First

1K 61 13
                                        


Hinata sedang menikmati sorenya ketika Sakura datang membawa kabar bahwa gadis pink itu akan menginap di rumahnya satu malam. Dengan alasan seperti biasa, rindu saja. Yang berujung dirinya harus bangun dari singgasana dan meladeni gadis pink yang basah akibat kehujaan. Hinata tak mengerti, bukannya anak itu mengendarai mobil?

Tapi apapun itu, Hinata sebenarnya tak keberatan, cenderung senang malah, mendengar Sakura akan menginap di rumahnya. Namun, masalah yang Sakura bawa bukanlah hal yang patut di syukuri. Bukannya pelit, ia hanya cinta kerapian, sebagaimana kedua orang tua si gadis pink bertindak.

Untuk itulah ia menolak kehadiran manekin aneh di dalam rumahnya.

"Hinataaaa... Kumohon? " Sakura merengek. Ia tidak punya pilihan lain selain menempatkan barang itu di rumah Hinata. Karena meletakkan benda itu dirumahnya sama dengan mengundang kematian. Ya, Ratu keluarga akan membunuhnya ketika itu juga.

"Barang itu milikmu, kau beli untuk kau pakai, dan selanjutnya akan kau pakai. Buat apa aku menyimpannya? Lagi pula, Sakura... Apa kau tidak lihat rumah sempitku? Membersihkan sela-sela sofa dan sebagainya itu sudah susah, jangan menambahi pekerjaanku dengan hadirnya dia di pojok ruanganku. Aku tak mau," dekrit Hinata mutlak. Dia serius tidak ingin kerepotan.

Sakura masih merengek, "lalu aku harus meletakkannya di mana? "

"Mana kutau. "

Sakura memasang wajah penuh kesedihan. Permonan tulusnya di tolak mentah-mentah. Ia sekarang pusing memikirkan mau dikemanakan lagi si manekin yang ia beri nama Bonee itu. Otaknya berpikir keras.

Aku tidak mungkin kembalikan ini ke toko. Dan mau di taruh di butik juga sudah tidak muat. Di rumah Naruto? Dia pasti tidak keberatan. Tapi aku yang keberatan. Cih, dia pasti akan ribut menggangguku dengan adanya alasan untuk itu.

Sakura mulai buntu.

"Hinataaa... " ia kembali memohon.

Hinata yang semula sibuk mengatur nyala kompor, berhenti dari kegiatannya. Ia Memandang Sakura dengan wajah malas. "Oke, oke, bagaimana kalau kutitipkan pada Sai? Aku yakin dia tidak akan keberatan. "

Sakura bingung, "siapa Sai? "

"Kenalanku dari restoran. Sudah lama, sih. Dia ramah dan baik. Terlebih, ia juga seorang seniman, aku yakin dia akan berbaik hati menyisihkan sepetak ruang galeri lukisnya demi boneka anehmu itu. "

Sakura berfikir, rencana Hinata terdengar tidak meyakinkan. "Kau bisa menjamin bahwa Bonee akan aman berada di sana? "

Hinata hanya menggumam, tanda 'iya'. Sekarang ia sibuk mengaduk-aduk spaghetti untuk makan malam mereka berdua. Terlihat cukup matang, Hinata mematikan kompor, mengangkat mi panjang itu ke dalam piring.

Sakura telah selesai menimbang rencana sahabatnya. Ia tak punya pilihan lain, "oke, besok kita ke rumah si Sai itu. "

.
.
.

"Hai, aku Haruno Sakura, senang berkenalan denganmu"

Sai tersenyum ramah seperti biasanya, dengan sedikit observasi dalam hati.

Sejujurnya gadis yang mengaku sebagai teman dari temannya itu cukup manis, jika tanpa rambut berwana pink mencolok seperti itu. Potongan rambut pendeknya pun kurang rapi dan melihat ke bawah, disana terdapat dua kaki dengan betis besar berdiri. Dress tosca menghalanginya memandang bagian yang lebih privasi. Tapi bukan itu tujuannya. Ia hanya tak habis pikir, dari mana jatuhnya gadis jelek itu sehingga bisa bersanding dengan Hinata yang sempurna? Mereka sungguh mencerminkan Beauty and the Beast di mata Sai.

Tied UpDonde viven las historias. Descúbrelo ahora