[SUDAH TERBIT]
Setelah satu-satunya orang yang dicintainya masuk rumah sakit, Keisya terpaksa bekerja demi membiayai pengobatannya. Namun, kenakalan sang takdir membuat Keisya harus terus berurusan dengan Devan, siswa tampan sekaligus putra bosnya...
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Begitu ponsel berbunyi, Keisya segera mengambilnya lalu membuka pesan. Sepanjang pagi, dia berharap atasannya akan memberikan kabar baik. Sayang, isi pesan itu justru mematahkan semangatnya.
Hari ini tidak ada event, kamu boleh libur.
Keisya menghela napas sambil memejamkan mata membaca balasan pesan WhatsApp itu. Dadanya berdenyut seolah dipukul palu godam karena sudah pasti tidak akan ada pemasukan gaji apalagi bonus bulan ini. Ketika membuka, netra cokelatnya yang sayu mulai berkaca-kaca. Tangannya sibuk mengepal menahan air mata yang siap membasahi lesung pipitnya.
Kemampuannya belum bisa dimanfaatkan, walau Keisya sudah diterima bekerja paruh waktu. Padahal perusahaan itu bersifat informal dan baru dibangun, tetapi ternyata masih banyak orang yang meragukan kehebatan anak di bawah umur. Tidak hanya mencari kerja yang sulit, tetapi juga saat memulainya. Mengapa anak seusianya selalu dianggap bocah dan disisihkan dalam urusan pekerjaan? Seolah telah menjadi hukum alam saja.
Namun, Keisya yakin jika Tuhan akan tetap memberikan kebaikan. Setidaknya itulah harapan yang dia punya. Lantas, ketua OSIS itu mencoba berdiri tegap, tetapi makin lama dia berada di teras, angin makin berdesir membelai rambut panjangnya. Sudah cukup dia menarik napas panjang untuk ke berapa kali, saatnya masuk kembali ke ruang OSIS.
Pandangan Keisya kosong menatap layar laptop. Jari kuning langsatnya mematung di atas keyboard. Bayang-bayang ikut ambil bagian pada sesi pemotretan di suatu acara megah, membuat dirinya justru makin tersiksa karena semua itu tidak kesampaian. Semangatnya pun luntur untuk mengerjakan proposal.
Kalau dipikir-pikir, apakah ibunya dulu juga kesusahan mencari kerja? Setelah Ayah meninggal, ibunyalah yang selama ini banting tulang demi sesuap nasi. Memang harapan tidak sebanding dengan yang didapat, karena penghasilan ibunya pas-pasan untuk kehidupan mereka berdua.
Ibu, maaf Keisya belum bisa dapat duit.
Keisya tersentak begitu mendengar suara gebrakan pintu terbuka. Seketika dia berdiri dari kursi. Tubuhnya menegang ketika bisa mengenali siapa yang baru masuk. Sosok yang sama sekali tidak dia harapkan kehadirannya di ruangan ini.
Kalau saja pintu kayu itu bisa bicara, mungkin bakal mengumpati pelakunya. Tirai-tirai jendela, bahkan saling melambai seolah mengusir sang biang keributan pergi. Setidaknya, itulah yang dia harapkan.
“Widiih, berani juga lo kabur jam pelajaran.” Cowok yang baru masuk itu menyeringai saat menyadari kehadiran Keisya lalu berbisik, “Kalau mau bolos, mestinya lo bilang sama gue. Gue kasih tau tempat yang seru. Jangan mengumpet sendiri di sini.”
Keisya membuka mulut, bersiap melantangkan suara. Namun, mukanya mendadak pucat saat merasakan kelembapan di belakang roknya. Dengan gelisah, dia mengusap ke bagian belakangnya.