𝓜𝓪𝓻𝓻𝔂 𝓨𝓸𝓾 𝓗𝓪𝓽𝓲𝓷𝓰 𝓨𝓸𝓾
✨✨✨
"Kita harus membicarakannya!"
Victoria mengalihkan pandangannya yang sedang menyapu sekeliling kamar megah itu kepada pria yang tengah berjalan ke arahnya setelah menutup pintu kamar.
Seraya memiringkan kepalanya, perempuan itu berbicara, "Katakan saja."
"Kau harus mengikuti perkataanku selama berada di mansion ini!" Calder mengatakan kata-kata itu dengan penekanan seraya melepaskan ikatan dasi yang melilit lehernya.
Victoria mengerutkan keningnya, beberapa detik kemudian, ia menjawab dengan senyum sinis "Sorry, sir. I'm not you servant!"
Pria itu mendengus sinis. "Kau telah memiliki nama belakangku, jadi jangan membangkangku!"
Victoria tertawa menyela, membuat telinga Calder merasa kesal mendengarnya. "Kau pikir aku menginginkannya? Aku bahkan lebih sudi memakai nama belakangku dulu."
"Terima saja, Nona, kalau sekarang kau adalah istriku." Calder membalas perkataan Victoria dengan senyum bak iblisnya.
Wanita tersebut menatap Calder garang. "Don't ever mention it!"
Calder mengangkat bahunya acuh, tak memedulikan ucapan perempuan itu.
Pria itu membalikkan tubuhnya lalu berjalan menuju pintu ketika Victoria malah mendengarnya mengumpat kesal.
"Oh, sial!"
Victoria mengernyitkan dahinya. Lalu bertanya dari tempatnya berdiri, tak berniat menghampiri Pria itu.
"Ada apa?"
Calder membalikkan tubuhnya kembali menghadap Victoria, lalu berjalan mendekatinya.
"Apa kau takut kegelapan di ruangan yang besar?" tanya Calder dengan tenang.
Victoria menggeleng sebagai jawabannya.
"Atau apa kau memiliki semacam phobia di dalam ruangan yang terkunci?" tanya Calder kembali.
Victoria mengernyitkan dahinya. Mulai merasa aneh pada pertanyaan pria itu.
"Tidak ada. Kenapa kau menanyakan hal seperti itu?"
Calder mengangkat bahunya, lalu menjawab dengan tenang. "Kurasa Nenekku baru saja mengunci kita berdua di sini."
Victoria memekik keras seraya membeliak. "Apa kau bercanda? Aku tidak mendengar suara pintu yang dikunci."
Calder hanya menjawabnya acuh, seraya berjalan ke arah sofa dan duduk di sana. "Coba saja kalau kau tidak percaya."
Victoria menatap Pria itu dengan kesal. Apalagi dengan sikapnya yang acuh dan malah duduk santai di sofa kamar.
"Kau bisa mendobrak pintu, kan?!"
Calder tertawa sinis mendengar perkataan Victoria. "Kau pikir aku akan menghabiskan tenagaku hanya untuk merobohkan dua pintu itu? Yang benar saja!"
Victoria mendesis kesal, seraya menghentakkan kakinya ke lantai.
"Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang?"
Kali ini, Calder berdiri dari duduknya dan berjalan menuju ranjangnya.
"Kau bukan wanita bodoh. Kau pasti tahu alasan Nenekku mengunci kita berdua di dalam kamar, tepat di malam pernikahan kita."
Victoria terperangah. Dia memang bukan bodoh, tetapi dia sama sekali tak memikirkan alasan itu.
"Kita tidak akan melakukannya!" Victoria berteriak cepat.
Satu alis Calder terangkat. "Kenapa?"
"Ini hanya sebuah pernikahan di atas kertas!"
Calder terkekeh geli mendengar penuturan Victoria. "But, we're legal now! Pernikahan yang kau sebutkan tadi hanya kita yang mengetahuinya. Lagi pula...," calder menghentikan ucapannya sejenak, lalu memandang Victoria dengan geli. "Bukankah, ini memang malam pertama kita?"
