02. Teman Pertama

679 33 1

"Ra, kok lo diem banget hari ini?" aku mendengar suara Sekar yang duduk di depanku.

Hari ini Sekar biasa saja. Terlalu biasa. Dia menjemputku di rumah, lalu kami berdua berangkat ke sekolah bersama. Sekarang kami tengah duduk di bangku kantin, menunggu bel selanjutnya bunyi. Ekspresi, kata-kata, gerak-geriknya tak ada yang mengkhianatinya – apa mungkin dia benar-benar biasa saja?

"Earth to Kiara?" Kali ini suaranya berhasil memotong lamunanku.

"Eh?" aku menoleh.

"Bengong mulu, Mba?" komentarnya. "Mikirin pacar?"

"A—"

Dia memotongku. "Eh iya, lo kan jomlo, Ra. Sori, sori, lupa gue." Ah, sekarang kelihatan. Dia mencoba terlalu keras untuk biasa saja, untuk melupakan apa yang telah terjadi malam tadi. Candaannya tidak ada yang berpengaruh sekarang, dan itu membuatnya sedikit cemas.

"Kita gabisa pura-pura ga ada yang terjadi semalem, Sek," aku akhirnya bilang.

Ekspresinya sedikit terkejut, tapi lalu dia menghela napas yang panjang dan menoleh ke bawah, memperhatikan rok abu-abunya yang mendadak menarik sekali.

"Gue ga mau bahas, Ra. Tolong," dia memohon. Suaranya lebih kecil dari bisanya. Sekar tidak pernah terlihat kecil sebelum momen ini.

"Harus, Sek."

Dia menghela napas sekali lagi lalu menatapku. "Ra, selama ini gue udah diem aja karena gue ga mau ngancurin persahabatan kita. Lo orang yang paling gue sayang di dunia dan gue ga mau hancurin itu cuman karena gue ga bisa kontrol diri gue. Maaf soal semalem, gue janji ga bakal lakuin itu lagi. Kita kayak biasa lagi aja. Tolong. Gue ga mau bahas ini lagi."

Aku tidak tahu harus jawab apa. Sekar mulai berkaca-kaca dan aku tak tega melanjutkan pembahasan ini.

Selama ini ... Sekar menyukaiku?

Sahabatku itu berdiri dan pamit. "Gue ke kelas dulu ya, Ra. Entar lagi."

Aku dan Sekar bertemu sekitar sepuluh tahun yang lalu. Ibuku mengantarku ke sekolah, hari pertamaku duduk di bangku Sekolah Dasar. Saat aku memasuki kelas, aku langsung melihat seorang anak perempuan yang duduk di ujung ruangan menggambar di meja.

Satu-satunya perempuan lain di ruangan itu.

"Kamu boleh pilih mau duduk di mana," aku ingat guruku dulu bilang sambil tersenyum hangat. Aku membalas senyumannya dan menunjuk pada anak perempuan itu. Guruku mengantarku padanya. Aku ingat hari itu aku sangat bahagia.

Akhirnya! Aku akan punya teman!

"Sekar, ayo kenalan. Ini teman barumu, Kiara," guru itu mengenalkanku padanya.

Sekar dulu tak banyak bicara. Dia hanya mengangguk dan melanjutkan kesibukannya mencoret-coret meja. Walaupun begitu, aku senang memperhatikannya.

"Itu gambar apa? Bagus banget!" aku ingat berseru padanya. Mungkin aku hanya berkhayal, tapi sepertinya aku melihatnya tersenyum kecil saat aku berkata begitu.

Dan itu segera menjadi rutinitasku dengannya. Setiap hari, dia akan duduk di bangku yang sama, menggambar hal-hal aneh di meja. Dan setiap hari aku duduk di sampingnya, menebak-nebak kreasinya. Setiap hari beda. Hebat sekali!

Semanjak hari pertama SD, Sekar menjadi sahabat terbaikku. Penyimpan rahasiaku. Penepat semua janji. Pelindung terbaikku. Keluarga yang kutemukan secara tidak sengaja.

Kami tak terpisahkan ... hingga ....

Aku baru menemui Sekar lagi sepulang sekolah. Dia sudah menunggukanku di parkiran.

"Ud—" aku memotongnya.

"Sekar?"

Dia diam sejenak sebelum menjawab, "Iya?"

"Besok mau ke Kota Tua?"

"Ngapain?"

"Kan belom pernah berdua."

"Kok tiba-tiba?"

"Gapapa. Anggep aja kencan pertama kita."

Kiara & SekarWhere stories live. Discover now