[On-Long Term-Hold] [Semi-Baku]
Based on true story.
Cuma cerita picisan dimana benci berubah jadi cinta.
Dan ketika mereka mengubah kata dari aku dan dia menjadi kita,
Serta merubah segalanya karena nama cinta.
y cambiamos por amor.
dan kami be...
Kerumunan di depan mading adalah hal yang amat sangat langka terjadi di SMA Gaharu. Mading yang terletak dekat dengan ruang kesenian itu adalah tempat yang jarang untuk dikunjungi oleh para siswa dan siswi. Sangat jarang ada hal menarik terpampang di papan yang terlapisi kaca itu. Namun hari ini tempat itu sudah dipenuhi oleh banyak orang yang bahkan beberapa di antaranya rela untuk menyelip sampai terjadi adegan dorong-mendorong yang berujung keributan.
Seorang gadis dengan tas biru langit itu menghembuskan napas. Ia sedari tadi hanya berdiri dengan jarak yang terbilang jauh dari keramaian itu. Lebih baik menunggu saat sudah agak sepi, cari aman itu baik. Lagipula dirinya tidak begitu perduli jika akhirnya ia berujung mendapatkan tempat duduk pada baris belakang di kelas barunya nanti.
Ya, hari ini adalah hari pembagian ruang kelas baru. Dan kejadian setahun sekali inilah yang dapat membuat mading yang biasanya tak dihiraukan hingga berdebu, menjadi tempat yang luar biasa ramai.
"I'm back!"
Gadis bertas biru itu menoleh, mendapati dua orang temannya yang sedang tersenyum sumringah kepadanya. Membuat gadis itu mengangkat alisnya, membuat ekspresi bingung.
"Kita sekelas lagi, Leal!"
Gadis yang dipanggil Leal itu pun tersenyum senang, setidaknya dirinya mendapatkan kelas yang sama dengan salah satu teman dekatnya. Kemudian mengalihkan padangan ke arah sesosok gadis satu lagi. "Lo kelas mana, Rey?"
Gadis yang dipanggil Rey itu menghembuskan napas pelan, kemudian memijat pelipisnya pelan. Kepalanya spontan menoleh ke arah gadis yang sudah berdiri disampingnya. "Gue harus sekelas lagi sama si bantet ini!" serunya kemudian, yang berhasil membuat tawa dua gadis lainnya pecah.
"Kalian itu Upin dan Ipin. Mana bisa terpisah."
Tawa kembali pecah, kemudian saat tak sengaja melihat mading yang mulai sedikit sepi, gadis dengan tas biru itu berjalan mendekat diikuti oleh teman-temannya yang sedang sibuk mengerjai sesama. Dirinya melihat daftar nama-nama siswa di kelas barunya, sebelum matanya berhenti pada satu nama.
"Aleron?" gumam gadis itu spontan.
"Wah, duo Al dapet satu kelas nih."
Ops! Esta imagem não segue nossas diretrizes de conteúdo. Para continuar a publicação, tente removê-la ou carregar outra.
Well, mari kita buat saja survei tentang siapa yang tidak mengenal sesosok Aleron Chevalier Al-Azzam di penjuru SMA Gaharu. Dan siapa pun berani jamin bahwa mereka semua tak ada satu pun yang akan mengatakan bahwa mereka tak mengenalnya.
Sesosok lelaki dengan sejuta degem. Aneh memang, karena bagi sesosok gadis yang saat ini sedang berhadapan langsung dengan seorang Aleron itu, Aleron Chevalier itu tak lebih dari seorang lelaki pengganggu yang amat sangat pemalas yang secara beruntungnya dapat menjadi bagian dari OSIS inti.
Adakah nilai plus untuk lelaki satu ini? Oke, mungkin ada. Tambahkan prestasinya sebagai anggota tim basket inti sekolah, mungkin bisa mentolelir mengapa dirinya menjadi terkenal. Yah, lagi pula olahraga basket memang menjadi salah satu yang terfavorit si SMA Gaharu. Tapi selebihnya, ia hanyalah seorang player kelas kakap yang suka membuat banyak dari para degem-nya sampai-sampai terbawa perasaan.