Derap langkah kaki seorang laki-laki berseragam sekolah terlihat lemah. Kepalanya tertunduk menatap jalanan beraspal yang dilewati oleh setiap langkahnya. Sesekali terdengar helaan nafas berat dari celah bibirnya. Pagi harinya tak pernah secerah sinar mentari pagi. Ketika membuka mata ia harus selalu dihadapkan dengan kenyataan pahit. Bernafas dan hidup merupakan sebuah kesalahan untuknya. Jika orang lain menganggap bernafas dan hidup merupakan sebuah berkah yang diberikan oleh Tuhan, sosok itu selalu mengutuknya karena ia mengganggap semua hal itu adalah percuma. Percuma ia bernafas, percuma ia hidup jika pada kenyatannya eksistensinya tak pernah terlihat dan ia sangat merutuki hal itu.
"Lihat! Dia masih datang ke sekolah?"
"Apa dia tidak malu?"
"Ia masih bisa pergi ke sekolah dengan santai seperti itu?"
Bisik-bisikan para siswa yang berada di lorong sekolah terdengar sangat jelas saat sosoknya berjalan melewati lorong untuk menuju ke ruang loker. Ia sudah terlalu terbiasa jika menjadi pembicaraan oleh seluruh siswa di sekolahnya. Dengan langkah santai dan kepala yang tertunduk, ia pun kembali melanjutkan perjalanannya tanpa berniat menanggapi semua perkataan para siswa yang menatapnya dengan pandangan jijik. Sosok yang menjadi bahan pembicaraan adalah Jungkook, Jeon Jungkook, siswa tingkat akhir di Youngse High School.
Jungkook berdiri didepan pintu loker bernomor 197. Ia hanya memandangi pintu loker berwarna biru itu dalam diam. Ia sudah tahu apa yang akan menyambutnya pagi ini. Belum sempat Jungkook membuka pintu lokernya, sesuatu terlempar cukup kuat mengenai belakang kepalanya membuat cairan kuning menjijikan dan bau itu mengotori belakang kepalanya. Jungkook hanya bisa memejamkan matanya saat mendengar suara tawa mulai memenuhi pendengarannya. Ia tidak marah, tentu saja karena ia sudah terbiasa mendapat perlakuan seperti ini dari teman sekolahnya. Oh apakah mereka masih pantas dianggap sebagai teman jika seperti itu?
"Dasar menjijikan! Kau masih punya muka sekolah disini, hah?" Lagi, seseorang melemparkan sebutir telur dan kali ini tepat mengenai wajah Jungkook. Suara tawa jtu semakin terdengar nyaring dikala wajah Jungkook kini sudah terlihat penuh dengan lendir telur yang pecah tepat diwajahnya.
Tak hanya satu atau dua butir telur saja yang mendarat ditubuhnya bahkan mungkin ada lebih dari 10 butir terus terlempar ke arahnya. Merasa belum puas, para siswa itu bahkan melemparkan beberapa bungkus tepung dan menyirami air ke tubuh Jungkook membuat Jungkook terlihat seperti adonan yang berjalan. Mereka nampak tak menyesal karena membully Jungkook dan sama sekali tak perduli jika harus mengotori ruang loker karena bagi mereka, membully Jungkook bukanlah suatu yang salah, karena membully Jungkook adalah sesuatu yang sangat benar, menurut mereka. Jungkook hanya bisa mematung diam pada posisinya dan menunduk. Ia sama sekali tak berontak ataupun melawan seolah ia menerima jika dirinya harus diperlakukan sedemikian rupa.
"Harusnya ia dikeluarkan dari sekolah ini!"
"Benar! Kita harus menghadap kepala sekolah agar mau mengeluarkannya!"
"Aku setuju! Dia benar-benar menjijikan!"
"Aku sudah tak tahan jika harus terus satu sekolah dengannya!"
Jungkook hanya bisa mengepalkan kedua tangannya disamping tubuhnya. Sungguh ia sudah tak tahan lagi. Ingin rasanya ia berteriak untuk membela diri. Ingin rasanya ia membalas cacian, ejekan dari para siswa yang senang membully nya itu. Ingin rasanya ia membalas perlakuan seenak mereka ini. Tapi apa yang bisa ia lakukan? Terkadang ia merasa setuju dengan pendapat mereka yang mengatakan jika dirinya begitu menjijikan. Ya, Jungkook memang mengakui jika dirinya memang menjijikan. Namun apakah orang yang menjijikan ini sama sekali tak boleh bersekolah? Apakah orang yang menjijikan ini tak pantas mendapatkan pendidikan? Yang ia butuhkan hanyalah sebuah keadilan dan pengakuan akan eksistensi dirinya. Bagaimana menjijikannya dia, bagaimana hinanya dia, dia juga masih memiliki harga diri dan tentu saja tak ingin merasa terinjak walau pada kenyataannya dirinya memang selalu terinjak. Sangat menyedihkan memang...
VOCÊ ESTÁ LENDO
Papillon
FanficNovel ini menceritakan tentang kisah persahabatan tujuh orang pemuda yang memiliki kehidupan dan permasalahan yang berbeda-beda. Mereka bertemu, berkumpul, menghabiskan banyak waktu bersama hingga merasa sangat dekat layaknya saudara. Meski mereka s...
