Chapter One

77 4 2
                                        

Jake's POV

Saat ini aku sedang berada di bagian selatan benua Amerika, lebih tepatnya di kota Havana yang paling terkenal di Negara Cuba. Di temani dengan tas ransel dan kamera yang selalu menemani ku berpergian saat aku travelling.

Alasan aku memilih kota ini karena aku mendapatkan rekomendasi destinasi wisata dari beberapa teman dan juga alasan terakhir aku adalah saat aku mendengarkan lagu dari salah satu penyanyi asal Cuba yang berjudul Havana. Alasan yang terakhir mungkin terdengar sedikit aneh.

Aku hanyalah pria biasa yang suka travelling dan memiliki hobby sebagai photographer. Aku tipe orang yang sedikit introvert dan suka berpergian sendiri, itu sebabnya aku hanya memiliki beberapa teman saja.

Beberapa teman ku pernah berkata jika tampang, ekspresi dan aura ku seperti bad boy. Awalnya aku terkejut saat mereka mengatakan hal itu tapi mungkin saja apa yang mereka katakan itu benar. Tampang ku memang seperti itu sejak lahir tapi sifat ku berbanding terbalik dengan penampilan ku. Yang aku lakukan hanyalah kerja dan travelling, sesekali aku mendapat penghasilan dari hobby yang ku lakukan meskipun awalnya aku tidak memiliki niat untuk menjual gambar-gambar ku.

Saat ini siang menjelang sore aku menelusuri jalan-jalan di kota ini, memotret beberapa rumah yang aku lewati. Aku juga memotret beberapa anak kecil yang sedang bermain dengan ekspresi riang gembira. Meskipun aku tidak mengenali kota ini tapi aku tetap terus berjalan sembari memotret setiap momen yang aku anggap berharga.

Langkah ku terhenti saat aku sedang melihat keramaian yang tidak jauh dari hadapanku. Aku melihat banyak penduduk dari kota ini sedang menari dengan riang. Mulai dari lansia hingga anak-anak ikut menari. Alunan musik khas Cuban ini sangat indah, dengan beat yang sedikit cepat. Mereka menggoyangkan pinggul mereka dengan lihai seolah-olah mereka adalah professional dancers. Melihat hal itu, hati ku tergerak ingin melihat mereka lebih dekat. Tidak luput aku memotret kegiatan mereka dengan kamera kesayangan ku ini.

Saat sedang memotret, tiba-tiba saja aku terpaku diam saat melihat sosok gadis yang sedang menari. Senyum gadis itu sangat indah dengan rambut panjang berwarna coklat yang tidak kalah indah. Seorang gadis cantik yang mengenakan dress berwarna biru sedang menari bersama beberapa gadis yang lain. Gadis itu terlihat sangat bahagia dan sangat hebat dalam menari.

Tangan ku tidak henti-hentinya terus memotret gadis itu. "Ada apa denganku? Apakah ini yang namanya jatuh cinta pada pandangan pertama?" batin Jake.

Saat aku masih memotret gadis itu, tanpa sadar gadis itu melihat ke arah ku. "Dia melihat ku, aku harus mengatakan apa karena memotretnya tanpa izin" batin Jake panik.

Gadis itu berjalan ke arah ku, aku bisa melihat bahwa gadis itu memasang tampang curiga pada ku. Ya, aku bisa memahami hal itu karena tentu saja aku hanyalah orang asing.

"Excuse me sir, can i see that photo?" tanya sang gadis.

Aku tersenyum canggung "Yes please" jawab ku gugup. Aku menyodorkan kamera ku pada gadis itu. Aku gugup bukan tanpa alasan, gadis itu tepat berdiri di samping ku sembari melihat hasil foto yang aku jepret.

Sebenarnya aku juga sedikit malu karena aku banyak mengambil gambar dirinya. "Apa tanggapannya tentang ku setelah dia melihat banyak hasil foto dirinya disitu?" Aku bertanya-tanya dalam hati.

"Mm...hasilnya bagus. Apakah kau seorang photographer?" tanya gadis itu.

"Sebenarnya aku bukan photographer yang handal, ini hanya hobby ku saja" jawab ku dengan senyum canggung.

Gadis itu menyodorkan tangan kanannya hendak bersalaman dengan ku. "Nama aku Quillen Bellova Patricha tapi cukup panggil nama depan ku saja, dan nama mu siapa?" tanya Quillen sembari tersenyum.

Love of My Life (FINISHED)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang