Prolog

751 40 0
                                        

Tara terbangun karena mendengar dering jam beker, berbarengan dengan hentakan suara vocalis band Zamrud yang menyanyikan lagu selamat ulang tahun dari ponselnya.

"Euhgg...," perempuan bertubuh mungil itu mengerang, lalu meraih jam beker dan ponsel secara bergantian untuk mematikan tombol alrm yang sedari tadi memekik kamarnya. Dia mengabaikan ratusan notifikasi dari aplikasi whatsap dan berniat melanjutkan tidurnya kalau saja seseorang tidak menggedor pintu apartemennya dengan sangat keras. Berulang-ulang, nyaris seperti orang kesetanan.

Dengan gerakan malas, Tara akhirnya kembali meraih ponsel dari atas nakas untuk mengecek jam di layar ponselnya. Seketika, dia merasakan bulu-bulu halus di sekujur tubuhnya meremang ketika membayangkan siapa orang yang bertamu selarut ini? Semoga saja bukan hantu gentayangan atau orang mabuk yang salah mengira apartemen miliknya. Tapi... untuk berjaga-jaga, sebaiknya membawa tongkat basball saja.

"Sebentar! Ya, Tuhan. Siapa sih manusia yang berani menggedor selarut ini?" Tara membuka daun pintu dan bersiap memukul, namun urung saat melihat sosok jangkung yang berdiri di hadapannya.

"Selamat ulang ta...," Kevin mengangkat tangannya dan mundur secara reflek saat melihat tongkat basball hampir mendarat dikepalanya. Membuat lelaki berdarah campuran Indonesia-Amerika-Korea itu tanpa sadar menjatuhkan bunga dan kue tar yang dibawanya. Seketika, pekikan Tara menggantikan bunyi alrm, memecah keheningan lantai tiga apartemen tempat tinggalnya.

"Oh my god!" Tara yang melihat tingkah konyol sahabatnya berusaha menyelamatkan kue tar berbentuk love itu namun gagal. Dia menjerit saat kaki telanjangnya menginjak kue yang jatuh mengenaskan di atas lantai. Tubuhnya kehilangan keseimbangan, kemudian jatuh dengan posisi Kevin berada di atasnya.

"Brukkk!" Penampilan Tara sama mengenaskannya seperti Kevin. Tubuh mereka sama-sama dilumuri krim stawberry pada bagian tangan, kaki dan sebagian rambut.

"Kevin! What are you doing? Ngapain malam-malam gedor-gedor pintu Apartemen gue?" Tara mengusap-usap bokongnya yang terbentur ke lantai sambil meringis. Lalu, berusaha menyingkirkan krim stroberi dari rambutnya sembari menatap lelaki dihadapannya dengan sinis. "Jangan bilang karena mau ngerayain ulang tahun gue, Lo bela-belain terbang dari Jakarta hanya buat memastikan gue niup lilin pada pergantian jam!"

"Kok tahu?" jawab Kevin cuek, lalu melongos masuk. Mengabaikan umpatan Tara yang bersikeras menyuruhnya pulang.

Dengan cuek, lelaki bertubuh proposional itu meraih handuk dari balik pintu kamar Tara. "Gue nggak mungkin pulang dengan keadaan kayak ini!" Kevin menunjuk wajahnya yang tampak mengenaskan akibat terkena lelehan krim stroberi. "Bisa brabe kalau yayang gue ngira gue ini setan. Gue mau numpang mandi dulu," timpalnya lagi masih dengan gayanya yang masa bodo. Sebuah kebiasaan yang seharusnya dapat dimaklumi oleh Tara, namun malah dianggap sangat menyebalkan untuk saat ini.

"Kalau sampai itu terjadi, gue akan jadi orang pertama yang bakalan kasih penghargaan buat Tania. Lagian gue nggak habis pikir banget sama dia yang bisa sampai cinta mati gitu sama lo. Lo... nggak pelet dia kan?" matanya memicing tatkala otak cantiknya memutar sosok gadis melayu yang merupakan kekasih Kevin. Sosok manis yang masih lugu itu sangat bertolak belakang dengan sikap urakan lelaki di hadapannya. Mereka terkesan tidak cocok, namun anehnya hubungan mereka bisa langgeng sampai lima tahun. Haish, kebaikan apa yang dilakukan sahabatnya hingga Tuhan memberikan hadiah seistimewa Tania?

"Suuzan boleh, tapi jangan sampai kelewatan juga kali," timpal Kevin sembari memberi tatapan tajam. Tidak terima dituduh musyrik. "Udah ah, dari pada ngelantur ke mana-mana mending lo masak aja." Kevin mengedipkan mata kirinya dan langsung mendapat toyoran dari Tara.

"Ogah!" kalimat sarkas Tara berhasil menghentikan langkah Kevin yang sudah diambang pintu kamar mandi. Gadis itu bergerak ke arah pantri yang bersebelahan dengan kamar mandi untuk memperlihatkan isi kulkas yang kosong sambil memamerkan senyum miringnya. Seolah ingin mengatakan, "gue nggak punya makanan!"

After DivorceStories to obsess over. Discover now