Victoria menatap Calder dengan kesal. Pria itu sudah membuat wajahnya memerah.
"Kita tidak akan melakukannya!"
Kini, Calder mendengus seraya menatap Victoria dengan kesal. "Lalu kau pikir, kita berada di dalam sini semalaman hanya untuk berbincang-bincang atau minum teh sampai pagi?"
Namun, Victoria tetap bertahan pada pendiriannya sendiri. "Kita sedang terjebak dan aku tidak sudi melakukannya denganmu!"
Calder mendesis kesal, pria itu melepaskan jas hitamnya dan melempar asal, lalu menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang, sebelum berteriak dengan kesal pada Victoria.
"Fine!"
***
Victoria mengerjapkan mata ketika sinar matahari menerpa indra penglihatannya. Ia benar-benar merasakan tidur nyenyak setelah satu hari yang sangat melelahkan kemarin. Perempuan itu bahkan tidak mau repot-repot untuk melihat jam dinding dan kembali menyelimuti tubuhnya dan berniat kembali tidur.
Sampai ketukan di luar kamar serta suara perempuan yang sedikit nyaring tersebut memanggil dari luar, membuat Victoria membuka mata dan sadar sepenuhnya.
Begitu juga Calder yang berbaring dengan tidak nyaman di sofa, langsung membuka mata dan tersadar sepenuhnya ketika mendengar panggilan neneknya dari luar. Pria itu bangun dengan terburu-buru sembari melepaskan kemeja dan celana panjang nya.
Victoria menatap Calder dengan aneh sekaligus was-was ketika pria itu sibuk melepaskan pakaiannya. "Apa yang kau lakukan?"
"Ini malam pertama kita dan nenekku pasti penasaran dengan hal itu, dia ingin membuktikannya sendiri. Maka itu kita harus berlaku seperti pasangan normal yang sehabis melakukannya."
Calder tidak menghentikan kegiatannya yang tampak sibuk, ia berlari ke arah ranjang dan ikut masuk ke dalam selimut bersama Victoria, menarik perempuan itu untuk bersandar ke dadanya yang polos.
"Kenapa aku juga harus melakukan itu?" Perempuan itu berkata seraya menarik diri.
"Percayalah, nona, kau tidak ingin mendengar nasehat panjang jika menemukan hal yang tidak sesuai dengan keinginannya. Apalagi, jika ia melihat kau memaksa suaminya sendiri untuk tidur di sofa ketika malam pertama."
Victoria memasang wajah kesal namun tidak menggugat balik pernyataan Calder. Ia tampak tak nyaman dengan posisi mereka yang saling bersentuhan dengan kulit polos.
"Kenapa kau tidak membuka pintunya saja daripada melakukan hal bodoh ini?" gerutunya.
"Kau lupa bahwa nenekku yang mengunci kita dari luar?"
Tepat ketika Calder membisikkan perkataannya, bunyi klik terdengar bersamaan dengan pintu yang terbuka dan menampilkan sosok wanita tua, yang menatap kedua insan di atas ranjang tersebut dengan berbinar.
"Oh, ya ampun... Aku lupa bahwa ini adalah malam tersibuk kalian. Tidak seharusnya aku mengganggu di pagi pertama kalian."
Calder dan Victoria menatap wanita tua tersebut dengan senyum canggung. Mata jeli Anne meneliti.
🅴🅻🅴🅶🅰🅽🆃🅸🅽
YOU ARE READING
Marrry You Hating You
Romance[17+] (In Bahasa) Menikah karena paksaan? Sounds Cheesy... Tapi, bagaimana Alexa dan Calder yang dinikahkan karena sama-sama bernasib sial, dan semakin sial ketika mereka mencoba bertahan dari jebakan Nenek berambut gulali demi menyatukan keduanya...
