Never click suspicious links
Reminder: Wattpad will never ask for passwords, payment information, or other sensitive account security details.

Magic!

113 3 0
                                        

Namanya Chaera.

Shin Chaera.

Salah satu siswi yang memiliki rasa iri dengan temannya yang sudah memiliki kekasih.

Setiap hari bahkan setiap waktu dia selalu disuguhkan pemandangan yang membuat hatinya menginginkan. Tak jarang ia mengantarkan temannya untuk menemui kekasihnya. Sedangkan dia hanya sebagai alat pengantar, nyamuk, tidak dianggap ada.

Dulunya Chaera tidak masalah, karena ia tidak terlalu memikirkan masalah percintaan. Namun setelah satu per satu temannya sold out, dia merasa dianggurkan. Yang dulunya selalu berkumpul dengan temannya, sekarang mereka sudah disibukkan dengan laki-laki mereka.

Chaera seperti terbuang karena dia berbeda. Setelah memperhatikan, dia sepertinya mulai tertarik. Penasaran bagaimana rasanya memiliki kekasih. Yang selalu mengantarkan, jalan bersama, dan mengelus rambutnya. Sebenarnya dia tidak tahu persis gaya berpacaran. Dia mengetahuinya karena dia sering melihatnya. Chaera memang polos tentang pacaran.

Tidak sedikit pangeran sekolah di sini, terbilang cukup banyak. Sering Chaera mendapati mereka berkeliaran di sekolahnya, dan sering juga dia memuji ciptaan Tuhan dalam hati. Dan salah satu dari mereka telah menjadi hak milik oleh temannya, menambah iri hatinya untuk segera menyusul.

"Chaera, kapan kau akan sepertiku?" tanyanya dengan nada sedikit mengejek. Sedangkan yang diejek sudah kebal, dia tidak mau menanggapi lebih lanjut. Matanya mengarah ke depan lebih memilih mengabaikan seseorang di sampingnya. "Kau tahu, aku kasihan denganmu. Setiap kali aku dijemput pacarku, kau akan sendirian."

Chaera berdecak tidak suka. "Aku tidak butuh kasihan darimu."

Temannya memahami. Dia sudah biasa menghadapi Chaera yang sensitif dengan pertanyaannya. "Tidak perlu sarkas, Chae. Aku hanya memberi tahumu. Jika kau ingin aku berhenti mengasihani, segeralah cari teman."

Tatapan Chaera berubah sedikit menajam kepada si lawan bicara, sedikit tersinggung dengan apa yang diucapkannya. "Maksudmu aku bukan temanmu, begitu?"

Buru-buru ia menggeleng kuat. "Bukan. Aish! Sepertinya kau sedang datang bulan, ya. Dari tadi kau hanya memikirkan hal negatif tentangku."

Chaera kesal, dia meniup poninya. "Aku tidak ingin punya pacar."

Temannya sudah tidak tahu lagi cara meyakinkan Chaera. Bola matanya berotasi. "Dengar, aku tidak selalu bisa kau ajak menghabiskan waktumu. Karena aku juga punya waktu sendiri, tidak seperti dulu."

Terlihat kepala Chaera menunduk, rambutnya sedikit menutupi wajahnya. Wajahnya serius meski temannya tidak terlalu melihatnya dengan jelas, tapi dia yakin karena Chaera tidak mengucapkan satu kata pun. Perasaannya tidak enak karena mungkin ia sudah melukai hati Chaera. "Mungkin kau berpikir aku ini egois, iya kan?"

Chaera menelan ludah dan sedikit mengangkat wajahnya yang masih serius. "Aku hanya..., ingin."

"Ingin apa?"

Chaera menoleh ke arah temannya perlahan dengan tatapan yang masih sama. "Ingin mengetahui rasanya berpacaran."

Dia tersenyum, bangga karena akhirnya Chaera mau menurutinya.

"Sampai-sampai rela mengabaikan temannya sendiri."

Setelah mengatakan satu kalimat itu, Chaera tidak mengetahui reaksi temannya karena dia langsung mempercepat langkahnya dan meninggalkan temannya. Sedari tadi dia ingin melakukan ini, dia tidak nyaman dengan ucapan temannya. Chaera benar-benar merasa terlupakan. Mereka yang biasanya mengajaknya untuk berseruan menghabiskan waktu, sekarang mengatakan bahwa mereka tidak mempunyai waktu.

HARBINGERStories to obsess over. Discover now