagi lo besok."

Dia mengambil bukunya dari lantai dan meninggalkan kamarku tanpa sepatah kata lagi.

Dan tetap diam. Entah berapa lama aku diam hingga tertidur. Kukira semuanya hanya sebuah mimpi. Kukira hanya mimpi.

Tapi semua ini bukan mimpi. Sekar menciumku semalam, dan aku tidak tahu apa yang harus kurasakan.

Kiara & SekarWhere stories live. Discover now