"Mau tambah wine lagi, Bev?" Tanya seorang bartender pada seorang gadis dihadapannya.
Gadis itu hanya mengangkat tangannya lalu menyembunyikan wajahnya di lipatan tangannya.
"Mau diantar pulang?" Tanya seseorang yang berada disampingnya.
Gadis itu mengangkat kepalanya dan melihat ke orang yang berada disampingnya itu lalu menggeleng.
"Gue bisa sendiri,"
Setelah mengatakan hal itu, gadis itu pun langsung berdiri dan pergi keluar dari club malam itu. Ia berpikir, kalau dia pulang dengan orang yang tadi dalam keadaan seperti ini sama saja mencari mati.
"Bevca," gadis itu menoleh, lalu tersenyum.
Ya, namanya Bevca. Tepatnya Bevca Anatasya.
=•=
Suara decitan sepatu dan bola memantul disertai suara para penonton di atas tribun menggema di ruangan lapangan basket.
Tribun bawah di penuhi oleh siswi-siswi dari kelas satu sampai tiga. Sambil membawa kipas, cermin, dan tak ketinggalan handphone mereka untuk memotret para pemain basket yang cukup, tampan.
"Anjir, itu Raka ganteng banget."
"Fotoin Raka dong, eh itu dia noleh kesini, buruan foto."
"Gantengnya gak manusiawi banget."
Dan banyak lagi celotehan para kaum hawa. Hal itu disebabkan oleh Raka Ferdinant Bagaskara. Siapa yang tidak mengenal Raka? Seorang kapten tim basket SMA Nusa Bangsa yang banyak di kenal di seluruh penjuru sekolah. Entah itu karena ketampanannya maupun karena prestasinya.
Prittt...
Permainan pun selesai, satu-persatu penonton dari atas tribun turun ke bawah dan meninggalkan lapangan.
=•=
"Eh, Bevca sini deh," ucap Abel, sahabat Bevca sejak dulu.
Bevca tidak menghiraukan Abel dan tetap fokus pada handphone dengan earphone ditelinganya.
"Ih . . Bev," Abel pun menarik kabel earphone milik Bevca. Bevca pun melotot sambil berkata,"Nanti rusak, lagian apaan sih? Ganggu aja."
"Coba liat, ini gue baru ngambil foto Raka pas di lapangan tadi," kata Abel sambil menggeser-geser layar ponselnya,"ganteng banget gak sih."
Bevca memutar kedua bola matanya malas,"Lo kayak gak ada topik lain aja, Raka, Raka, Raka, pusing gue dengernya."
"Terus bahas apaan? Club? Kepala lo itu isinya jelek banget sih, mending kepala lo isi pikiran tentang bagaimana cara berkenalan dengan Raka," kata Abel sambil memasukkan ponselnya ke kantong.
Lagi-lagi Bevca tidak menghiraukan perkataan Abel, ia hanya menganggap itu sebuah angin lalu.
"Bel, kantin yuk," ajak Bevca sambil berdiri dan merapikan seragamnya.
"Ye...Pikiran kantin cepet lo."
Bevca hanya mengangkat bahunya, lalu berjalan menuju kantin.
Di sepanjang koridor, banyak yang menyapa Bevca dan Abel, dari perempuan bahkan laki - laki. Bevca dan Abel cukup terkenal di sekolahnya, mungkin karena visual mereka yang cukup, wah.
"Bev, minggu ini jalan yuk," ajak seorang laki - laki seangkatan Bevca dan Abel.
"Sorry, gue gak ada waktu," tolak Bevca halus.
"Lo gimana, Bel?" pandangannya kini beralih pada Abel.
"Job gue banyak," jawab Abel seadanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sang Primadona
Teen Fiction"Jadi pasangan gue pas Olimpiade atau gue sebarin perilaku buruk lo," Bevca Anatasya, sang primadona sekolah yang tidak memiliki perilaku layaknya wanita seperti biasa. Berbeda dengan Raka Ferdinand Bagaskara, the most wanted of school yang memiliki...
