Ella ganggu!

411 82 151
                                        

5 menit lagi bel masukan akan berbunyi sedangkan Sarah masih tetap mengobrak-abrik isi tasnya. Teman-teman sekelasnya yang lain berkumpul mengitari tempat duduk gadis itu, menatapnya dengan cemas. Jika dia tidak menemukan barang itu maka tamatlah riwayatnya hari ini. Wira, sang ketua kelas, menghampiri Sarah dan menghentikan gadis itu dari aktivitasnya yang nampak sia-sia.

"Ga, Wir! Gue bawa kok! Gue inget semalam udah gue masukin di tas," kata Sarah sambil mengenyahkan tangan Wira dari tasnya.

"Udahlah, Sa! Mau sampe nenek moyang lo bangkit, balik lagi jadi pelaut, ga bakal juga lo temuin bukunya kalo emang lo ga bawa!" seru Ella yang duduk disampingnya.

Hal ini selalu terjadi, namun Sarah biasanya selalu memastikan bahwa kebodohannya ini tidak terjadi di jam pelajaran, bu Nunik. Semua murid tahu konsekuensinya. Selain ceramah panjang bin sadis, tidak boleh mengikuti remedi selama satu semester akan di dapatkan oleh siapapun yang tidak membawa PR. Tentu Sarah tidak menginginkan itu terjadi pada dirinya.

Boro-boro tidak ikut remedi, biarpun dia dapat kesempatan remedi, nilai Matematikanya tetap saja di bawah standar. Konon katanya, wanita tua itu memang menjadi alasan umum banyaknya murid disini tidak naik kelas.

"Lo cuma punya waktu 5 menit buat mikirin gimana cara nyelamatin diri sebelum bu Nunik datang, asal jangan bolos sekolah, lo tau hukumannya bakal lebih parah kalo lo bolos," kata Wira. Sarah diam sejenak. Dia memainkan tali tas ranselnya sambil berpikir. Secara tiba-tiba, gadis itu berdiri dan tersenyum.

"Wah parah! Temen kita halu guys!" pekik Ella sambil menunjuk-nunjuk Sarah.

"Sembarangan!" seru Sarah kesal dengan wajah cemberutnya. Gadis itu kemudian melangkahkan kakinya menuju pintu kelas, hal itu tentu membuat teman-temannya bingung.

"Mau kemana lo, Sa?" tanya Dwi.

"Kan tadi gue ngomong jangan bolos!" Wira ikut menambahkan. Sarah memutar badannya dan menghadap ke arah seisi kelas yang sedang menatapnya bingung.

"Gue ga bolos," ucapnya lugu.

"Jadi lo mau kemana?" tanya Benji.

"Gue mau ke UKS, pusing pala gue, ngantuk, mau bobing dulu."

Ella segera menghampiri gadis itu dan menoyor kepalanya. "Sama aja bolos itu mah namanya, kutil!"

"Engga dong! First, gue masih di lingkungan sekolah. Second, nanti Wira bisa ambil surat ijin gue di UKS sama bu Endang. Jadi, technically, gue ga bolos," balas Sarah dengan enteng.

"Apa lo kata aja dah ya! Ujung-ujungnya pasti gue juga yang ribet! Ntar gue ambil surat ijinnya kalo bu Nunik udah datang. Lo duluan aja kesana cari alasan biar bu Endang percaya kalo lo sakit, soalnya muka lo tu sama sekali ga mencerminkan orang yang lagi sakit," ucap Wira sambil duduk kembali di kursinya.

Sarah pun memberi hormat kepada Wira dan segera pergi keluar kelas menuju UKS dengan berlari sambil sesekali melihat ke sekeliling, memastikan bu Nunik tidak melihatnya.

***

Sarah mengetuk pintu itu sebelum membukanya perlahan dan masuk ke dalamnya. Aroma obat-obatan mulai sampai ke indra penciumannya. Gadis itu mengucapkan salam.

"Permisi, Bu En--" Namun ucapannya terhenti setelah melihat ruangan UKS yang kosong tak berpenghuni.

"Lah bisa banget ya UKS sampe kosong gini? Kalo ada yang tiba-tiba pingsan gimana? Kalo ada yang nyolong obat gimana? Duh, ga bener nih, parah," keluh gadis itu.

Matanya kemudian melirik ke arah timbangan badan. Dengan segera, dia pergi menuju ke tempat benda itu berada. Dia melepas sepasang sepatunya. Pelan-pelan dia menaiki benda itu sambil memejamkan matanya. Setelah itu dia membuka mata dan melihat ke angka yang tertera di timbangan digital itu.

THE ONEHistórias para pegar e não largar. Descubra agora